browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

MENGENAL KECOA, SEMUT DAN LABAH-LABAH

Posted by on May 25, 2010

Oleh Upik Kesumawati Hadi, Bagian Parasitologi & Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan IPB

Kecoa, semut, dan labah-labah merupakan mahluk hidup yang tidak asing lagi bagi kita, karena hidup berdampingan dengan manusia di sekitar permukiman. Sesungguhnya ketiga mahluk ini tidak diinginkan kehadirannya, karena ketiganya bisa memberikan reputasi buruk bagi pemukim. Keberadaan mahluk ini di rumah dapat mengganggu dan menyebarkan berbagai penyakit dan alergen, dan bila dijumpai di restoran dan hotel berbintang dapat menurunkan reputasi posisi mereka,

Bagaimana ketiga macam artropoda pengganggu tersebut menjalankan aktifitas kehidupannya, mulai dari kecil hingga dewasa, dan perilakunya di sekitar permukiman, berikut ini akan diuraikan. Mengenal perikehidupan suatu mahluk pengganggu merupakan hal yang sangat mendasar, apabila kita berupaya ingin menyingkirkan dan mengendalikan mahluk tersebut dari permukiman manusia.

1. Kecoa atau Lipas

Keberadaan kecoa atau lipas di muka bumi sejak 300 juta tahun yang lalu. Di dalam pengelompokkan makhluk hidup (taksonomi), dahulu lipas sering dikelompokkan dengan belalang dan cengkerik (Ordo Orthoptera). Akan tetapi sekarang lipas menjadi kelompok tersendiri yaitu Ordo Dictyoptera atau Blattaria.  Lipas diduga masih kerabat dengan rayap atau termites. Hidup kecoa selalu dikaitkan dengan sanitasi dalam kehidupan manusia, ternak dan hewan yang berdekatan dengan manusia (sinantropik),  

Jenis-jenis lipas yang paling banyak terdapat di lingkungan permukiman adalah Periplaneta americana (kecoa amerika) dan Blatella germanica (kecoa jerman). Selain itu masih banyak jenis-jenis lainnya, seperti Periplaneta australasiae (kecoa australia), P. brunnea (kecoa coklat), Neostylopyga rombifolia, Nauphoeta cinerea dan Symploce sp, meskipun keberadaannya jarang.

 

Struktur tubuh kecoa

Tubuh kecoa berbentuk oval atau lonjong (pipih dorsoventral) dan berukuran sekitar 1 – 5 cm (Gambar 1). Tubuhnya memiliki lapisan kulit luar (integumen) yang halus dan berwarna dari coklat muda sampai tua (gambir) atau kehitaman. Ia mempunyai tungkai (kaki) yang kokoh, sepasang antena yang panjang dan mulut dengan gigi geraham yang kuat. Sayapnya terdiri atas dua pasang, pasangan sayap kedua lebar dan kokoh,  sedangkan pasangan sayap pertama berfungsi sebagai pelingdung sayap dan disebut tegmina. Tegmina ini lebih kaku dan kuat dan dapat melindungi tubuhnya dari kekeringan.

Gambar 1     Struktur Tubuh Kecoa

 

Daur hidup dan perilaku Kecoa

Kehidupan kecoa berawal dari telur (Gambr 2). Telur tidak diletakkan satu persatu di alam tetapi sekumpulan telur  (12-40 butir) diletakkan secara teratur di dalam satu kantung yang disebut ooteka yang berbentuk seperti dompet atau kacang. Warnanya coklat sampai hitam kecoklatan. Ooteka ini diletakkan pada sudut  barang/perabotan yang gelap dan lembab.  Telur menetas menjadi nimfa dalam yang berwarna keputihan dan belum bersayap. Jumlah instar sangat spesifik untuk setiap jenis kecoa, jumlahnya bervariasi antara 6-13 instar tergantung pada jenis kecoa, suhu dan kelembaban lingkungan. Stadium nimfa  berlangsung 2-4 bulan pada jenis yang kecil (seperti B. germanica), dan satu hingga beberapa tahun pada yang besar (seperti P. americana). Kecoa dewasa berumur beberapa bulan, bahkan sampai dengan dua tahun tergantung jenis kecoa.

