Renungan Jumát 30/16

Yuk Sholat Tahajud

Q.S. al Isra 79: Allah berfirman: ”Dan pada sebahagian malam bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat terpuji”.

Rasulullah tidak pernah meninggalkan Sholat Tahajud setiap malamnya. Aisyah RA mengatakan “Rasulullah mengerjakan Sholat Malam setelah mengerjakan Sholat Isya hingga waktu fajar Menyingsing”. Menurut riwayat juga bahwa tidur Beliau sangat sedikit, waktu malam banyak dihabiskan untuk sholat tahajud (Hadist Riwayat Ahmad).

Waktu Sholat Tahajud yang paling baik bisa kita ambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa ” Pada tiap sepertiga malam terakhir Allah turun ke langit dunia lalu Ia berfirman: “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia”.

Yuk…yuk…  kita mulai mengamalkannya  mulai dari yang ringan secara istiqomah 2 rakaat, 4, 8 rokaat , dan ditutup dengan Sholat Witir 3 rokaat.  Banyak riwayat mengatakan bahwa Sholat Tahajud bermanfaat bagi kesehatan, dapat menyembuhkan segala macam penyakit, dan mengabulkan apa yang dimohonkan manusia kepadaNya… Para salafussaleh mengibaratkan sholat Tahajud sebagai riyadhoh, olahraga di pagi hari….masya Allah..

Tulisan dalam PDF: Renungan Jumát 30 2016

Categories: Artikel agama Islam | Tags: | Leave a comment

Selamat Tahun Baru 2016

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Mina sama e

Shinnen akemashite omedetou gozaimasu,  kotoshi mo yoroshiku onengaishimasu. Yoi toshi o narimasu you ni.

Selamat membuang lembaran lama dengan lembaran baru dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim. Semoga kasih sayang Allah SWT di tahun ini tetap bersinar. Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, dan memberkahi kita semua dengan sehat, sejahtera, bahagia, semangat dan keselamatan dunia dan akhirat. Aamiin yrba..

Upik Kesumawati Hadi bersama keluarga

 

Selamat Tahun Baru 2016

Selamat Tahun Baru 2016

Tulisan dalam pdf: Selamat Tahun Baru 2016

 

Categories: Budaya Jepang, Laporan Kegiatan | Tags: | Leave a comment

Kompleks Plaza San Luis di Manila

Kompleks Plaza  San Luis di Manila
Plaza San Luis, sebuah kompleks bangunan bergaya Spanyol kuno yang terletak di daerah Intramuros. Di kompleks ini ada sekitar sembilan rumah memperlihatkan gaya arsitektur zaman penjajahan Spanyol.  Gedung-gedungnya indah, langit-langitnya tinggi, ada kayu-kayu berukir yang menghiasi bagian atasnya, serta dindinnya juga terdiri atas bebatuan yang ditempel.. Jalan-jalan di dalam kompleks ini bukan aspal melainkan tersusun dari bebatuan yang indah.  Nahh..di kompleks bangunan-bangunannya berfungsi sebagai restoran, kafe, museum, hotel dan to ko-toko suvenir. Semuanya masih terawat dengan baik.

Ada satu restoran yang sangat terkenal yaitu Barbara’s, yang menyediakan makanan khas Spanyol dan Filipina, serta pelayan berseragam seperti penari Flamenco. Bahkan, katanya pada saat-saat tertentu akan menampilkan tarian-tarian Spanyol dengan kostum megah berwarna-warni dan beberapa tarian tradisional dari daerah Mindanao yang sangat mirip dengan kesenian asal Kalimantan. Sayangnya, saat saya datang waktunya pagi hari, sedang tidak ada event tersebut, dan cuma lewat saja..

Tidak jauh Kompleks Plaza San Luis, terdapat gereja San Agustin yang indah dan megah dan juga Rizal Park, sebuah taman luas dan indah yang didirikan sebagai monumen penghargaan bagi jasa pendiri pahlawan Filipina, DR. Jose Rizal. Jadi paling tidak ada tiga lokasi yang dengan mudah dikunjungi apabila anda sudah berada di Manila, yaitu Rizal Park, Intramuros dan Plaza San Luis. Teman saya bilang, oleh-oleh Filipina akan lebih murah kalau mencarinya ke toko handycraft di Balik Bayan.

