browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Nyamuk Demam Berdarah dan Malaria di Kepulauan Seribu DKI Jakarta

Posted by on May 21, 2010

Nyamuk Demam Berdarah dan Malaria di Kepulauan Seribu DKI Jakarta

Abstrak

Upik Kesumawati  Hadi, Susi Soviana, Sugiarto & Musphyanto Chalidaputra. 2008. Nyamuk Demam Berdarah dan Malaria di Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Seminar Nasional Asosiasi Pengendali Nyamuk Indonesia (APNI), 23 Agustus 2008. Makassar, Sulsel.

Ragam jenis nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit telah diamati di kepulauan Seribu pada bulan Mei 2008. Pengamatan jentik nyamuk demam berdarah dilakukan dengan cara pemeriksaan keberadaan larva Aedes pada seluruh tempat penampungan air yang ada di dalam dan sekitar rumah di 3 RW di Kelurahan Pulau Panggang. Adapun pengamatan nyamuk malaria dilakukan dengan cara pemeriksaan keberadaan jentik nyamuk Anopheles dan pengukuran karakter habitat fisik (salinitas, pH, vegetasi, dsb) terutama pada kolam-kolam pengolahan rumput laut di Pulau Pari, dan juga dilakukan pengukuran aktivitas menggigit nyamuk baik di dalam maupun di luar rumah sejak jam enam sore hingga jam enam pagi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Pulau Panggang terdapat lebih dari 50% wadah penampungan air berupa drum plastik penampung air hujan yang terdapat di luar rumah yang sangat potensial bagi perkembangan nyamuk. Angka jentik Aedes aegypti menunjukkan ukuran yang sangat tinggi, yaitu berturut-turut Container Index (CI) sebesar 53,58; House Index (HI) 82,21 dan Breteau Index (BI) 147,57. Pengamatan terhadap tempat perindukan jentik nyamuk malaria di Pulau Pari tidak ditemukan larva nyamuk Anopheles, dan demikian pula halnya dengan nyamuk yang dewasa tidak ditemukan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 99% dari semua jenis nyamuk yang tertangkap pada malam hari terdapat di dalam rumah, dan 94% di luar  rumah adalah jenis Culex quinquefasciatus. Dengan demikian meskipun daerah ini dari nyamuk malaria, akan tetapi melihat tingginya angka jentik nyamuk demam berdarah dan tingginya populasi nyamuk C. quinquefasciatus maka pemerintah harus waspada. Kedua hal ini merupakan potensi bahaya dalam penyebaran penyakit tular vektor asal nyamuk, apalagi mengingat pengembangan wilayah ini menjadi daerah tujuan wisata.

Kata Kunci: Nyamuk malaria, demam berdarah, Aedes aegypti,  Kepulauan Seribu, DKI Jakarta


Leave a Reply