browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Apakah Ektoparasit Itu?

Posted by on June 4, 2010

Ektoparasit adalah parasit yang hidupnya menumpang di bagian luar dari tempatnya bergantung atau pada permukaan tubuh inangnya (host). Sebagian terbesar dari kelompok ektoparasit yaitu golongan serangga (Kelas Insecta), dan lainnya adalah kelompok akari (Kelas Arachnida) seperti caplak atau sengkenit, tungau, laba-laba, dan kalajengking. Selain itu, artropoda dari Kelas Chilopoda (kelabang), dan Kelas Diplopoda (keluwing) juga termasuk ektoparasit.

Berdasarkan sifat ektoparasit dikenal adanya ektoparasit obligat dan fakultatif. Yang bersifat obligat artinya seluruh stadiumnya, mulai dari pradewasa sampai dewasa, hidup bergantung kepada inangnya. Yang menjadi inang ektoparasit adalah manusia, hewan mamalia dan unggas. Sebagai contoh, kutu penghisap darah (Anoplura), menghabiskan seluruh waktunya diantara permukaan tubuh inang, yaitu pada bulu dan rambut mamalia. Kutu ini hidup bersama inang, dan makan darah atau jaringan inangnya (manusia atau hewan). Kelompok yang bersifat fakultatif artinya ektoparasit itu menghabiskan waktunya sebagian besar di luar inangnya. Mereka datang mengganggu inang hanya pada saat makan atau menghisap darah ketika diperlukannya. Contohnya, kutu busuk (Hemiptera: Cimicidae), datang pada saat membutuhkan darah, setelah itu bersembunyi di tempat-tempat gelap atau celah-celah yang terlindung, jauh dari inangnya. Demikian juga yang dilakukan oleh berbagai jenis serangga penghisap darah dari Ordo Diptera, khususnya famili Culicidae (nyamuk), Ceratopogonidae (agas, mrutu), Simuliidae (lalat punuk), Tabanidae (lalat pitak, lalat menjangan), lalat kandang (Stomoxys calcitrans), dan lalat kerbau (Haematobia exigua). Setelah kenyang darah (blood fed), serangga tersebut akan berlindung di tempat peristirahatannya yang aman.

Ektoparasit yang banyak dijumpai di Indonesia antara lain adalah berbagai jenis nyamuk (Culicidae), lalat (Muscidae), kecoa (Dyctioptera), tungau (Parasitiformes), caplak (Acariformes), kutu (Phthiraptera), kutu busuk (Hemiptera), dan pinjal (Siphonaptera).  Peranan ektoparasit dalam kehidupan hewan maupun manusia telah banyak diketahui, dan kerugian yang ditimbulkannya juga sangat beragam. Ektoparasit yang tinggal di bagian permukaan kulit dan diantara rambut dapat menimbulkan iritasi, kegatalan, peradangan, kudisan, miasis, atau berbagai bentuk reaksi alergi dan sejenisnya. Miasis atau belatungan sering terjadi karena infestasi larva lalat Diptera pada jaringan kulit hewan dan manusia. Gejala-gejala tersebut mengakibatkan rasa yang tidak nyaman dan kegelisahan yang dapat menganggu kegiatan sehari-hari. Pada hewan keadaan ini sangat merugikan karena dengan adanya kegelisahan itu dapat membuatnya lupa makan, sehingga dapat menurunkan status gizi, produksi daging atau telur secara drastis.

Serangga  juga seringkali membuat sebagian orang merasa ketakutan, jijik, dan benci terhadap serangga  (entomofobia),  misalnya  kecoa, ulat, kalajengking, laba-laba, lebah dan lainnya. Bagi sebagian orang yang peka terhadap serangga, reaksi alergi, kegatalan, dan dermatitis, merupakan hal yang sering dijumpai. Selain itu beberapa ektoparasit seperti caplak bahkan bisa menimbulkan kelumpuhan akibat racun yang dikeluarkannya (tick paralysis).

Hal lain yang lebih membahayakan lagi dari  ektoparasit ini  adalah peranannya sebagai vektor penular berbagai macam agens penyakit atau inang antara dari agens penular penyakit. Contohnya, berbagai jenis nyamuk Anopheles seperti An. aconitus dan An. sundaicus tidak hanya mengganggu inang dengan gigitannya, tetapi sambil menghisap darah ia juga dapat memindahkan agens penyakit malaria, Plasmodium falciparum, P. vivax, P. malariae, dan P.ovale. Nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus dapat berperan sebagai vektor penyakit demam berdarah dengue, chikungunya dan demam kuning; sedangkan nyamuk  Culex sp sebagai vektor penyakit radang otak yang disebabkan oleh virus Japanese encephalitis pada manusia. Selain sebagai vektor, nyamuk juga dapat berperan sebagai inang antara berbagai jenis cacing filaria baik  pada hewan ataupun manusia. Inang antara artinya nyamuk itu secara normal digunakan oleh agens penyakit (cacing) untuk melangsungkan sebagian daur hidupnya  tetapi tidak sampai mengalami kematangan kelamin. Sebagai contoh, cacing jantung anjing, Dirofilaria immitis, tidak akan berkembang menjadi stadium infektif tanpa melewati tubuh nyamuk. Untuk mencapai stadium ini, larva cacing harus berkembang di dalam tubuh nyamuk. Dan nyamuk akan menularkan stadium infektif ini kepada anjing lain yang sehat ketika ia menghisap darah. Contoh lainnya adalah nyamuk sebagai inang antara penyakit kaki gajah (filariasis) pada manusia yang disebabkan oleh cacing filaria Wuchereria bancrofti,  Brugia malayi, B. pahangi, dan B. timori (Upik Kesumawati Hadi, Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor).

Leave a Reply