Filipina dalam beberapa hal mempunyai  banyak kemiripan dengan Indonesia. Secara fisik, mirip dengan orang Indonesia mungkin karena satu rumpun Melayu Polynesia. Ada Filipino yang mirip Batak, Jawa, Minahasa dan lain-lain. Filipina juga Negara kepulauan meskipun lebih banyak pulau di Indonesia, cuacanya panas dan lembab. Juga sebagai salah satu pendiri dan anggota ASEAN sama dengan Indonesia. Tetapi Filipina merupakan negara Asia yang paling berbeda, budaya mereka cenderung ke barat-baratan. Mereka cenderung bebas dan konsumtif baik dari segi pendidikan sampai ke gaya hidup rakyatnya, dan sangat dipengaruhi budaya barat (disusun oleh Upik Kesumawati Hadi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor Nov.2015).

Tulisan dalam PDF: Kompleks Plaza San Luis di Manila

Jalan kompleks San Luis

Jalan kompleks San Luis

Rumah-rumah bergaya Spanyol

Rumah-rumah bergaya Spanyol

Sudut depan rumah

Sudut depan rumah

Lorong penghubung antar gedung

Lorong penghubung antar gedung

Barbaras 's restoran heritage

Barbaras restoran heritage

Barbaras Restoran

Barbaras Restoran

Jalan bebatuan

Jalan bebatuan

Arsitektur Spanyol

Arsitektur Spanyol

Dinding batu yang khas

Dinding batu yang khas

Contoh Suvenir di San Luis

Contoh Suvenir di San Luis

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , , | Leave a comment

Becak Filipina

Becak Filipina

Di Filipina, mirip seperti di Negara kita, ada becak juga meskipun bentuknya berbeda tetapi cara kerjanya sama menggunakan tenaga orang.

Becak disini namanya Padyak. Kalau mau naik tinggal panggil saja, bahkan kalau di daerah kota tua Intramuros, si abangnya akan menawarkan keliling Intramuros dengan padyak sambil menjelaskan sejarah Filipina. Kereenn… (ukh November 2015).

Tulisan dalam PDF: Becak Filipina

Becak berpayung, panas..

Becak berpayung, panas..

3.3

Abang becak sedang menawarkan jasa

Abang becak sedang menawarkan jasa

Berjalan di Intramuros

Berjalan di Intramuros

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , | Leave a comment

Kuliah Tamu Prof Laura C. Harrington

Yth mhs FKH, PS Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, dan seluruh PS S2 dan S3 di FKH

Hari ini, Jumat 4 Desember 2015 kami kedatangan tamu dari Cornell University, yaitu Prof Dr Laura C Harrington, jam 13 sd 15.00 di R Seminar Divisi Parasitologi & Entomologi Kesehatan FKH IPB nanti akan memberikan seminar dengan tema Veterinary Entomology and its role in Animal Disease transmission. Bagi yang ada kesempatan waktu silakan datang. Kapasitas terbatas.

Professor Harrington’s research focuses broadly on the biology, ecology and behavior of disease vectors, global health and epidemiology. She has published on the ecology of the dengue vector mosquito as well as other emerging vectors and disease systems such as West Nile virus. Her recent work focuses on the impact of climate change and globalization on emerging pathogens such as dengue and chikungunya viruses, as well as the role of male seminal fluid proteins as targets for mosquito population control.

Although Harrington has no formal extension appointment, she regularly provides information to media and the public about mosquitoes and vector borne diseases. In addition, Harrington identifies insects for hospitals and the general public and provide informal guidance to international collaborators and students. She is an annual participant in the Entomology Open House (Insectapalooza).

Dr. Harrington offers courses in Medical and Veterinary Entomology (ENTOM 352), a non-majors course, Plagues and People (BIO/ENTOM 210) and she teaches the malaria module of Introduction to Global Health (NS 206). Dr. Harrington has offered seminars with international service in learning formats including ENTOM 410 Malaria Interventions in Ghana, and ENTOM 411 Health Care in Honduras. She advises and mentors undergraduate and graduate students in the areas of entomology, ecology and evolutionary biology, biomathematics, general biology, animal science, and biology and society.

