OIE Regional Workshop on Vector Borne Disease in the Asia-Pacific Region

Tanggal 10-11 September 2018 OIE telah mengadakan Lokakarya Regional tentang Penyakit Tular Vektor atau Vektor Borne Disease di Asia  Pasifik, di Incheon Republik Korea. Hadir dalam acara lokakarya regional tersebut sekitar 40 orang dari 25 negara anggota OIE di dunia. Pada kesempatan ini saya dari IPB dapat hadir bersama kolega dari Direktorat Keswan (Drh Puguh Wahyudi Msi) dan Bbalitvet Bogor (Drh. Indrawati Sendow MSc).

Apakah OIE itu? OIE adalah singkatan dari Office International des Epizooties (OIE), merupakan organisasi antar pemerintah yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kesehatan hewan di seluruh dunia. Pada tahun 2010 tercatat yang menjadi anggota OIE sebanyak 178 negara. Dengan kata lain, OIE setara dengan WHO yang bertanggung jawab menangani kesehatan manusia di seluruh dunia.

Lokakarya regional ini dilatarbelakangi oleh kenyataan pentingnya menghadapi masalah penyakit tular vektor di berbagai belahan dunia. Penyakit yang ditularkan melalui vektor  atau dikenal dengan Vector Borne Diseases (VBD) merupakan ancaman besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia dan hewan, ketahanan pangan dan perdagangan, serta upaya pengentasan kemiskinan. Saat ini, diperkirakan tercatat sebanyak lebih dari 17% dari semua penyakit menular adalah penyakit tular vektor (VBD),  dan juga diperkirakan bahwa 25% dari penyakit baru dan yang baru muncul (emerging/reemerging disease)adalah penyakit tular vektor.

Distribusi, transmisi, wabah dan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor tidak selalu mudah dimengerti dengan baik karena mungkin melibatkan banyak inang (host) yang diserang dan keberadaan vektor sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan iklim. Perjalanan global baik manusia maupun hewan juga dapat memainkan peran dalam menyebarkan penyakit jauh di luar distribusi alami mereka. Banyak anggapan juga yang menyatakan bahwa penyakit yang ditularkan vektor sebagai penyakit tropis, meskipun anggapan ini tidak lagi sesuai. Hubungan antara lingkungan, vektor, spesies inang dan patogen semua perlu dipertimbangkan untuk memahami epidemiologi penyakit ini dan pada gilirannya digunakan sebagai dasar dalam mengendalikannya.

Dalam rangka upaya pemahaman yang komprehensif, OIE mengadakan Lokakarya Regional Penyakit Tular Vektor di Wilayah Asia-Pasifik di Incheon Republik Korea. Lokakarya bertujuan menyediakan platform untuk diskusi tentang isu-isu terkini tentang penyakit tular vektor (VBD), tantangan dan upaya-upaya untuk masa depan, sambil memperkuat koordinasi dan kolaborasi multi-sektoral dan internasional. Seminar Regional OIE tentang Penyakit Tular Vektor di Wilayah Asia-Pasifik ini dilaksanakan berkat dukungan dana dari Pemerintah Republik Korea.

Anggota diundang untuk berbagi pengalaman dan pelajaran mereka dalam pengawasan, pencegahan dan pengendalian penyakit yang ditularkan melalui vektor serta mendengar informsi terbaru tentang penyakit tular vektor dari para ahli yang bekerja di lapangan. Hasil lokakarya ini berupa point-point skala prioritas yang berhasil diidentifikasi selama lokakarya dan respon regional terhadap ancaaman penyakit tular vektor (VBD).

(Dilaporkan oleh Upik Kesumawati Hadi sebagai perwakilan dari Institut Pertanian Bogor, September 2018)

Tulisan dalam PDF dan foto-foto kegiatan: OIE Regional Workshop on Vectorborne Diseases in Asia Pacific

 

Categories: Profesi Dokter Hewan | Tags: , , | Leave a comment

Pemalang: Nasi Grombyang

Pertama kali mendengar Nasi Grombyang yaitu saat menghadiri pesta pernikahan seorang sahabat suami di Pemalang. Di salah satu gubuk hidangannya tertulis Nasi Grombyang,  dengan penasaran saya menanyakan kepada penjaganya… Oh ini nasi khas kota Pemalang. Saya pun mencobanya satu mangkok kecil…oh ..seperti rawon karena kuahnya berwarna hitam.  Saya jadi teringat ada juga Nasi Gandul di Juwana Pati yang agak mirip rasanya.