Gambar 2  Daur Hidup Kecoa

 

Kecoa berkembang dengan baik di dalam atau di lingkungan gedung dan tempat lainnya yang didalamnya tersedia bahan makanan dan terlindung. Dapur komersil seringkali bisa mendukung ratusan bahkan ribuan lipas dalam berbagai stadium tinggal dengan nyaman. Kecoa bisa pindah dari satu tempat ke yang lain dalam bentuk individu hidup atau kantung telur yang menempel pada berbagai objek seperti kardus bahan makanan, tas/koper, furnitur, bus, kereta api, kapal laut dan pesawat.

Beberapa perilaku kecoa yang perlu menjadi bahan pertimbangan adalah kebiasaannya yang omnivor (pemakan segala) dan aktif nokturnal. Apabila melihat ada yang aktif siang hari, itu menunjukkan sudah overpopulasi. Lipas mempunyai sifat thigmotactic, yaitu istirahat di dalam celah-celah dinding dalam waktu lama (tiga perempat hari). Lipas dewasa dan pradewasa seringkali istirahat dalam bentuk kelompok yang besar bersama-sama di celah yang sempit.

 

2.  Semut

Semut termasuk famili Formicidae, ordo Hymenoptera, yaitu kelompok serangga yang anggotanya selain semut adalah tawon dan lebah. Semut adalah serangga sosial yang hidupnya dalam sarang yang lebih kurang bersifat permanen. Ukuran koloni sangat bervariasi dan kebanyakan lokasinya di dalam tanah, kayu, dan diantara batu-batuan. Perilaku makannya berbeda-beda, ada yang predator, bangkai, cairan tanaman, atau secara umum yang mengandung gula, atau pemakan segala (omnivora). Semut adalah serangga yang sangat familiar di sekitar lingkungan kita tinggal. Semut bisa dilihat di dinding bangunan, dapur, rumput lapangan atau di kebun, kayu yang membusuk atau batu-batuan. Sebagai kelompok, maka semut tergolong serangga yang paling sukses.

Selain sebagai pengganggu (nuisance) di dalam dan di sekitar gedung, semut juga berpotensi menularkan penyakit pada manusia dan hewan.

Stuktur Tubuh Semut

Secara khas, semut mempunyai tiga bagian tubuh yang jelas, yaitu kepala, toraks dan abdomen (Gambar 3 dan 5). Umumnya, ruas abdomen pertama atau dua ruas abdomen depan (yang berhubungan dengan toraks) lebih kecil dari pada yang lainnya sehingga tampak seperti pinggang. Ruas abdomen basal yang kecil ini disebut pedisel atau petiol, biasanya mempunyai satu atau dua tonjolan yang disebut node, sedang ruas bagian belakangnya disebut gaster. Kepalanya terdapat sepasang mata majemuk, sepasang antena yang membentuk siku (elbowed) dan kadang-kadang mempunyai oseli. Sayapnya (bila ada) bening (membranus), dan sayap depan lebih luas dan panjang dari pada sayap belakang.

Gambar  3   Struktur tubuh semut pekerja

 

 

Daur Hidup Semut

Individu semut mengalami metamorfosis sempurna dalam perkembangannya. Telurnya sangat kecil dan berwarna putih seperti susu.Larva yang baru menetas berwarna putih seperti ulat dengan kepala menyempit ke arah depan. Larva pertama kali ini diberi makan oleh yang dewasa, larva generasi berikutnya diberi makan oleh pekerja. Setelah cukup makan dan beberapa kali molting (menyilih) akan berubah menjadi pupa. Pupa bentuknya seperti dewasa tetapi lebih lunak, berwarna putih krem, dan tidak aktif. Beberapa spesies, pupanya terselubung oleh kokon sutera.  Dewasa akan muncul dalam beberapa jam atau hari dan akan mengalami proses pengerasan dan penggelapan kutikula. Perkembangan dari stadium telur sampai menjadi dewasa berkisar 6 minggu lebih, tergantung spesies, tersedianya makanan, suhu, musim dan faktor lain.