Awards and Honors

  • Distinguished Achievement Award in Teaching (2012) Eastern Branch Entomological Society of America
  • Provosts Award for Distinguished Scholarship, Cornell University 2010 (2010) Cornell Universit
  • Journal Publications:
  • Helinski, M. E., & Harrington, L. C. (2012). The role of male harassment on female fitness for the dengue vector mosquito Aedes aegypti. Behavioral Ecology and Sociobiology. 66:1131-1140.
  • Ruiz-Moreno, D., Vargas, I. S., Olson, K. E., & Harrington, L. C. (2012). Modeling Dynamic Introduction of Chikungunya Virus in the United States. PLoS Neglected Tropical Diseases. 6:e1918.
  • Brown, H. E., Harrington, L. C., Kaufman, P. E., McKay, T., Bowman, D. D., Nelson, C. T., Wang, D., & Lund., R. (2012). Key Factors Influencing Canine Heartworm, Dirofilaria immitis in the United States. Parasites and Vectors. 5:245.
  • Helinski, M. E., Valerio, L., Facchinelli, L., Scott, T. W., Ramsey, J., & Harrington, L. C. (2012). Evidence of polyandry for Aedes aegypti in semi-field enclosures. Journal of the American Society of Tropical Medicine and Hygiene. 86:635-641.
  • Harrington, L. C., & Cator, L. (2011). Harmonic convergence of fathers and the mating success of sons in the yellow fever mosquito. Animal Behaviour. 82:627-633.
  • Cator, L. J., Arthur, B. J., Harrington, L. C., & Hoy, R. R. (2009). Harmonic convergence in the love songs of the dengue vector mosquito. Science. 323:1077-1079.
  • cator, l. j., Arthur, B. J., Harrington, L. C., & Hoy, R. R. (2009). Harmonic convergence in the love songs of the dengue vector mosquito. Science. 323:1077-1079.
  • Book Chapters:
  • Harrington, L. C., Helinski, M., & , (2013). Considerations for male fitness in successful genetic vector control programs.Ecology and control of vector-borne diseases (Vol. 3): Ecology of vector-parasite interactions . Takken and Koenraadt (ed.), Wageningen Academic Publishers, Waginingen, Netherlands
  • Presentations and Activities:
  • Vector behavior essential for genetic control. February 2013. Gordon Conference. Galveston, TX.
  • Mosquito-borne Threats in a Changing World. January 2013. University of Maryland Center for Health Homeland Security (CHHS) . Maryland.
  • Movement of Aedes mosquito vectors: considerations and research goals. September 2012. Fogerty Center. California.

Vector Competence of US strains of the Asian Tiger Mosquito, Aedes albopictus, for Chikungunya Epidemic Virus (CHIKV 226OYP). 2011. ASTMH. Philadelphia, PA

Categories: Laporan Kegiatan | Tags: , | Leave a comment

Intramuros Kota Tua di Manila

Intramuros di Manila

Intramuros adalah daerah kota tua di Manila yang terdiri atas bangunan-bangunan tua dengan budaya  Spanyol. Sebagai contoh, Fort Santiago yang dulunya benteng tentara Spanyol,  sekarang menjadi daerah wisata sejarah yang terpelihara dengan baik. Benteng ini terletak di sebelah Selatan aliran Sungai Pasig, dan disini kita bisa menyaksikan catatan sejarah Filipina. Di dalam Benteng Santiago terdapat juga Rizal Shrine tempat dulu José Rizal, pahlawan paling dikagumi di Filipina, dipenjarakan, dan diakhir hayatnya berada didepan regu tembak pasukan Spanyol.

Intramuros seringkali diterjemahkan sebagai benteng, padahal secara harfiah artinya  “berada di dalam tembok-tembok”. Benteng itu dibangun pada abad ke-16 atas perintah Raja Phillip II dari Spanyol , dengan ketebalan satu meter dengan panjang 4,5 kilometer dan luas 64 hektar. Di dalam Benteng ini, sebuah kota kecil dijadikan sebagai pusat kekuasaan Raja Spanyol Philip II,  saat itu terdapat beberapa gedung seperti gereja, tempat pendidikan atau sekolah, serta kantor pemerintahan.

Menurut sejarah, Intramuros dibangun dengan tujuan melindungi kekuasaan Spanyol di Filipina, terutama dari Belanda dan Inggris yang juga sedang saling berebut wilayah jajahan di Asia Tenggara. Selain itu, Intramuros juga dibangun untuk melindungi Manila dari bajak laut Cina dan Negara lain.