Seorang kenalan bahkan menganjuran ke warungnya Pak H. Warso yang terkenal di Pemalang. Dan akhirnya kami menemukannya dan rupanya Nasi Grombyang Pak H Warso menjadi satu tujuan kuliner yang paling laris disini. Penampilan nasinya yang penuh kuah panas, memang sangat menggoda selera.  Kuahnya mirip dengan kuah rawon, tetapi lebih encer. Tampaknya sama-sama berbahan dasar kluwek tetapi pada Nasi Grombyang ini bumbu rempahnya lebih terasa dan gurih dengan aroma khas kelapa sangrai. Di meja juga tersedia kecap dan sambel cabe rawit serta Sate Kerbau. Sate kerbau yang disajikan berupa daging yang dibumbui dan diungkep kemudian ditusuki seperti sate. Rasanya sedikit manis dan lembut di lidah. Wach pokoknya nikmat……..Untuk ukuran bapak-bapak tidak cukup satu porsi, tetapi dua porsi….

h warso nasi grombyang

Inilah si pemilik warung ..H Warso

 

Tulisan lengkap silakan lihat dalam tulisan PDF: Pemalang Nasi Grombyang

Categories: Laporan Perjalanan | Tags: , | Leave a comment

Pemalang: Curug Sibedil

Saat berkunjung ke Pemalang penulis mencoba mencari informasi daerah wisata yang layak dikunjungi dari resepsionis di sebuah hotel tempat  kami menginap. Curug Sibedil merupakan satu tempat yang direkomendasikannya. Oleh karena itu kami berjalan  mengikuti petunjuk yang diberikannya.

Dari hotel kami mencari arah menuju Pasar Randudongkal, lalu dari perempatan kami berjalan lurus ke arah Moga. Sesampai  di daerah Moga, belok ke kanan lurus berjalan sekitar 5 km menuju Desa Sima Kecamatan Moga dan letak Curug Sibedil ada di arah kanan.  Kami berjalan kaki untuk mencapai curug, melewati perumahan penduduk, melewati jembatan yang airnya deras jernih, melewati jalan kecil yang cukup asri dikelola oleh penduduk sekitar. Terus jalan menurun menuju curug dengan tangga-tangga tanah yang juga asri buatan penduduk sekitar.

Sesampai di bawah kami melihat panorama Curug Sibedil sungguh luar biasa sejuk. Air yang tercurah dari curug yang tingginya hanya sekitar 15 meter ini memberikan suasana menyegarkan bagi siapapun yang dating mengunjunginya. Curug Sibedil ini tidak sendirian tetapi di samping- kiri dan kanannya ditemani pancuran-pancuran air kecil yang menambah keindahan Curug Sibedil. Suara gemericik air menyentuh bebatuan di kolam penampungan, ditambah hijaunya pepohonan di sekitar lokasi air terjun sungguh menjadi tujuan tepat untuk relaksasi…

Tulisan dan gambar lengkap silakan lihat dalam PDF: Pemalang Curug Sibedil

 

Categories: Laporan Perjalanan | Tags: , | Leave a comment

Eid Mubarok 1 syawal 1438 H

SELAMAT IDUL FITRI 1 Syawal 1438 H.

🌴🐫🌴🐫🌴🐫🌴🐫🌴

*تَقَبّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنكُم صِيَامَنَا وَصِيَامَكُم*
_Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian, puasa kami dan puasa kalian._

أمِينْ يَا رَبَّ العاَلَمِين

*Do’a Kami*

اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنَا مَرْحُوْمًا وَلاَ تَجْعَلْنَا مَحْرُوْمًا

_Ya Allah, janganlah Kau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai Bulan Ramadhan terakhir dalam hidup kami. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhir kami, maka jadikanlah kami sebagai orang yang Engkau rahmati. Jangan Engkau jadikan kami terhalang memperoleh rahmatMu._

يا واسعَ المغفرةِ اِغفِرْ لَنا ذُنوبَنا وَلِوالدينا ولمَن له حَقٌّ عَلينا

_Wahai Dzat yg Maha luas ampunanNya, ampunilah seluruh dosa-dosa kami, dosa ibu bapak kami dan dosa orang-orang yg km cintai d sayangi karenaMu, ya Rabb….

