Keanekaragaman jenis dan perilaku menggigit vektor malaria (Anopheles spp.) di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur

Ety Rahmawati, Upik Kesumawati Hadi, Susi Soviana. Keanekaragaman jenis dan perilaku menggigit vektor malaria (Anopheles spp.) di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (Species diversity and biting activity of malaria vectors (Anopheles spp.) in Lifuleo Village, West Kupang District, East Nusa Tenggara)

Jurnal Entomologi Indonesia. September 2014, Vol. 11 No. 2, 53–64; Online version: http://journal.ipb.ac.id/index.php/entomologi; DOI: 10.5994/jei.11.2.53

Abstract:  Malaria is a preventable and treatable mosquito-borne diseases, whose main victims are children and pregnant women. Indonesia is the second most affected region in South East Asia and has the the highest malaria burden after India. The research was aimed to study the species diversity and biting activity of malaria vectors (Anopheles spp.) in Lifuleo Village, West Kupang District, Kupang Regency, East Nusa Tenggara Province. The mosquitoes was collected by using (1) the human landing collection technique, (2) aspirators for collecting mosquitoes resting on the wall of houses and cow barn, and (3) light traps. The research was done for four months. The result showed that there were six species of Anopheles i.e., An. barbirostris, An. subpictus, An. annularis, An. vagus, An. umbrosus and An. indefinitus. An. barbirostris and An. subpictus were two species with the highest density. The value of man hour density (MHD) indoor and outdoor for An. barbirostris were 5.45 and 6.23 respectively, and for An. subpictus were 1.35 and 1.56, respectively. The blood sucking activity indoor and outdoor for An. barbirostris occured at 22:00 to 4:00 and 21:00 – 04 respectively, whereas for An. subpictus at 8:00 p.m. to 21:00 and 22:00 to 23:00, respectively. Based on the value of man hour density the mosquito Anopheles spp. in Lifuleo village were exophagic and exophilic.

Key words: Anopheles barbirostris, Anopheles subpictus, exophagic, exophilic, Indonesia

Abstrak: Malaria adalah penyakit yang dapat dicegah dan diobati, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk dengan korban terbanyak adalah anak-anak dan wanita hamil. Indonesia adalah negara kedua yang terbanyak memiliki penderita malaria di Asia bagian selatan, setelah India. Penelitian ini dilakukan selama empat bulan, dan bertujuan memelajari keanekaragaman jenis dan perilaku menggigit vektor malaria (Anopheles spp.) di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penangkapan nyamuk dilakukan dengan tiga cara, yaitu (1) penggunaan teknik human landing collection, (2) penangkapan nyamuk yang hinggap di dalam rumah dan di kandang sapi, dan (3) pemakaian perangkap cahaya (light trap). Hasil penelitian mencatat terdapatnya enam spesies nyamuk, yaitu An. barbirostris, An. subpictus, An. annularis, An. vagus, An. umbrosus, dan An. indefinitus. Nyamuk An. barbirostris dan An. subpictus merupakan dua spesies dengan kepadatan tertinggi. Angka kepadatan per orang per jam (man hour density/MHD) di dalam rumah dan di luar rumah masing-masing untuk An. barbirostris adalah 5,45 dan 6,23, dan An. subpictus 1,35 dan 1,56. Puncak aktivitas menghisap darah di dalam dan di luar rumah masing-masing untuk An. barbirostris adalah pada pukul 22:00–04:00 dan 21:00–04:00, sedangkan An. subpictus pada pukul 20:00–21:00 dan 22:00–23:00. Berdasarkan rata-rata kepadatan setiap jam, nyamuk Anopheles spp. di Desa Lifuleo bersifat eksofagik dan eksofilik, yaitu lebih senang menghisap darah di luar rumah daripada di dalam rumah, dan lebih senang beristirahat di luar rumah.