Sebelum kedatangan Spanyol, tempat tersebut merupakan benteng kayu Rajah Sulayman. Dari namanya anda pasti kenal, itu nama Islam. Jadi ternyata sebelum zaman penjajahan Spanyol Filipina hidup dalam zaman kerajaan Islam, dan merupakan sebuah negara merdeka yang kental dengan budaya Melayu. Di Filipina bagian Utara, sampai sekarang, budaya Melayu masih ada meskipun sudah dipengaruhi budaya Spanyol. Budaya Melayu masih nyata terlihat,  seperti ada beberapa kesamaan antara Bahasa Tagalog dan Bahasa Indonesia, yaitu kata payung, bakiak, putih, selamat, kami, lelaki, langit, dan kumpul-kumpul.

Pada masa Perang Dunia II, ketika Filipina dikuasai oleh Amerika Serikat, tentara AS di bawah pimpinan Jenderal MacArthur menjadikan Intramuros sebagai benteng pertahanan terakhir dari gempuran tentara Jepang.  Saat itu kondisi benteng porak-poranda dan hanya Gereja San Agustin yang masih tegak berdiri. Pada tahun 1951 benteng dipugar,  dan tahun 1979 di bawah pemerintahan Ferdinand Marcos, Intramuros dipugar sebagai warisan sejarah Filipina yang penting (disusun oleh Upik Kesumawati Hadi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor Nov. 2015).

Tulisan dalam PDF: Intramuros kota Tua di Manila

Fort Santiago di Intramuros

Fort Santiago di Intramuros

Gerbang benteng

Gerbang benteng

Gerbang dari dekat..

Gerbang dari dekat..

Ketebalan dinding sekitar satu meter

Ketebalan dinding sekitar satu meter

kolam yang tenang di balik dinding

kolam yang tenang di balik dinding

Sebelum Spanyol, adalah kekuasaan Rajah Sulayman

Sebelum Spanyol, adalah kekuasaan Rajah Sulayman

Patung Yose Rizal di depan Shrine

Patung Yose Rizal di depan Shrine

Sungai Pasig berbatasan dengan Intramuros

Sungai Pasig berbatasan dengan Intramuros

Indah dan bersih

Indah dan bersih

Taman nan asri

Taman nan asri

Gereja di dalam Intramuros

Gereja di dalam Intramuros

Taman di tengah Intramuros

Taman di tengah Intramuros

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , , | Leave a comment

Monumen Yose Rizal di Luneta Filipina

Monumen Yose Rizal di Luneta merupakan tempat terpopuler yang paling banyak dikunjungi orang di Filipina. Banyak pengunjung disini berfoto di depan monumen bapak Negara Filipina. Beliau meninggal demi pembebasan negaranya dari penjajah Kerajaan Spanyol, dan sebagai seorang pahlawan nasional yang dihormati tidak hanya di negaranya tetapi juga oleh bangsa- bangsa lain di dunia.

Monumen di Rizal Park atau Taman Luneta terletak tidak jauh dari Intramuros dan Manila Bay, sangat ramai di hari libur dan banyak wisatawan dating mengunjunginya. Di sini setiap Filipino harus belajar bagaimana memberikan penghormatan dan penghargaan kepada pahlawannya di tempat penting di Filipina ini.  Monumen ini direncanakan dan dibangun selama periode kolonial Amerika dari Filipina melalui UU No. 243 yang telah disetujui Komisi Filipina Amerika Serikat  oleh otoritas Presiden Amerika Serikat Theodore Roosevelt pada September 28, 1901. Selanjutnya monumen ini diresmikan pada 30 Desember 1913 saat ulang tahun kematian ke 17 Jose Rizal. Oleh karena itu  monumen itu sekarang berusia lebih dari 100 tahun! Luar biasa…

Monumen ini terdiri dari patung Rizal berdiri terbuat dari perunggu dengan obelisk sebagai latar belakang nya, yang dibangun di dasar batu granit yang jenazahnya dikebumikan secara dalam. Ketinggian monumen adalah 12,7 meter atau 42 kaki.