Selamat merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1438 H.

*Mohon Maaf Lahir dan Bathin Atas Segala Salah dan Khilaf*

🌴🐫🌴🐫🌴🐫🌴🐫🌴

Upik Kesumawati H dan Keluarga

Categories: Laporan Kegiatan | Tags: , | Leave a comment

Determinasi strain larva Aedes aegypti (Linn) rentan homozigot dengan metode seleksi indukan tunggal

Determinasi strain larva Aedes aegypti (Linn) rentan homozigot dengan metode seleksi indukan tunggal

Isfanda, Upik Kesumawati Hadi, Susi soviana

PS Parasitologi dan Entomologi Kesehatan  SPS IPB Bogor

Jurnal Variasi, vol 8 no 1 hal 1-8 Desember 2016

 

Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan Ae. aegypti strain Laboratorium yang rentan homozigot dengan metode seleksi indukan tunggal. Penelitian ini bermanfaat sebagai informasi dasar status kerentanan Ae. aegypti koloni Laboratorium terhadap beberapa jenis insektisida. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor mulai dari bulan Desember 2013 sampai bulan April 2014.

Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Persamaan regresi antara waktu kontak dengan mortalitas dibuat untuk mengetahui status kerentanan populasi nyamuk yang diuji terhadap insektisida. Analisis kerentanan setiap sampel kandang akan ditentukan berdasarkan pada persentase kematian larva dan dewasa dengan menggunakan uji statistik regresi dan analisis probit.

Nyamuk Ae. aegypti F97 dewasa strain insektarium diambil secara acak. Setiap satu pasang indukan nyamuk dewasa dipisahkan ke dalam kandang yang berbeda dan diberi makan darah marmut untuk menghasilkan telur F0. Satu kertas saring telur Ae. aegypti yang berasal dari satu indukan nyamuk ditetaskan dalam nampan plastik yang berisi satu liter air. Telur yang telah menetas menjadi larva diberi makanan berupa tepung hati ayam dan cat food (1:1) yang telah dihaluskan. Suhu rata-rata ruangan berkisar antara 20oC-28oC dengan kelembaban 88%-90%. Insektisida yang digunakan untuk pengujian larva nyamuk yaitu Malation 97%, Propoksur 93.86% dosis 1 ppm, 0.001 ppm, 0.0005 ppm, dan Sipermetrin 98.84% dosis 0.001 ppm, 0.0005 ppm, 0.00025 ppm. Untuk pengujian nyamuk dewasa menggunakan kertas berinsektisida (impregnated paper) Malation 0.8%, Bendiokarb 0.1%, dan Deltametrin 0.025%.

Uji ini menggunakan masing-masing 25 larva instar III dimasukkan ke dalam campuran insektisida dengan tingkatan konsentrasi masing-masing dosis. Pengamatan mortalitas larva dimulai dari menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60 dan 24 jam setelah kontak. Pengujian terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan impregnated paper dan tabung WHO test kit. Pegujian masing-masing menggunakan 25 ekor nyamuk betina dewasa yang telah kenyang air gula. Pengamatan mortalita selama satu jam dan diamati mulai dari menit ke 10, 20, 30, 40, 50, dan 60. Setelah kontak selama 60 menit, nyamuk dipindahkan kembali ke dalam kandang dan beri air gula 10% untuk pengamatan mortalitas setelah 24 jam. Status kerentanan ditentukan berdasarkan presentase kematian. Apabila kematiannya dibawah 80% dinyatakan resisten, antara 80%-97 % dinyatakan toleran, dan antara 98%-100% dinyatakan rentan. Status resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida diukur dengan perhitungan analisis regresi probit yang dinyatakan dalam waktu kematian (LT) dan rasio resistensi (RR).