Kata kunci: Anopheles barbirostris, Anopheles subpictus, eksofagik, eksofilik, Indonesia

FULL PAPER in PDF: Keaneka ragaman jenis nyamuk Anophles di deswa Lifulio

Categories: Abstrak dalam artikel ilmiah | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Vector control in Indonesia

Upik Kesumawati Hadi. Vector control in Indonesia. Bandung International Scientific Meeting on Parasitology and Tropical Disease. Challenges  in Parasitology in the Era of Globalization: From Basic to the Diagnostic & Clinical Application. 1-3 May 2015.

Abstract: Infectious diseases transmitted by insects and other animal vectors (vector borne diseases) have long been associated with significant human illness and death. In Indonesia, malaria, dengue fever, chikungunya, filariasis, japanese encephalitis, cause a significant infectious disease burden. The ecology and epidemiology of vector-borne diseases are particularly complex and often involve multiple disease cycles through alternate vectors and hosts. Therefore the strategies for prevention and control of vector-borne diseases are emphasizing “Integrated Vector Management (IVM)” – as an approach that reinforces linkages between health and environment, optimizing benefits to both. The IVM stresses the importance of first understanding the local vector ecology and local patterns of disease transmission, and then choosing the appropriate vector control tools, from the range of options available. These include environmental management strategies, biological controls (e.g. Bacillus thuringiensis, B. sphaericus and larvivorous fish),  chemical methods of vector control, such as indoor residual sprays, space spraying, and use of chemical larvicides and adulticides; personal protection/preventive strategies that combine environmental management and chemical tools for new synergies; e.g. insecticide-treated nets (ITNs), mosquito repellent creams, liquids, coils, mats etc. and wearing of full sleeve shirts and full pants with socks; health education; and community participation.

Key words: vector borne diseases, vector control, integrated vector management, Indonesia

Abstract dalam PDF: Vector Control in Indonesia..

Categories: Abstrak dalam Seminar Ilmiah | Tags: , , , | Leave a comment

Renungan jumát 27/15

Mengenali Aib Diri

QS an-Najm 32 Allah SWT berfirman “maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”. Ini mengingatkan kita bahwa kesempurnaan hanya milik Allah, kemaksuman milik Rasulullah SAW, dan manusia sering lupa akan aib yang melekat pada dirinya sendiri. Seringkali manusia menutup mata akan kekurangan-kekurangan yang ada dan menganggap dirinya lebih baik dari yang lain.

Kehidupan seorang muslim menurut Imam Ghazali tidak dapat dicapai dengan sempurna kecuali mengikuti jalan Allah SWT yang dilalui secara bertahap. Tobat, sabar, fakir, zuhud, tawakal, cinta, ma’rifat, dan ridha adalah tahapan-tahapan yang wajib diasah agar menjadi insan yang berakhlak mulia di jalan Allah.

Agar dapat mengenali aib diri sendiri, Imam Ghazali mengatakan ada lima jalan yang harus ditempuh yaiti:

  1. Duduk di hadapan seorang guru yang dapat mengenali keburukan hati dan berbagai bahaya yang tersembunyi di dalamnya. Lalu, memasrahkan dirinya kepada sang guru dan mengikuti petunjuknya dalam bermujahadah membersihkan aib itu.
  2. Mencari seorang teman yang jujur, memiliki mata bashiroh yang tajam, dan berpegangan pada agama. Lalu, menjadikan teman sebagai pengawas keadaan, perbuatan, serta semua aib batin dan zahirnya.
  3. Berusaha mengetahui aib dari ucapan orang yang membencinya, yang mengungkapakan keburukannya. Dengan demikian dapat memetik pelajaran dari berbagai keburukan diri yang disebutkan oleh musuhnya.
  4. Bergaul dengan masyarakat, dari sini setiap kali melihat perilaku tercela seseorang, akan segera juga menuduh dirinya mempunyai sifat tercela itu. Lalu, ia tuntut dirinya untuk tidak melakukannya. Setiap mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain, ia akan melihat aib-aib dirinya sendiri.
  5. Merenungkan bahwa umur itu pendek. Umur di dunia lebih pendek dari pada kehidupan abadi di akherat. Karenanya, lihatlah aib sendiri sebelum menilai aib orang lain.