Luneta berasal dari kata “lunette” yang berarti bulan sabit – bentuk taman. Taman ini juga dianggap sebagai “paru-paru hijau Manila”. Luneta Park telah diubah namanya menjadi Taman Rizal pada tahun 1913 untuk menghormati Dr Jose Rizal, meskipun banyak orang Filipina masih menyebutnya sebagai hari Luneta atau Luneta Park. Di sini juga terdapat tiang bendera tertinggi di Filipina (150 kaki), “The Independence Flagpole”, yang terletak di depan Monumen Rizal di Luneta. Tepat di seberang tiang bendera, anda dapat menemukan penanda marmer dengan Nol Kilometer (KM 0), titik asal untuk mengukur jarak antara provinsi-provinsi dan kota di negara ini (Ditulis oleh Upik Kesumawati Hadi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor November 2015)

TULISAN DALAM PDF: Monumen Yose Rizal di Luneta Filipina

Luneta park

Luneta park

Patung Yose Rizal, pahlawan Filipina

Patung Yose Rizal, pahlawan Filipina

Monument Yose Rizal

Monument Yose Rizal

Bersama peserta symposium on Parasitology

Bersama peserta symposium on Parasitology

Bendera Filipina

Bendera Filipina

Berkibar pada Tiang tertinggi

Berkibar pada Tiang tertinggi

 

 

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , | Leave a comment

Jeepney Angkutan Umum Unik

Pemandangan unik yang saya lihat begitu keluar Bandar udara Ninoy Aquino Filipina, adalah mobil jeep besar yang  bentuknya kotak, catnya warna warni tidak sama satu sama lainnya. Ternyata itu adalah Jeepney, angkutan umum yang terdapat di kota-kota besar di Filipina.  Jadi kalau ingin mencoba, silakan. Jeepney siap mengantarkan Anda untuk berkeliling kota.

Jeepney merupakan ikon di Filipina, kalau di Indonesia ada Angkot, dan di Thailand ada tuk-tuk. Jeepney awalnya adalah mobil-mobil bekas Perang Dunia II, saat itu pasukan Amerika menarik diri dan meninggalkan ratusan Jeep mereka di Filipina, dan dialihfungsikan menjadi angkutan masyarakat umum hingga sekarang. Ide kreatif yang hebat. Jeep tersebut dimodifikasi sedemikian rupa sehingga cocok untuk digunakan sebagai transportasi umum utama di kota-kota besar di Filipina, seperti Manila. Badannya diperpanjang , dan kursi di dalam mobil ditambah agar sanggup menampung banyak penumpang.  Mobil yang awalnya tanpa atap tersebut disulap sebagai tempat yang nyaman untuk menikmati pemandangan kota. Oleh pemiliknyanya badan mobil dilukis dengan gambar-gambar yang unik dan warna warni mencolok, lalu klaksonnya berupa terompet yang menempel di bagian depan mobil.

Mobil jeepney yang ada saat ini tidak lagi asli peninggalan perang dulu, tetapi sudah hasil karya pengusaha local dengan menggunakan mesin dari Jepang. Bahkan saat ini telah ditemukan E-Jeepney,  atau electrical Jeepney yang berbahan dasar listrik.  E-Jeepney banyak diproduksi digunakan sebagai mobil antar-jemput sekolah, penginapan, dan lainnya (ditulis oleh Upik Kesumawati Hadi, Fakultas Kedokteran hewan IPB, Oktober 2015).

TULISAN DALAM PDF: Jeepney Angkutan Umum Unik

Jeepney angkutan unik

Jeepney angkutan unik

Jeepney merah

Jeepney merah

Jeepney sedang melaju

Jeepney sedang melaju

 

 

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , | Leave a comment

Perilaku Nyamuk Anopheles punctulatus dan Kaitannya dengan Epidemiologi Malaria di Desa Dulanpokpok Kabupaten Fakfak, Papua Barat

Perilaku Nyamuk Anopheles punctulatus dan Kaitannya dengan Epidemiologi Malaria di Desa Dulanpokpok Kabupaten Fakfak, Papua Barat

 [The Behavior of Anopheles punctulatus and Epidemiology of Malaria in Dulanpokpok Village, Falifak District, West Papua]

Hemera Zoa, Majalah Imu Kewewananan Indonesia, Indonesian Journal of Veterinary Science & Medicine, Volume II Nomor 1, Desember 2010, 25-33