Hasil uji kerentanan larva Ae. aegypti terhadap Malation dosis 0.001 ppm dan 0.0005 ppm menunjukkan niai RR yang fluktuatif pada setiap generasi, tetapi pada dosis 1 ppm angka kematian stabil dengan angka RR 1.0. Generasi F4 dan F5 memiliki fenotip yang sama. Hasil uji kerentanan larva Ae. aegypti terhadap propksur dosis 1 ppm, 0.001 ppm dan 0.0005 ppm pada generasi F2 dan F3 belum terbentuk fenotip yang sama. Sedangkan generasi F4-F5 mulai terbentuk fenotip yang sama dengan nilai RR 1.0. Uji kerentanan larva Ae. aegypti terhadap sipermetrin berbeda dengan hasil uji yang dilakukan terhadap Malation dan propoksur. Keserentakan fenotipenya menunjukkan hasil yang baik pada setiap konsentrasi dengan terbentuknya nilai RRLT50 1.0 pada setiap dosis (F4-F5).

Berdasarkan hasil persentase mortalitas nyamuk Ae. aegypti yang diuji dengan Malation terhadap generasi F2-F5 menyatakan adanya perbedaan kenaikan angka kematian setelah 24 jam (31.07%) pada generasi F4 dengan nilai RRLT50 0.9 dan RRLT95 0.8 pada F4. Sedangkan untuk generasi F5 menjadi pembanding untuk nilai rasio resistensi. Persentase kematian nyamuk Ae. aegypti dewasa yang di paparkan dengan insektisida Bendiokarb setalah 24 jam mencapai 28% pada generasi F5. Nilai RRLT50 0.9 dan RRLT95 1.0. Hasil ini menyatakan bahwa sudah terbentuknya kerentanan yang hampir sama antar generasi. Nilai RR50,95 nyamuk Ae. aegypti yang dipaparkan Deltametrin 0.025% pada F2-F3 belum terbentuk fenotip yang sama. Sedangkan pada Generasi F4 telah mengalami kerentanan yang sama menunjukkan nilai RR 1.0 dengan angka mortalitas setelah 24 jam 94.13%.

Nilai rasio resistensi Larva Ae. aegypti menggunakan Malation, Propoksur dan Sipermetrin pada generasi F2 dan F3 lebih rendah daripada F4. Terbentuk Larva Ae. aegypti yang rentan terhadap ketiga jenis insektisida setelah generasi F4. Generasi F2-F4 Ae. aegypti dewasa belum terbentuk kerentanan terhadap Malation 0.8% dan Bendiokarb 0.1%. Kesamaan fenotip Ae. aegypti rentan terhadap Deltametrin 0.025% mulai terbentuk pada generasi F4. Untuk mendapatkan nyamuk Ae. aegypti yang rentan secara homozigot perlu dilakukan pemeliharaan  dan pengujian secara berkelanjutan.

Kata Kunci: Aedes aegypti, insektisida, seleksi indukan tunggal

FULL PAPER IN PDF: Determinasi Strain Larva Aedes aegypti (Linn) Rentan Homozigot Dengan Metode Seleksi Indukan Tunggal

Categories: Abstrak dan Artikel ilmiah | Tags: , , | Leave a comment

FAKTOR ENTOMOLOGI TERHADAP KEBERADAAN LARVA AEDES SPP. PADA DAERAH ENDEMIS DBD TERTINGGI DAN TERENDAH DI KOTA BOGOR

 

FAKTOR ENTOMOLOGI TERHADAP KEBERADAAN LARVA AEDES SPP. PADA DAERAH ENDEMIS DBD TERTINGGI DAN TERENDAH DI KOTA BOGOR

Evi Sulistyorini, Upik Kusumawati Hadi, Susi Soviana

The Indonesian journal of Public health, MKMI

http://journal.unhas.ac.id/index.php/mkmi/login?source=%2Findex.php%2Fmkmi%2Farticle%2Fview%2F1071%2F664

http://www.portalgaruda.org/

indexing: google scholar, ISJD, IPI, Terakreditasi DIKTI

 