Wallahu a’lam bishawwab.

Tulisan dalam PDF: Renungan Jumát 27 2015

Categories: Artikel agama Islam | Tags: , | Leave a comment

drh. WIRASMONO SOEKOTJO menambah informasi tentang PORDASI

Apa yang dibicarakan ketika para pensiunan dokter hewan bertemu? Cerita sejarah masa lalu adalah topik pembicaraan yang mengalir saat pertemuan. Para pensiunan dokter hewan atau yang dikenal dengan istilah “Lansia Veteriner” mempunyai wadah yang bernama Paguyuban Keluarga Lansiavet, dan aktif mengadakan pertemuan berkala. Satu di antara pertemuan yang akhirnya menghasilkan tulisan berikut dan ditulis oleh Prof Koeswinarning Sigit (Bu Ning) ini masih terkait dengan sejarah PORDASI. Pertemuan saat itu di Bandung pada hari Rabu, 21 Mei 2014 di Café Kopi Luwak di Cikole, Lembang, milik seorang dokter hewan muda yang sangat energetik dan kreatif yaitu Mas drh. Sugeng.

Dalam pertemuan tersebut Bu Ning bertemu dengan Drh Wirasmono Soekotjo, pensiunan dosen di Bagian Klinik Hewan Besar FKH-IPB, yang juga teman akrab Drh Sjahfri Sikar (alm), yang kedua-duanya ahli kuda. Nah..dari obrolan ini Bu Ning menambahkan catatan sejarah awal terbentuknya PORDASI berikut ini…

 

“drh. WIRASMONO SOEKOTJO menambah informasi tentang PORDASI”

oleh  Koeswinarning Wirjomidjojo Sigit

Di dalam Café Kopi Luwak Cikole Lembang itu, saya ngobrol dengan Pak Wirasmono Soekotjo (Pak Mono), dosen saya di Bagian Klinik Hewan Besar FKH-IPB, yang juga teman akrab Pak Sjahfri Sikar (alm), yang kedua-duanya ahli kuda, baik dalam mengobati penyakit maupun melakukan bedah. Pak Mono merasa bahwa Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) kurang banyak dikenal, bahkan oleh para dokter hewan kita di Indonesia sekarang ini. Dari tulisan saya mengenai lambang PORDASI yang telah dimuat dalam No. 67 BDHLS Th. XII (edisi April 2014), menurut Pak Mono, masih dirasa perlu diterangkan tentang sejarah berdirinya PORDASI, yang melibatkan Pak Sjahfri Sikar (alm) dan  Pak Mono sendiri. Acara ngobrol dengan Pak Wirasmono ini akhirnya menghasilkan beberapa point penting bagi sejarah awal berdirinya PORDASI berikut ini.

PORDASI, yang didirikan pada tgl. 6 Juni 1966, telah diresmikan di Bandung. Tanggal ini dipilih, sebab mempunyai arti khusus yang mudah diingat, karena angkanya bernuansa angka 6: tanggal 6, bulan 6 dan tahun 66. Demikianlah kata Pak Mono.

Mengenai gambar lambang PORDASI dengan lima buah Olympic Rings, menurut Pak Mono, selain sebagai lambang olahraga, ternyata juga mengandung arti bahwa anggota PORDASI pada awalnya berjumlah lima komisariat, yaitu:

  1. Komisariat Sulawesi Utara, dengan Komisaris Bapak Drh. Sutiman (alm)
  2. Komisariat Jawa Barat, dengan Komisaris Bapak T. Supandji
  3. Komisariat Jawa Tengah, dengan Komisaris Bapak Sukardi (alm)
  4. Komisariat Jawa Timur, dengan Komisaris Bapak Kol. Purn. Sumarsono
  5. Komisariat Sumatra Barat, dengan Komisaris Bapak Sofyan Djuned

Pada waktu itu (tahun 1966) Jakarta sendiri belum masuk menjadi anggota PORDASI, karena belum mempunyai kuda. Lapangan Pacuan Kuda Pulomas sendiri baru dibangun tahun 1971. Sementara itu, daerah yang mempunyai paling banyak kuda pacu adalah Sumatra Barat. Di daerah Sumatra Barat pada waktu itu, banyak terdapat lapangan kuda pacu dan di sana ada lima tempat pacuan kuda yang dipelihara dengan baik.