  1. Gondo Saputrol), Upik Kesumawati Hadi 2) dan FX. Koesharto 2)

1) Dinas Kesehatan Fakfak, Papua Barat,

2) Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

Abstract: Malaria is a major public health problem in Fakfak District. The studies were aimed to describe the behavior of Anopheles punctulatus, the biting activities, the characteristics breeding place, the incidence rate of malaria, and the people behavior in Dulanpokpok Village. The studies were done from May to August 2009. The Anopheles mosquitoes were collected by indocr and outdoor human landing colleciion in the evening between 6 pm and 6 am. Breeding place characteristics were measured based on the larval collections. The people behavior were interviewed with indepth inteview. The result showed that the man biting rate of An. punctulatus indoors was 1,38 bites/man/night, and outdoors was 1,48 bites/man /night. The biting activities of A. punctulatus were known as endophagic and exophagic, and the biting peaks of An. punctulatus were at 22.00-23.00 and 02.00-03.00 o’clock. The larvae of An. punctulatus were found in temporary pools such as muddy pool, wheel ruts, ditches and puddles. The breeding places characteristics of An. punctulatus

were water base on mud, water depth 5-50cm, water temperature 28°C, pH 6-6,8 and salinity 0 %o. The lack of knowledge and the behaviour of people going outdoor during the night will increase the risk of malaria infection in the study area.

 Keywords: Anopheles punctulatus, behavior, epidemiology of malaria

Artikel Lengkap dan Abstrak dalam PDF:

  1. Perilaku Nyamuk Anopheles punctulatus dan Kaitannya dengan Epidemiologi Malaria di Desa Dulanpokpok Kabupaten Fakfak,
  2. Abstrak Perilaku Nyamuk Anopheles punctulatus dan Kaitannya dengan Epidemiologi Malaria di Desa Dulanpokpok Kabupaten Fakfak
Categories: Abstrak dan Artikel ilmiah | Tags: , , | Leave a comment

Cytogenetic and Molecular Evidence of Additional Cryptic Diversity in High Elevation Black fly Simulium feuerborni (Diptera: Simuliidae) Populations in Southeast Asia

Cytogenetic and Molecular Evidence of Additional Cryptic Diversity in High Elevation Black fly Simulium feuerborni (Diptera: Simuliidae) Populations in Southeast Asia

Journal of Medical Entomology 52(5):829-836. 2015
doi: http://dx.doi.org/10.1093/jme/tjv080

  • Pairot Pramual,1,2,3Jiraporn Thaijarern,1Mohd Sofian-Azirun,4 Zubaidah Ya’Cob,4 Upik Kesumawati Hadi,5 and Hiroyuki Takaoka4

1 Department of Biology, Faculty of Science, Mahasarakham University, Kantharawichai District, Maha Sarakham 44150, Thailand.

2 Biodiversity and Traditional Knowledge Research Unit, Faculty of Science, Mahasarakham University, Kantharawichai District, Maha Sarakham 44150, Thailand.

4 Institute of Biological Sciences, Faculty of Science, University of Malaya, Kuala Lumpur, 50603, Malaysia.

5 Division of Parasitology and Medical Entomology, Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia. Jl Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor 16680.

3 Corresponding author, e-mail: pairot.p@msu.ac.th.

 

ABSTRACT

Simulium feuerborni Edwards is geographically widespread in Southeast Asia. Previous cytogenetic study in Thailand revealed that this species is a species complex composed of two cytoforms (A and B). In this study, we cytologically examined specimens obtained from the Cameron Highlands, Malaysia, and Puncak, Java, Indonesia. The results revealed two additional cytoforms (C and D) of S. feuerborni. Specimens from Malaysia represent cytoform C, differentiated from other cytoforms by a fixed chromosome inversion on the long arm of chromosome III (IIIL-5). High frequencies of the B chromosome (33–83%) were also observed in this cytoform. Specimens from Indonesia represent the cytoform D. This cytoform is differentiated from others by a fixed chromosome inversion difference on the long arm of chromosome II (IIL-4). Mitochondrial DNA sequences support genetic differentiation among cytoforms A, B, and C. The pairwise FST values among these cytoforms were highly significantly consistent with the divergent lineages of the cytoforms in a median-joining haplotype network. However, a lack of the sympatric populations prevented us from testing the species status of the cytoforms.