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Kasus DBD di Kota Bogor tahun 2015 yang tertinggi berada di Kelurahan Baranangsiang 62 kasus dan terendah di Kelurahan Bojongkerta 0 kasus. Jenis penelitian ini observasi deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Sampel 100 rumah di Baranangsiang dan 100 rumah di Bojongkerta. Tujuan penelitian untuk menentukan kepadatan populasi jentik, mengidentifikasi spesies jentik Aedes sp. dan karakteristik habitat terhadap keberadaan jentik pada kasus DBD tertinggi dan terendah di Kota Bogor. Berdasarkan perhitungan House indexBreteu indexContainer index dan Density figure di Baranangsiang (CI: 17,4%; HI: 33%; BI:42%; DF:5%) dan di Bojongkerta (CI:23,2%; HI:42%; BI:54%; DF:6%). Kesimpulan penelitian di Baranangsiang mempunyai risiko penularan DBD pada tingkat sedang dan di Bojongkerta mempunyai risiko penularan DBD pada tingkat tinggi berdasarkan kepadatan vektornya. Hasil analisis dengan binary logistic regression hanya faktor tidak dikuras (sig=0,000; OR=116,44) yang berpengaruh dan berisiko 116,44 kali terhadap keberadaan jentik di Baranangsiang, sedangkan di Bojongkerta faktor jenis (sig=0,000; OR=12,32), letak (sig=0,001; OR=0,25) serta bahan kontainer (sig=0,000; OR=0,24) yang paling berpengaruh (jenis TPA berisiko 12,32 kali, letak di dalam rumah berisiko 0,21 kali, bahan semen/karet/tanah berisiko 0,24 kali) terhadap keberadaan jentik. Saran yang direkomendasikan adalah kegiatan menguras kontainer perlu diintensifkan di Baranangsiang sedangkan pemantauan terhadap kontainer yang digunakan terhadap keberadaan jentik perlu dilakukan secara rutin di Bojongkerta.

Kata kunci: Entomologi, DBD, Aedes sp., kepadatan jentik

 

Categories: Abstrak dan Artikel ilmiah | Tags: , , , | Leave a comment

Analisis Pengendalian Malaria Di Provinsi Nusa Tenggara Timur Dan Rencana Strategis Untuk Mencapai Eliminasi Malaria

Analisis Pengendalian Malaria Di Provinsi Nusa Tenggara Timur Dan Rencana Strategis Untuk Mencapai Eliminasi Malaria

Ivan Elisabeth Purba, Upik Kesumawati Hadi, Lukman Hakim

http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/spirakel/article/view/6164

DOI : 10.22435/ spirakel.v8i2.6164.18-26

Correspoding Authors:  upikke@ipb.ac.id

Abstract

East Nusa Tenggara (NTT) Province is the largest contributor for malaria positive cases in Indonesia in 2014 after Papua. This study aims to analyze the malaria situation in NTT, subsequently taken into consideration for the preparation of a strategic plan to achieve the elimination of malaria in the region. Malaria case data, figures on SPR (Slide Positivity Rate), the rate of API (Annual Parasite Incidence), and Plasmodium species derived from the entire districts and cities of the NTT province. Data were collected from 2009 – 2014. The data were analyzed qualitatively or descriptive analysis. The results showed the current number of API malaria in NTT has tended to decline from 27.86 per 1000 population in 2009 to 12.81 per 1000 population in 2014. This decrease was also seen in figures of the SPR in 2009 decreased from 40.98 % to 20.09 % in 2014. Based on data from malaria per district, as many as five districts / cities (i.e. Manggarai, TTU, Kupang, East Manggarai and Ngada) showed already reached the stage of pre-elimination (SPR <5%). In addition, as many as 3 districts / cities (i.e. Manggarai, East Manggarai and Kupang) has reached the stage of elimination (API <1 per 1000 population). Target of malaria elimination in NTT (2030) can be achieved when the discovery of malaria cases, such as the enhanced efforts in intensification and extension, followed by improvement of malaria case management and vector control.

Keywords: Malaria, elimination, case management, vector control, East Nusa Tenggara
Abstrak

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk daerah malaria penyumbang terbanyak kasus positif malaria di Indonesia pada tahun 2014 setelah Papua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis situasi malaria di Provinsi NTT, selanjutnya menjadi bahan pertimbangan untuk penyusunan rencana strategis dalam tercapainya eliminasi malaria di wilayah ini. Data kasus malaria, angka SPR (Slide Positivity Rate), angka API (Annual Parasite Incidence), jenis Plasmodium dan lainnya diperoleh dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi NTT. Data dikumpulkan dari tahun 2009-2014. Analisis data dilakukan secara kualitatif atau deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan saat ini angka API malaria di Provinsi NTT sudah cenderung menurun dari 27,86 per 1000 penduduk pada tahun 2009 menjadi 12,81 per 1000 penduduk pada tahun 2014. Penurunan ini juga terlihat pada angka SPR pada tahun 2009 menurun dari 40,98% menjadi 20,09% pada tahun 2014. Berdasarkan data malaria per kabupaten, sebanyak 5 kabupaten/kota (yaitu Manggarai, Timor Tengah Utara, Kupang, Ngada dan Manggarai Timur) menunjukkan sudah mencapai tahap pre eliminasi (SPR < 5%). Selain itu, sebanyak 3 kabupaten/kota (yaitu Manggarai, Manggarai Timur dan Kupang) sudah mencapai tahap eliminasi (API < 1 per 1000 penduduk). Target eliminasi malaria di NTT (2030) dapat dicapai apabila penemuan kasus malaria, seperti upaya intensifikasi dan ekstensifikasi ditingkatkan, diikuti dengan perbaikan penatalaksanaan kasus, dan pengendalian vektor.