Keberadaan PORDASI diakui, karena didaftarkan di Direktorat Olahraga, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (Kementerian PP&K) pada waktu itu, yang suratnya ditandatangani oleh Bapak Sukamto Sayidiman. Pak Mono mengatakan bahwa beliau sendirilah yang memperjuangkan dan mengurus surat pengakuan itu. Pengakuan itu sangat diperlukan bagi PORDASI sebagai perlindungan terhadap keberadaannya.

TULISAN LENGKAP DALAM PDF: Drh Wirasmono Soekotjo Menambah Informasi Tentang Sejarah PORDASI

 

Bu Ning Sigit

Bu Ning Sigit

Bu Ning dan Pak Mono 1

Bu Ning dan Pak Wirasmono

 

Bu Ning Sigit dan Pak Wirasmono

Bu Ning Sigit dan Pak Wirasmono

 

Categories: Profesi Dokter Hewan | Tags: , , , , | Leave a comment

Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia: KIVNAS ke 13

Dalam rangka upaya pendidikan berkelanjutan bagi para anggotanya, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) sebagai organisasi profesi wajib menyelenggarakan kegiatan ilmiah secara berkala. Satu di antaranya adalah kegiatan Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS), yang tahun lalu tepatnya KIVNAS ke 13 diselenggarakan di Palembang pada 23-26 November 2014. KIVNAS menjadi ajang ilmiah dua tahunan bagi para dokter hewan untuk berbagi, berdiskusi, dan mengkaji berbagai informasi terkini dari berbagai bidang Kedokteran Hewan. Bidang-bidang yang dibahas antara lain berbagai kasus klinik/lapang, dan berbagai hasil penelitian IPTEK Kedokteran Hewan.

Khusus tema yang diangkat di Palembang adalah “Meningkatkan kualitas layanan profesional bidang kesehatan hewan untuk penjaminan keamanan hewan, manusia dan lingkungan”.  Dokter Hewan sebagai profesional yang bekerja di bidang kesehatan hewan dituntut untuk meningkatan kualitas layanannya saat ini karena dengan berlakunya masyarakat ekonomi Asean, maka semakin terbuka persaingan layanan yang profesional. Oleh karena itu dengan adanya KIVNAS ke 13 ini profesionalisme dokter hewan bisa lebih semangat untuk ditingkatkan.

Tulisan dalam PDF: Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia KIVNAS ke 13

Peserta KIVNAS di Palembang melimpah..

Peserta KIVNAS di Palembang melimpah..

Kongres ke 17 PDHI, Kongres ke 15 PIDHI dan KIVNAS 13

Kongres ke 17 PDHI, Kongres ke 15 PIDHI
dan KIVNAS 13

Ketua PDHI

Ketua PDHI

Diskusi ketahanan dan kedaulatan pangan

Diskusi ketahanan dan kedaulatan pangan

Categories: Profesi Dokter Hewan | Tags: , , | Leave a comment

Mars Dokter Hewan

Ciptaan : drh. Djiyono Notokusumo;  Lagu : Mochtar MK dan Max Kandri

 

Dokter Hewan Indonesia profesi mulia

Mengabdikan pada nusa bangsa dan negara

Menjunjung tinggi asas negara, Pancasila

Undang-undang dasar empat lima, pedomannya

 

Menolong hewan tugas utamanya

Menjaga malapetaka pada satwa

Mencukupi kebutuhan gizi, proten hewani

 

Gerak bakti dokter hewan untuk mewujudkan

Masyarakat  adil dan makmur

Dasar Pancasila

 

Lagu Mars Dokter Hewan dalam PDF:  Mars Dokter Hewan

Dokter Anjing dan Kucing

Dokter Anjing dan Kucing

Lagu Mars Dokter Hewan diperdengarkan dalam konferensi veteriner nasional di Palembang