Keywords: polytene chromosomeSimuliidaeSimulium species complex

ABSTRACT IN PDFCytogenetic and Molecular Evidence of Additional Cryptic Diversity in High Elevation Black fly Simulium feuerborni (Diptera Simuliidae) Populations in Southeast Asia (Abstract)

 

References Cited:

Adler, P. H., and R. W. Crosskey. 2014. World blackflies (Diptera: Simuliidae): A comprehensive revision of the taxonomic and geographical inventory. (http://www.clemson.edu/cafls/biomia/pdfs/blackflyinventory.pdf)

Adler, P. H., and Y. T. Huang. 2011. Integrated systematics of the Simuliidae (Diptera): Evolutionary relationships of the little- known Palearctic black fly Simulium acrotrichumCan. Entomol. 143: 612–628.BioOne

Adler, P. H., and J.W. McCreadie. 1997. The hidden ecology of black flies: Sibling species and ecological scale.Am. Entomol. 43: 153–162.CrossRef

Adler, P.H., D. C. Currie, and D.M. Wood. 2004. The black flies (Simuliidae) of North America. Cornell University Press, Ithaca,NY.

Adler, P.H., R. A. Cheke, and R. J. Post. 2010. Evolution, epidemiology, and population genetics of black flies (Diptera: Simuliidae).Infect. Genet. Evol. 10: 846–865.CrossRefPubMed

Avise, J. C. 2000. Phylogeography: The history and formation of species. Harvard University Press, MA.

Bandelt, H. J., P. Forster, and A. Rohl. 1999. Median-joining networks for inferring intraspecific phylogenies.Mol. Biol. Evol. 16: 37–48.CrossRefPubMed

Brockhouse, C., J.A.B. Bass, R. M. Feraday, and N. A. Straus. 1989. Supernumerary chromosome evolution in the Simulium vernum group (Diptera: Simuliidae). Genome 32: 516–521.CrossRef

Camacho, J.P.M., T. F. Sharbel, and L.W. Beukeboom. 2000. B-chromosome evolution. Phil. Tran. R. Soc. B.355: 163–178.CrossRefPubMed

Crosskey, R. W. 1990. The natural history of blackflies. John Wiley & Sons, London, United Kingdom.

Diaz, S. A., L. I. Moncada, C.H. Murcia, I. A. Lotta, N. E. Matta, and P. H. Adler. 2015. Integrated taxonomy of a new species of black fly in the subgenus Trichodagmia (Diptera: Simuliidae) from the Pa´ramo Region of Colombia. Zootaxa 3914: 541–557.CrossRefPubMed

Edwards, F.W. 1934. The Simuliidae (Diptera) of Java and Sumatra.Arch. Hydrobiol. 13: 92–138.

Excoffier, L., and H.E.L. Lischer. 2010. Arlequin suite ver 3.5: A new series of programs to perform population genetics analyses under Linux and Windows. Mol. Ecol. Resour. 10: 564–567.CrossRefPubMed

Folmer, O., M. Black, W. Hoeh, R. Lutz, and R. Vrijenhoek. 1994. DNA primers for amplification of mitochondrial cytochrome c oxidase subunit I from diverse metazoan invertebrates.Mol. Mar. Biol. Biotechnol. 3:294–299.PubMed

Ilmonen, J., P. H. Adler, B. Malmqvist, and A. Cywinska. 2009. The Simulium vernum group (Diptera: Simuliidae) in Europe: multiple character sets for assessing species status. Zool. J. Linn. Soc. 156:847–863.CrossRef

Kachvoryan, E. A., L. A. Chubareva, N. A. Petrova, and L. S. Mirumyan. 1996. Frequency changes of B chromosomes in synanthropic species of bloodsucking blackflies (Diptera, Simuliidae). Genetika 32: 637–640.

Kuvangkadilok, C., S. Phayuhasena, and C. Boonkemtong 1999. Larval polytene chromosomes of five species of blackflies (Diptera: Simuliidae) from doi inthanon national park, Northern Thailand. Cytologia 64:197–207.CrossRef

Kuvangkadilok, C., U. Lualon, and V. Baimai 2008. Cytotaxonomy of Simulium siamense Takaoka and Suzuki (Diptera: Simuliidae) in Thailand. Genome 51: 972–987.CrossRefPubMed

Malmqvist, B., P. H. Adler, K. Kuusela, R.W. Merritt, R. S. Wotton. 2004. Black flies in the boreal biome, key organisms in both terrestrial and aquatic environments: A review. Ecoscience 11: 187–200.