Kata Kunci: Malaria, eliminasi, penatalaksanaan kasus, pengendalian vektor, Nusa Tenggara Timur

Correspoding Authors:  upikke@ipb.ac.id

FULL PAPER IN PDF: Analisis Pengendalian Malaria Di Provinsi Nusa Tenggara Timur Dan Rencana Strategis Untuk Mencapai Eliminasi Malaria

 

Categories: Abstrak dan Artikel ilmiah | Tags: , , , , | Leave a comment

Tugu Kilometer 0 Indonesia Bagian Timur

Betapa bahagianya penulis, setelah setahun yang lalu dapat mengunjungi tugu kilometer 0 Indonesia Bagian Barat, pertengahan  Juni 2015 yang lalu penulis mendapat kesempatan berkunjung ke tugu titik 0 Indonesia Bagian Timur dan perbatasan Indonesia-Papua Nugini di distrik Sota Merauke, Papua.

Ketika penulis berada di tempat ini, penulis baru merasakan betapa luasnya negeri tercinta NKRI ini, dari ujung barat di Sabang sampai ke ujung timur di Merauke. Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan berkali-kali ketika dapat mengunjungi titik 0 Indonesia bagian Timur. Saat itu penulis dalam perjalanan dinas supervisi Riset Khusus Vektor dan Reservoar Penyakit yang satu di antaranya mengambil titik di Merauke.

Titik 0 tersebut berada di distrik Sota, yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar dua jam dari Merauke. Kami melewati hutan alam yang masih asri, hutan lindung (Taman Nasional Wasur) yang banyak ditumbuhi Musamus (mereka menyebutnya sarang semut), dan sepanjang taman nasional ada sungai yang menjadi tempat bermain anak-anak setempat. Di sebelah sungai tampak juga bivak-bivak penduduk asli Merauke, yang kalau diberi salam dan senyum dari jauh mereka senang sekali.

Setelah melewati hutan alam tersebut sampailah kami di distrik Sota yang sunyi dan jauh dari keramaian. Di tengah-tengah sebelum belok menuju titik nol, terlihat Tugu Perbatasan yang dijaga oleh polisi perbatasan. Pos polisi ini cukup asri, dan para penjaga dengan tenang menjaga keamanan lintas negara antara Indonesia dan Papua Nugini. Di sini sangat aman sekali, masyarakatMerauke mempunyai Motto dalam bahasa Papua yaitu Izakod Bekai, Izakod Kai yang dalam bahasa Indonesia berarti Satu Jiwa Satu tujuan.

Begitu sampai di titik nol kami disambut oleh seorang Polisi setia bernama Ipda Ma’ruf yang telah menjaga perbatasan sekaligus merawat taman di lingkungn tugu titik yang sangat penting bagi NKRI. Taman di sekitar tugu dinamakannya Taman Merah Putih. Beliau sehari-hari berpakaian polisi menunjukkan kesetiannya terhadap profesi yang diembannya. Di tugu tertulis angka-angka yang merupakan letak geografis, yang perhitungannya dilakukan oleh Tim Survey Indonesia-Australia.

Di sekitar titik tersebut kita dapat menyaksikan juga Musamus yang tingginya mencapai 4 meter dengan dimeter cukup besa dan terjaga dengan baik. Suara alam seperti burung terdengar di kejauhan, dan tidak jarang burung-burung indah datang dengan nyaman di sekitar taman tersebut. Tidak sedikit juga penduduk Papua Nugini yang berlalu lalang di sekitar perbatasan, dan umumnya mereka menyeberang untuk mencari bahan keperluan sehari-hari.