Lagu Mars Dokter Hewan diperdengarkan dalam konferensi veteriner nasional di Palembang

Categories: Profesi Dokter Hewan | Tags: , | Leave a comment

Renungan Jumát 26/15

Menjaga Lingkungan

Bencana banjir dan bencana lainnya yang terjadi di dunia ini merupakan hasil interaksi manusia dengan lingkungannya. Manusia seringkali melupakan hal ini, tetapi baru ketika bencana muncul menyadarinya. Perbuatan sepele seperti buang sampah di sungai, di kebun dan berserakan dijalan secara sembarangan di jalan, penebangan pohon di hutan yang semena-mena adalah contoh kecil yang sudah endemis ditemukan di negeri tercinta ini, yang mengakibatkan terjadinya banjir.

Allah SWT sudah menyebutkan dalam QS al-Anám 99 bahwa hujan yang awalnya menjadi sumber air dan pembawa rahmat, lalu dalam QS al-Baqoroh 59 dapat berubah menjadi banjir bandang yang memusnahkan. Angin yang awalnya berperan dalam proses penyerbukan tumbuh-tumbuhan (QS al-Kahfi 45) dan mendistribusikan awan (QS al Baqoroh 164), tiba-tiba berubah menjadi puting beliung yang meluluhlantakkan (QS Fushilat 16). Laut yang awalnya jinak (QS al-Hajj 65) tiba-tiba berubah menjadi tsunami yang menggulung apa saja yang dilaluinya (QS-at-takwir 6).

Dalam al Qurán Allah SWT telah mengatur hubungan manusia dengan alam dalam konsep hukum yang sama-sama tunduk dan patuh kepadaNya. Dan manusia mendapat tugas untuk memperlakukan alam semesta dengan rahmatan lilalamin. Oleh karena itu menjaga keseimbangan alam, pelestarian alam adalah satu tuntunan yang harus dipatuhi. Apabila melakukan perbuatan perusakan lingkungan berarti melakukan perbuatan mungkar yang harus dicegah.

Allah SWT mengingatkan dalam QS al-A’raf 96 bahwa “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mendustakan ayat-ayat Kami itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Wallahu a’lam bisshawab

Tulisan dalam PDF:  Renungan Jumát 26 2015

Categories: Artikel agama Islam | Tags: , | Leave a comment

Ragam Jenis Lalat pada Peternakan Ayam Petelur

 

Ragam Jenis Lalat pada Peternakan Ayam Petelur (*)

Irene Soteriani Uren1, Upik Kesumawati Hadi2, Supriyono2

1Mahasiswa Program Sarjana Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor,  2 Staf Bagian Parasitologi dan Entomologi, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor

(*) Disampaikan pada “Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS) ke-13 Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) yang akan diselenggarakan di Palembang pada tanggal 24-25 November 2014

 ABSTRAK. Lalat merupakan parasit yang dapat ditemukan dengan mudah  di peternakan ayam petelur. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah keragaman jenis, kelimpahan nisbi, dan dominasi spesies lalat pada peternakan ayam petelur. Pengambilan sampel dilakukan di peternakan ayam petelur KM 45, Kemang, Bogor, menggunakan tangguk serangga. Seluruh sampel selanjutnya diidentifikasi dan dianalisis untuk mengetahui kepadatan lalat. Kepadatan lalat dinyatakan dengan  kelimpahan nisbi dan dominasi spesies. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 jenis lalat yang ditemukan di peternakan ayam petelur, yaitu Musca domestica, Chrysomya megacephala, Chrysomya saffranea, dan Hermetia illucens. M. domestica merupakan lalat yang paling dominan. Dominasi spesies lalat pada peternakan ayam petelur secara berurutan adalah lalat M. domestica (42.13%), C. megacephala (33.71%), H. illucens (18.26%), dan C. saffranea (5.90%). Ketiga jenis lalat yang terakhir selalu ditemukan bersamaan dengan lalat M. domestica.

