browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Mereka Butuh Hidup Berdampingan?

Posted by on June 17, 2010

Fian adalah seorang anak “spesial” penyandang autis yang kini duduk di bangku kelas 3 SD inklusi. Suatu hari pada Agustus 2008, ia ditampar oleh seseorang usai ikut sholat Jum’at di sebuah masjid di Kota Bogor. Rupanya, jamaah yang berada di dekatnya itu merasa terganggu karena ia tidak fokus saat sholat.

Sebuah tamparan yang tentunya berdampak besar bagi psikologis seorang anak kecil yang baru berusia 9 tahun itu itu. Lalu apa jaminan bagi seorang penyandang autis sepertinya untuk memperoleh kesamaan hak dalam hidup bermasyarakat? Sepatutnyalah peristiwa yang menyayat hati semacam ini menjadi perhatian kita, mengingat masih banyak Fian-Fian lain yang kurang beruntung di dunia ini.

Tohiro, sebagai sesama penyandang autis, kepedulian luar biasa ia tunjukkan. Hobinya adalah menggambar orang yang sedang bertempur, mengacungkan senapan dan tank lapis baja sebagai bentuk ungkapan perlawanannya terhadap kekerasan yang sering terjadi terhadap anak-anak khususnya penyandang autis sepertinya. Bahkan usulannya cukup menggelitik, yakni mengusulkan dibentuknya Front Pembela Anak Autis (FPAA). Sebuah singkatan yang mirip dengan kelompok yang sering nongol beritanya di tivi dan koran.

Apa sebenarnya autis itu? Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Yakni gangguan neurologi perpasif yang terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibat gangguan ini sang anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

Karena dorongan otak yang tidak bisa dikendalikannya tersebut, ia biasanya selalu ingin bergerak atau yang sering diistilahkan hiperaktif. Otaknya tanpa sebab yang jelas selalu mengirim perintah-perintah ke tubuhnya untuk terus bergerak. Jika tidak tubuhnya yang bergerak maka lingkungannya yang bergerak dan ia bisa duduk diam memperhatikannya.

Jumlah penyandang autisme saat ini di seluruh dunia telah mencapai 35 juta jiwa. Karena sudah waktunya untuk bahu membahu meningkatkan kepedulian terhadap masalah autisme ini. Wakil delegasi PBB dari Qatar, Nassir Abdelaziz Al-Nassir yang dikenal di negaranya sebagai aktivis pembela hak azasi individu penyandang cacat telah berhasil mengangkat masalah autisme sebagai salah satu agenda tahunan PBB. Tanggal 2 April ditetapkan sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia.

Memang hingga kini belum ditemukan penyebab yang pasti dari gangguan autisme ini. Namun, berbagai terapi telah terbukti turut membantu meningkatkan kualitas hidup individu autistik. Penanganan yang sudah tersedia di Indonesia antara lain terapi perilaku, terapi wicara, terapi okupasi, terapi sensori integrasi, pendidikan khusus, penanganan medikasi dan bimedis, diet khusus. Penanganan lain seperti oxygen hiperbarik, pemberian suplemen tertentu sampai terapi dengan lumba-lumba juga sudah tersedia di beberapa kota besar.

Dalam hal pendidikan, kecerdasan setiap individu sangat bervariasi. Karenanya, intensitas gejala autistik yang ada pada setiap individu juga tidak sama, maka kemungkinan pendidikan bagi individu autistik bervariasi dari “bisa mencapai pendidikan setinggi-tinggi mungkin”, sampai “tidak bisa dididik tetapi hanya dapat dilatih saja”. Karena autisme merupakan gangguan perkembangan dan bukan suatu penyakit, sehingga tidak bisa diistilahkan “dapat disembuhkan”. Hanya individu autistik ini dapat diterapi hingga bisa berbaur dengan individu lain di masyarakat luas secara maksimal, dan pada akhirnya dapat beradaptasi dengan berbagai situasi yang juga dihadapi orang lain pada umumnya.

Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia (YKII) yang telah terbentuk sejak 19 Juni 2005 adalah satu perkumpulan dari para anggota yang menaruh minat besar terhadap pembinaan dan pendidikan penyandang autis. Yayasan ini berperan dalam memberikan pelayanan, perhatian, pengawasan dan perlindungan kepada para penyandang autis yang mereka sebut sebagai warga istimewa. YKII juga berupaya agar mereka yang autis memperoleh kesamaan hak dan kewajiban dalam hidup bermasyarakat terutama dalama pemenuhan pendidikan yang layak.

Peristiwa pwnamparan ini hanyalah puncak sebuah gunung es. Para orang tua dan tentunya anak penyandang autis itu sendiri telah memikul seluruh beban berat gunung es itu. Dijahili (bulliying) di sekolah, dipelototi di mana-mana, dicibir ketika ke dunia luar, adalah bentuk perlakuan diskriminatif yang sering mereka dapatkan. Di hari spesial Hari Peduli Autisme Sedunia ini, Kami hanya ingin mengungkapkan keinginan mereka untuk hidup berdampingan, saling pengertian dan jauh dari kekerasan.  (“Bening”, Media Komunikasi Baznas No 10 April 2009 Rabiul Akhir 1430H, Sumbangan tulisan dari Upik Kesumawati Hadi, orang tua Tohiro Desnanda, yang tergabung dalam Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia, Jl Boulevard Blok O1/16 Taman Cimanggu Bogor 16710, telp 0251-8336615)

Leave a Reply