Gambar  4   Daur hidup semut, (a)  ratu (betina reproduktif, awalnya bersayap, (b)  telur, (c)  larva, (d) pupa, (e) pekerja, (f)  prajurit, (g)  jantan reproduktif (bersayap).

Sebagai serangga sosial, semut hidup di dalam koloni yang terdiri atas banyak individu, dari jumlah ratusan hingga ribuan. Biasanya setiap koloni terdiri atas kelompok pekerja, pradewasa (larva dan pupa), ratu dan jantan. Tugas dan fungsi setiap individu ditentukan oleh sistem kasta  yang secara umum terdiri atas individu reproduktif (ratu) dan nonreproduktif (pekerja) seperti berikut ini:

  1. Jantan. Semut dewasa bersayap. Tugas utamanya adalah untuk kawin dengan yang betina. Proses kawin terjadi di dalam sarang (di tanah), atau bahkan di udara (swarming).
  2. Betina (Ratu). Kasta ini mempunyai tubuh yang paling besar. Betina ini memulai hidupnya sebagai serangga bersayap, tetapi sayap segera dijatuhkan setelah kawin. Secara normal betina kawin hanya sekali, dan dia akan memulai merawat keturunannya. Beberapa spesies hanya mempunyai satu betina reproduktif (ratu), sedangkan lainnya bisa banyak. Biasanya betina bisa hidup lebih dari 15 tahun.
  3. Pekerja. Kasta ini terdiri atas betina steril tanpa sayap. Kelompok ini mempunyai anggota terbanyak. Tugasnya merawat dan membuat sarang, memberi makan larva dan kasta lain, merawat telur, mempertahankan koloni dari musuh dan lain-lain. Beberapa spesies mempunyai bentuk pekerja yang berbeda-beda. Pekerja besar dengan kepala yang berkembang baik seringkali disebut prajurit. Pekerja kebanyakan hidup tidak lebih dari satu tahun.

Berbagai jenis semut yang penting dan berada disekitar kita antara lain adalah semut pharaoh Monomorium pharaonis, semut pencuri  (Solenopsis molesta) , semut api (Solenopsis invicta), semut gila (Paratrechina longicornis), semut bau (Tapinoma sessile, T. melanocephalum, T. indica,) .

3    Labah-labah

 

Labah-labah bukan termasuk serangga tetapi kelas Arachnida, yaitu sekelompok dengan caplak, tungau, dan kalajengking. Laba-labah termasuk ke dalam ordo Araneae. Semua labah-labah kecuali kelompok famili Symphytognathidae dan Uloboridae, mempunyai kelenjar venom yang digunakan untuk menundukkan mangsa. Ketika terancam, labah-labah seringkali melindungi dirinya dengan mengigit, dengan cara demikian ia  mengeluarkan toksin ke kulit vertebrata. Pada kebanyakan kasus, venom menimbulkan reaksi lokal yang ringan dan tidak memerlukan perawatan medis. Labah-labah lainnya mempunyai potensi meracuni yang lebih hebat dan dapat menimbulkan reaksi serius pada korban atau kematian. Labah-labah kelompok ini di seluruh dunia hanya sekitar hanya 60 jenis yang dianggap berbahaya secara medis bagi manusia. Kebanyakan ditemukan di daerah subtropis dan tropis, beberapa spesies di antaranya menyebar ke daerah beiklim sedang, terutama pada daerah iklim seperti di daerah Timur tengah

Percunan oleh labah-labah disebut araneisma, berasal dari Araneae, yaitu kelompok ordo pada Arachnida, tempat laba-laba tergolong. Araneisma akibat gigitan laba-laba tertentu seringkali disebutkan di belakang nama genusnya, sebagai contoh atraksisma oleh labah-labah Atrax sp,  cheiracanthisma oleh Cheiracanthium spp, latrodektisma oleh Latrodectus spp, phoneurtriisma oleh Phoneutria spp, dan tegenariisma oleh Tegenaria spp.