Di sekitar titik nol tersebut juga ada warung souvenir yang menjual minyak kayu putih, madu asli, tas noken, sirih, pinang dan buah serta sayur khas merauke. Saya berhasil membuat tersenyum mamak-mamak di warung karena membeli beberapa botol minyak katu putih yang katanya asli dan bagus. Terima kasih ya Allah, telah kau izinkan hambaMu untuk mengunjungi Indonesiaku tercinta di ujung timur. Dari Sabang sampai Merauke telah kulangkahkan kaki ini….Alhamdulillah ya..mujiibassailiin.  (Ditulis oleh Upik Kesumawati Hadi, Staf Dosen di PS Parasitologi dan Entomologi kesehatan Sekolah Pascasarjana IPB Bogor).

TULISAN DALAM PDF: Tugu Kilometer Nol Indonesia Bagian Timur

Tugu kembar Sabang-Merauke

Tugu kembar Sabang-Merauke

Titik Geografis

Titik Geografis

Gerbang Penjagaan

Gerbang Penjagaan

Titik Geografis titik O

Titik Geografis titik O

Tim survey Indonesia -Australia

Tim survey Indonesia -Australia

Bertemu dengan tim BIG

Bertemu dengan tim BIG

IPDA Ma'ruf Penjaga Setia Perbatasan Timur

IPDA Ma’ruf Penjaga Setia Perbatasan Timur

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , , , , | Leave a comment

Tugu Kilometer 0 Indonesia Bagian Barat

Perjalanan ke Aceh pada bulan Juli- Agustus 2014 membawa penulis dan keluarga ke titik 0 wilayah Negara Kesatuan Indonesia di Bagian Barat. Kami berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheu di Banda Aceh pukul 9.45 menuju Sabang di Pulau Weh menggunakan Kapal Roro yang dikemudikan sendiri oleh Paman kami, Om Surya Buana dan mendarat di Pelabuhan Balohan, Sabang pukul 10.30. Pasti orang-orang sudah tahu bahwa Sabang berada di Pulau Weh, yang merupakan pulau di bagian ujung Indonesia di sebelah barat.

Dari pelabuhan kami menggunakan mobil sewaan menuju tempat penginapan yang terletak di pinggir pantai. Kami menginap semalam di Tuna Paradise Resort House untuk menikmati pantai dan suasana Kota Sabang. Sabang merupakan kota yang sangat unik, karena disini kita dapat melihat mobil-mobil mewah eks Singapura di jalan dan digunakan sehari-hari oleh masyarakat sekitar untuk beraktivitas.  Mobil-mobil tersebut diperjual belikan hanya di kota ini, dan digunakan di sini saja, serta tidak boleh keluar dari Sabang.

Setelah check in di tempat kami menginap, kami berjalan menuju lokasi Tugu Nol Kilometer. Tugu ini merupakan penanda letak Indonesia dari ujung sebelah Barat. Perjalanan menuju tugu ini cukup jauh, seakan kita mengelilingi Pulau Weh, melalui jalan-jalan yang sepi, melewati bukit dan tepi laut dengan pemandangan yang indah. Di tepian jalan kita dapat berhenti sejenak melihat teluk Sabang yang cantik dengan Pulau Klah di tengahnya. Selain itu di jalan ini yang terletak di perbukitan dengan hutan alam kita dapat berhenti mengambil foto-foto dan dapat pula menyaksikan banyak monyet yang bebas berkeliaran. Suasana alam yang masih asri dan asli, suara -suara burung, dan sepinya kendaraan membuat perjalanan menuju ke Titik Nol Indonesia, menimbulkan sensasi cinta tanah air yang luar biasa.

Dan akhirnya sampailah kami di titik nol terbarat Indonesia. Disini terlihat adanya Tugu Nol Kilometer. Tugu ini berdiri di kawasan hutan dan pinggir lautan Hindia nan luas. Di kawasan Wisata Tugu Nol Kilometer, terdapat sebuah papan petunjuk dengan latar belakang berwarna biru terlihat oleh siapapun yang telah mencapai wilayah ini. Di depan tugu juga terdapat tulisan KILOMETER O INDONESIA yang terbuat dari beton cor dengan cat berwarna merah muda, lalu di bagian bawahnya juga terdapat lantai beton sehingga memudahkan pengunjung untuk naik dan berfoto disini.