Meier, R., K. Shiyang, G. Vaidya, and P.K.L. Ng. 2006. DNA barcoding and taxonomy in Diptera: A tale of high intraspecific variability and low identification success. Syst. Biol. 55: 715–728.CrossRefPubMed

Pramual, P., and P. H. Adler. 2014. DNA barcoding of tropical black flies (Diptera: Simuliidae) of Thailand. Mol. Ecol. Resour. 14: 262–271.CrossRefPubMed

Pramual, P., and C. Kuvangkadilok. 2012. Integrated cytogenetic, ecological, and DNA barcode study reveals cryptic diversity in Simulium (Gomphostilbiaangulistylum (Diptera: Simuliidae). Genome 55:447–458.CrossRefPubMed

Pramual, P., and K. Wongpakam. 2011. Cytogenetics of S. siamense Takaoka and Suzuki, 1984 (Diptera: Simuliidae) in northeastern Thailand. Aquat. Insect. 33: 171–184.CrossRef

Pramual, P., and K. Wongpakam. 2013. Population genetics of the high elevation black fly Simulium(Nevermanniafeuerborni Edwards in Thailand. Entomol. Sci. 16: 298–308.CrossRef

Pramual, P., C. Kuvangkadilok, V. Baimai, and C. Walton. 2005. Phylogeography of the black fly Simulium tani(Diptera: Simuliidae) from Thailand as inferred from mtDNA sequences.Mol. Ecol. 14: 3989–4001.CrossRef,PubMed

Pramual, P., K. Wongpakam, and P. H. Adler. 2011. Cryptic biodiversity and phylogenetic relationships revealed by DNA barcoding of Oriental black flies in the subgenus Gomphostilbia (Diptera: Simuliidae). Genome 54:1–9.CrossRefPubMed

Procunier, W. S. 1975. B-chromosomes of Cnephia dacotensis and Cornithophilia (Diptera: Simuliidae). Can. J. Zool. 53: 1638–1647.CrossRefPubMed

Procunier, W. S. 1982. The interdependence of B chromosomes, nucleolar organizer expression, and larval development in the blackfly species Cnephia dacotensis and Cnephia ornithophilia (Diptera: Simuliidae). Can. J. Zool. 60: 2879– 2896.CrossRef

Rivera, J., and D. C. Currie. 2009. Identification of Nearctic black flies using DNA barcodes (Diptera: Simuliidae). Mol. Ecol. Resour. 9: 224–236.CrossRefPubMed

Rothfels, K. H. 1956. Black flies: Sibling, sex and species grouping. J. Hered. 47: 113–122.

Rothfels, K. H. 1979. Cytotaxonomy of black flies (Simuliidae). Annu. Rev. Entomol. 24: 507–539.CrossRef

Rothfels, K. H., and R. W. Dunbar. 1953. The salivary gland chromosomes of the black fly Simulium vittatumZett. Can. J. Zool. 31: 226–241.CrossRef

Takaoka, H., and W. Srisuka. 2011. A new species of Simulium (Nevermannia) (Diptera, Simuliidae) from Thailand, with keys to members of the Simulium feuerborni species- group in Thailand. ZooKeys 89:57–70.CrossRefPubMed

Tangkawanit, U., C. Kuvangkadilok, V. Baimai, and P. H. Adler. 2009. Cytosystematics of the Simulium tuberosum group (Diptera: Simuliidae) in Thailand. Zool. J. Linn. Soc. 155: 289–315.CrossRef

 

Journal of Medical Entomology

Published by: Entomological Society of America

Print ISSN: 0022-2585

Online ISSN: 1938-2928

Current: Nov 2015 : Volume , 52 Issue 6

BioOne Member Since: 2001

Frequency: Bimonthly

Impact Factor: 1.953

ISI Journal Citation Reports® Rankings:

14/92 – Entomology

16/133 – Veterinary Sciences

Eigenfactor™: Journal of Medical Entomology

Categories: Abstrak dan Artikel ilmiah | Tags: , , , | Leave a comment