Labah-labah juga dapat membuat orang takut yang luar biasa, panik, atau histeria sehingga disebut arachnophobia, atau lebih spesifik disebut juga araneophobia.

Struktur Tubuh Labah-labah

 Tubuh labah-labah terbagi dalam dua bagian, yaitu sefalotorakas (prosoma) yang merupakan gabungan antara torakas dan kepala di bagian depan dan belakang adalah abdomen ( ophistosoma) (Gambar 5). Di daerah sefalotorak terdapat khelisera, pedipalpi, mata dan tungkai Khelisera merupakan sepasang organ yang digunakan untuk menaklukkan mangsa atau menggigit sebagi bentuk pertahanan kalau terancam. Pada beberapa kelompok labah-labah alat ini digunakan sebagai alat menggali (pada kelompok labah-labah penjerat), untuk mengangkut mangsa dan membawa kantung telur pada beberapa labah-labah lainnya. Setiap khelisera terdiri atas bagian dasar yang kuat (paturon) dan bagian gigi taring yang dapat bergerak (fang). Fang ini terletak di dalam celah dan akan bergerak saat berfugsi. Di dekat bagian ujung setiap fang terdapat lubang halus tempat keluarnya venom, yang berasal dari kelenjar venom di bagian dasar kelisera. Mulut laba-laba terletak tepat di belakang kelisera. Sebagian besar laba-laba mempunyai 8 mata terletak di bagian depan sefalotoraks.

Gambar  5   Struktur tubuh Laba-labah

Mata labah-labah berupa mata sederhana (ocelli) biasanya jumlahnya tiga atau empat pasang mata terletak pada bagian atas sefalotoraks tersusun dalam dua baris. Susunan mata pada sefalotoraks di setiap spesies konstan. Susunan mata ini digunakan sebagai formula untuk membedakan beberapa famili dan genus. Sebagai contoh beberapa spesies Loxosceles mempunyai enam pasang mata sederhana. Sepasang pedipalpi pada laba-laba terdiri atas enam ruas, dan muncul persis di belakang mulut. Struktur ini sangat peka terhadap rangsangan dari luar. Pada labah-labah pradewasa dan betina dewasa, pedipalpi menyerupai tungkai, sedangkan pada yang jantan merupakan modifikasi alat kopulasi. Labah-labah jantan dapat dikenali oleh adanya pembesaran daerah ujung pedipalpi, dan umumnya berukuran lebih kecil daripada yang betina.

Bagian tungkai labah-labah terdiri atas empat pasang yang masing-masing mempunyai tujuh ruas yaitu koksa, trokhanter, femur, patela, tibia, metatarsus, dan tarsus. Labah-labah yang berjalan di atas tanah dan benda lain tanpa membangun jaringan  jebakan hanya mempunyai dua kuku tarsal pada masing-masing tungkai. Labah-labah pemburu mempunyai berkas rambut yang lebat (disebut skopulae) tepat di bawah kuku atau sepanjang bagian ventral tarsus dan metatarsus. Mereka ini membuat perlekatan fisik untuk memudahkan memanjat pada permukaan halus dan menangkap mangsa. Skopulae menonjol terutama pada Tarantula. Pada labah-labah pemintal mempunyai karakter tiga kuku tarsal. Kuku bagian tengah digunakan untuk memegang pintalan sutera yang tergantung. Cairan kelenjar sutera ini begitu keluar dari tabung pemintal dan terkontak udara, maka akan mengeras menjadi benang. Setiap labah-labah paling tidak membuat tiga macam benang untuk maksud yang berlain-lainan, seperti tali penarik tebal, jala halus, dan penutup-pelindung yang kuat. Benang ini elastis atau rekat dengan pola berupa tali jerat rumit. Bahkan dalam kopulasipun benang sutera memainkan peranan.