Kata kunci: dominasi spesies, lalat, peternakan ayam petelur, ragam jenis

Tulisan Abstrak dalam PDF: Ragam Jenis Lalat pada Peternakan Ayam Petelur

Categories: Abstrak dalam Seminar Ilmiah | Tags: , , | Leave a comment

Keanekaragaman Jenis dan Kepadatan Nyamuk pada Aplikasi Zooprofilaksis dalam Pengendalian Penyakit Tular Vektor

 

 

Keanekaragaman Jenis dan Kepadatan Nyamuk pada Aplikasi Zooprofilaksis dalam Pengendalian Penyakit Tular Vektor (*)

Imam Hanafy (1), Fahmi Khairi (2), Susi Soviana (3), Upik Kesumawati Hadi. (3)

(1) Mahasiswa Pascasarjana Prodi Parasitologi & Entomologi Kesehatan IPB, (2) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB (3) Staf Pengajar Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan IPB

(*) Disampaikan pada “Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS) ke-13 Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) yang akan diselenggarakan di Palembang pada tanggal 24-25 November 2014

 Abstrak. Nyamuk merupakan kelompok serangga yang paling banyak menimbulkan masalah kesehatan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh keragaman, distribusi, populasi dan banyaknya spesies yang berperan sebagai pengganggu dan vektor. Beberapa penyakit yang diperantarai nyamuk (mosquito-borne diseases) di Indonesia adalah malaria, DBD, filariasis, dan chikungunya. Pemanfaatan hewan ternak seperti sapi dan kerbau yang umum dipelihara warga di daerah endemis justru dapat dimanfaatkan sebagai pengalihan atau barier agar nyamuk tidak kontak langsung dengan manusia karena sifat biologi dari nyamuk yang cenderung zoofilik. Pemanfaatan hewan ternak sebagai barier ini dikenal dengan istilah zooprofilaksis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman dan kepadatan nyamuk pada aplikasi zooprofilaksis, dengan menempatkan sapi diantara rumah dan habitat perkembanganbiakan nyamuk. Metode yang digunakan adalah penangkapan nyamuk dengan umpan orang dan sapi menggunakan magoon trap. Pengambilan sampel dilakukan selama tujuh kali dengan frekuensi dua minggu sekali. Keragaman spesies yang didapatkan antara lain Ae.aegypti, Ae. albopictus, An. sundaicus, An. vagus, An. barbirostris, An. aconitus, An. subpictus, Ar. subalbatus, Cx. quinquifasciatus, Cx. tritaeniorhynchus, Cx. sitiens, Cx. hutchinsoni. Kepadatan tertinggi pada manusia adalah Culex dengan MHD (Man Hour Density) sebesar 28,82 nyamuk/orang/malam, dan terendah adalah Anopheles sebesar 0,01 dengan nilai total MHD sebesar 30,8. Nilai CHD (Cattle Hour Density) pada sapi tertinggi adalah Culex sebesar 101,35 dan terendah adalah Armigeres sebesar 0,35 dengan nilai total CHD sebesar 101,68. Tingginya kepadatan nyamuk pada sapi menunjukkan bahwa hewan ternak sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai pengalihan gigitan nyamuk pada manusia.

Keyword: Kepadatan, Keanekaragaman, Nyamuk, Zooprofilaksis.

Abstrak dalam PDF: Keanekaragaman Jenis dan Kepadatan Nyamuk pada Aplikasi Zooprofilaksis

Categories: Abstrak dalam Seminar Ilmiah | Tags: , , | Leave a comment

Preadult Developmental Cycle of Anopheles aconitus (Diptera: Culicidae) on Two Different Feed Formulations in Laboratory

 DIMAS TRI NUGROHO. Preadult Developmental Cycle of Anopheles aconitus (Diptera: Culicidae) on Two Different Feed Formulations in Laboratory. Under supervision of UPIK KESUMAWATI HADI and SUGIARTO