Monumen Tugu Nol kilometer merupakan bangunan menara berbentuk silinder dengan tnggi 22,5 meter, dan puncaknya terdapat Garuda Panca Sila.  Pengunjung dapat menaiki tangga keramik putih dengan penyangga bewarna biru muda menuju ke lantai atas dan bisa melihat laut lepas, serta menyaksikan kawanan monyet yang menghuni hutan di sini. Anda juga dapat melihat sebuah prasasti yang berisi informasi mengenai lokasi geografis tempat ini (05”Lintang Utara dan 95 “ Bujur Timur) dan ditandatangani oleh Menristek B. J. Habibie di Sabang pada 24 September 1997. Selain itu, di bagian bawah tugu, terdapat lagi sebuah prasasti yang ditempelkan di dinding yang bertuliskan peresmian tugu ini oleh Wakil Presiden Try Sutrisno, dan ditandatangani di Banda Aceh pada tanggal 9 September 1997.

Kawasan ini hanya ramai dikunjungi orang saat hari libur. Disini kita dapat menikmati kelapa muda yang segar sambil sebentar beristirahat dan memandang lautan lepas Hindia. Suasana damai karena sekelilingnya tidak ada permukiman, hanya hutan lebat dan laut yang ada. Saat ini cukup banyak kedai-kedai kecil menjual yang menjual cenderamata khas Sabang seperti  T-Shirt, tas, gantungan kunci dan lain-lain.

Saat ini pengunjung tugu kilometer 0 dapat mengurus sertifikat bukti dan kenang-kenangan bahwa telah tiba di Nol Kilometer Wilayah NKRI. Sertifikat ini ditandantangani oleh Walikota Sabang dan disebutkan di dalamnya bahwa anda adalah pengunjung yang ke sekian. Menarik bukan?

Setelah selesai mengunjungi monumen, kami berfoto-foto, menikmati kelapa muda dan pemandangan laut lepas, belanja souvenir, perjalanan selanjutnya menuju Pantai Iboih dan Pulau Rubia. (Upik Kesumawati Hadi, kelahiran Banda Aceh, bermukim di Bogor dan bekerja di Fakultas Kedokteran Hewan IPB).

Tulisan dalam PDF: Tugu Kilometer O Indonesia Bagian Barat

Titik 0 Sabang

Titik 0 Sabang

Bersama keluarga...

Bersama keluarga…

 

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , , | Leave a comment

Blue light 2017

Setiap 2 April para pemerhati autisme di berbagai belahan dunia memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia dengan cara unik untuk menggugah dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak penyandang autis. Tahun ini peringatan tersebut diselenggarakan dengan tema Light it Up Blue, dengan menyorotkan cahaya warna biru pada ikon kota Bogor, yaitu Tugu Kujang dan Lawang Salapan..

Warna biru adalah warna simbol Hari Kepedulian Autisme sedunia. Secara psikologis warna biru memberikan efek ketenangan, memperlambat metabolisme tubuh sehingga bisa menurunkan ketegangan tubuh; warna biru adalah lambang stabilitas dan ketenangan; dan warna biru memiliki gelombang tinggi setelah violet. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak penyandang autis mempunyai gelombang energi warna biru yang dominan.

Hingga saat ini penyebab autisme belum diketahui dengan pasti dan empati masyarakat terhadap anak-anak penyandang autis masih kurang. Masih banyak yang belum memahami cara mendidik, memperlakukan, dan membesarkan anak penyandang autis. Oleh karena itu Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto yang turut hadir bersama para pemerhat anak-anak penyandang autis, mengajak warga Kota Bogor untuk meningkatkan kepeduliannya kepada anak-anak autis, menempatkan anak-anak tersebut di sekolah dan di lingkungannya dengan baik.  (Upik Kesumawati Hadi FKH IPB Bogor)

Tulisn dalam PDF: Blue light 2017

Blue light Lawang Salapan Bogor

Blue light Lawang Salapan Bogor

Tugu Kujang Bogor dan Pemerhati Autis

Tugu Kujang Bogor dan Pemerhati Autis

 

Categories: Laporan Kegiatan, Peduli Autis | Tags: , , , , | Leave a comment