Di antara abdomen labah-labah terdapat pedisel yang sempit yang berhubungan dengan sefalotoraks. Pedisel ini membuat fleksibilitas gerakan anatara kedua bagian tubuh itu lebih baik. Abdomen pada labah-labah betina  membulat besar, kadang-kadang terlihat labah-labah muda menempel pada tubuh betina, atau dia menjaga kantung telur. Jantan bisanya tidak memintal benang, kecuali pada beberapa kasus selama proses perkawinan.

Di bagian ujung abdomen terdapat spineret, tempat dikeluarkannya sutera yang berasal dari kelenjar sutera melalui spigot-spigot kecil. Kebanyakan labah-labah mempunyai tiga pasang spineret, yang ukuran dan panjangnya bervariasi, serta sangat berguna dalam menentukan karakter-karakter taksonomi.

Daur Hidup Labah-labah

Setelah fertilisasi (pembuahan), labah-labah betina menghasilkan kantung telur, yang ukuran dan bentuknya berbeda-beda tergantung spesies. Kantung telur umumnya terdiri atas kumpulan benang sutera yang membungkus telur. Beberapa spesies meninggalkan kantung ini di dekat habitatnya atau di dalam galian. Telur menetas di dalam kantung, dan labah labah muda berganti kulit sekali sebulum muncul. Labah-labah muda ini disebut spiderling atau nimfa, dan sudah mencari makanan sendiri. Nimfa ini adalah bentuk miniatur labah-labah dewasa, yang mempunyai spineret dan kelenjar racun yang sudah berfungsi. Nimfa mengalami molting 2-12 kali sebagai juvenil, tergantung jenis laba-labah, sebelum mencapai dewasa kelamin. Labah-labah ini bisa memencar dengan mengembangkan benang-benang suteranya dan terbawa angin.

Daur hidup pada kebanyakan labah-labah pemintal benang adalah kurang dari 12 bulan, tetapi pada labah-labah penggali tanah  berekembang lebih lama dan tampaknya mempunyai daur hidup yang lebih lama (beberapa tahun).

Perkawinan labah-labah sangat menarik. Organ reproduksi pada yang jantan terletak di pedipalpi. Bila siap berkopulasi laba-laba jantan memintal jaring kecil dan menaruh setitik spermanya di situ atau di tanah atau beberapa tumpukan serasah. Setelah itu dia mengambil cairan tersebut dipindahkan ke dalam labu-labu kecil pada pedipalpinya. Setelah itu dia mengambil cairan tersebut dengan pedipalpi dan mencari betina,  serta menyalurkannya kepada spermateka betina. Setelah betina dibuahi, jantan seringkali ditangkap dan dimakan oleh yang betina.

 

Daftar Pustaka

Bennet, GW, JM Owens & RM Corrigan. 1982. Truman’s Scientific Guide to pest control Operations. 4th Ed. A Purdue University/Advanstar Communications Project. USA.

 

Chong ASC & CY Lee. 1999 Household ants. Universiti Sains Malaysia. Penang.

 

Hadlington, P & J Gerozisis. 1988. Urban Pest Control in Australia. New South Wales university Press. Australia.

 

Lee, CY, HH Yap, NL Chong, & Z Jaal. 1999. Urban pest control. A Malaysian perspective. Universiti Sains Malaysia. Penang.

 

Lee CY & HH Yap. 1999. Overview on urban pests: A Malaysian perspective. Universiti Sains Malaysia. Penang.

 

Mullen, G.R. 2002. Spiders (Araneae). Dalam Medical and Veterinary Entomology Ed. Mellen G & L. Durden. Academic Press, San Francisco. USA.

 

Sigit, S.H & Upik K. Hadi. 2006. Hama Permukiman Indonesia. Pengenalan, Biologi dan Pengendalian.  Unit Kajian Pengendalian Hama Permukiman Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Indonesia.

 

 

WHO. 1988. Urban vector and pest control. Eleventh report of the WHO Expert Committee on Vector Biology and Control. Technical Report Series 767. World Helth Organization, Geneva, Switzerland.

 

Leave a Reply