 ABSTRACT. The aim of this research was to know preadult developmental cycle of Anopheles aconitus on two different feed formulations in laboratory. 50 An. aconitus adults four days old consists of 25 males and 25 females were reared to got a number of eggs that would hatched to be the larva which used for the research object. The adult mosquitoes were given guinea pig for blood feeding every five days as long as four hours, and then the larva were given two different of feed formulations. Feed formulation (1) consists of 40% dry dog food, 20% instant yeast and 40% chicken liver. Feed formulation (2) consists of 20% chicken liver and 80% dry fish food. The result showed that blood fed Anopheles aconitus female laid the eggs on the second and the fourth day. The average eggs produced by mosquito female were 38 eggs. The egg would hatched on the first and the fifth day. Average long period for L1 was 3,4 days, L2 3 days, L3 3 days, L4 3,9 days and pupa 1,25-1,5 days. Average time period from egg to be adult was 17.97 days. Average eggs hatching was 76,46%, the successfully development of L1 was 91,99%, L2 89,08%, L3 78,67% and L4 32,29%. preadult developmental time of An. aconitus that were given feed formulation (1) was 17,6 days and preadult developmental time of An. aconitus that were given feed formulation (2) was 18,2 days, preadult developmental rate of An. aconitus that were given feed formulation (1) 0,6 day faster than preadult developmental rate of An. aconitus that were given feed formulation (2), but both statistically was not significantly different (P>0,05).

Key words: feed formulation, pre adult, Anopheles aconitus

DIMAS TRI NUGROHO. Siklus Perkembangan Pradewasa Anopheles aconitus (Diptera: Culicidae) pada Dua Jenis Formulasi Pakan yang Berbeda di Laboratorium. Dibimbing oleh UPIK KESUMAWATI HADI dan SUGIARTO

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui siklus perkembangan pradewasa Anopheles aconitus pada dua jenis formulasi pakan yang berbeda. Sebanyak 50 ekor An. aconitus dewasa berumur empat hari yang terdiri dari 25 jantan dan 25 ekor betina dipelihara untuk mendapatkan sejumlah telur yang ditetaskan menjadi larva yang digunakan sebagai objek penelitian. Nyamuk dewasa digigitkan ke tubuh marmot sebagai sumber darah setiap lima hari sekali selama empat jam sedangkan larva diberi dua jenis formulasi pakan yang berbeda. Pakan (1) terdiri dari pakan anjing sebanyak 40%, ragi instan bubuk sebanyak 20% dan hati ayam sebanyak 40%. Pakan (2) terdiri dari hati ayam 20% dan pelet ikan sebanyak 80%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa An. aconitus betina kenyang darah bertelur pertama kali pada hari kedua dan hari keempat. Nyamuk betina mampu menghasilkan rata-rata 38 butir telur, menetas paling cepat pada hari pertama dan paling lama pada hari kelima. Panjang periode L1 rata-rata selama 3,4 hari, L2 3 hari, L3 3 hari, L4 3,9 hari dan dari stadium pupa hingga eklosi menjadi dewasa membutuhkan waktu 1,25-1,5 hari. Rata-rata total waktu yang diperlukan dari telur hingga dewasa adalah 17,97 hari. Daya tetas telur rata-rata 76,46%. Tingkat keberhasilan perkembangan L1 rata-rata 91,99%, L2 89,08%, L3 78,67%, dan L4 32,29%. Rata-rata waktu yang dibutuhkan pada stadium pradewasa An. aconitus yang diberi pakan 1 adalah 17,6 hari sedangkan rata-rata waktu yang dibutuhkan pada stadium pradewasa An. aconitus yang diberi pakan 2 adalah 18,2 hari. Ratarata perkembangan pradewasa An. aconitus yang diberi pakan 1 lebih cepat 0,6 hari dibandingkan pakan 2, tetapi keduanya secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05).

Kata kunci: pakan, pradewasa, Anopheles aconitus

Tulisan dalam PDF: Preadult Developmental Cycle of Anopheles aconitus on Two Different Feed Formulations in Laboratory.

Categories: Abstrak dalam artikel ilmiah | Tags: , , | Leave a comment