browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Terapi Lumba-Lumba untuk Penyandang Autis

Posted by on June 21, 2010

Terapi lumba-lumba dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Dolphin Assisted Therapy (DAT) yaitu satu di antara terapi yang menggunakan bantuan hewan, dan dilaporkan memberikan efek perbaikan terhadap pikiran dan  fungsi tubuh, serta kualitas hidup. Terapi ini bukan untuk menyembuhkan penyakit dan bukanlah satu cara yang memberikan suatu keajaiban, tetapi dapat menjadi alternatif cara atau variasi yang bisa diperkenalkan kepada anak penyandang autis. Dengan cara ini kita dapat memberikan pengalaman baru yang cukup menenangkan dan menyenangkan.

Menurut laporan terakhir dari NPO Aspe Elde di Jepang, terapi lumba-lumba mempunyai pengaruh yang sangat baik terhadap anak penyandang autis. Tidak hanya berdasarkan laporan di atas, tetapi ternyata laporan dari berbagai negara di dunia juga memberikan dampak positif yang sama terhadap anak penyandang autis. Sebagi contoh, hasil pengamatan Carla Henco dan Tsuzuki Keiko di Australia (2006) yang saat ini keduanya merupakan terapis dengan bantuan lumba-lumba di negaranya dan satu tempat di Lovina Bali. Mereka menyaksikan sendiri bahwa fungsi motorik halus dan kasar anak-anak, proses belajar, kemampuan kognitif, konsentrasi dan komunikasi, serta kemampuannya untuk berinteraksi dengan orang lain menjadi lebih baik. Dalam empat tahun terakhir, mereka juga menerapkan terapi lumba-lumba ini untuk orang dewasa yang menderita depresi, fobia, gangguan tidur, stroke, dan lain-lainya. Hasilnya juga bagus, penderita menjadi lebih relaks, tidak takut dan lebih seimbang.

Carla Henco dan Tsuzuki Keiko selalu mencatat kejadian-kejadian sebelum dan sesudah melakukan terapi lumba-lumba terhadap peserta, hasilnya selalu menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri, motivasi, kesadaran dan kreativitas pada anak-anak.

Kesan saya sendiri selama mengikuti dan mendampingi mereka dalam kegiatan terapi lumba-lumba di Bali Singaraja Bali dari tanggal 20 hingga 24 Agustus 2007 bersama rombongan kami yang terdiri atas 13 orang anak penyandang autis. Anak-anak ini mempunyai gejala autistik yang beragam, dan dalam waktu lima hari pagi sore, mengikuti kegiatan nyemplung bersama lumba-lumba dengan didampingi pelatihnya, Carla Henco sungguh memberikan efek yang mengagumkan. Ternyata, lumba-lumba dapat mengalihkan penderitaan kami selaku orang tua penyandang anak autis menjadi suatu kegembiraan yang luar biasa. Ya, kami gembira sekali ketika melihat bagaimana lumba-lumba berinteraksi, menyentuh, menyundul, melompati, berputar-putar dengan anak-anak kami di air. Lumba-lumba juga dapat membuat anak-anak menjadi lebih senang dan asyik berenang dan bermain air, lebih fokus, dan lebih relaks. Bagaimana hal ini bisa mempengaruhi fungsi tubuh ini, silakan untuk lebih detailnya bacalah satu bagian cerita buku “Persembahan untuk anakku. Perjuangan Penyembuhan Autisme Melalui Terapi Lumba-Lumba” (Upik Kesumawati Hadi,  Ikatan Keluarga Istimewa” Penerbit Arga Publisher, Jakarta 2008)

Secara ringkas menurut para ahli dikatakan bahawa lumba-lumba menggunakan sistem sonar yang sangat sofistikated yang dipancarkan dalam bentuk vibrasi. Para ahli berkeyakinan bahwa lumba-lumba dapat melihat keadaan dalam tubuh kita mirip seperti penampilan sonogram pada wanita hamil. Pancaran ultrasonik yang dikeluarkan empat kali lebih kuat efeknya daripada terapi yang digunakan di berbagai rumah sakit. Pancaran ini sangat potensial dalam proses penyembuhan. Secara fisiologik, ultrasonik ini dapat mempengaruhi denyut jantung, pernafasan, kontraksi otot, memori dan fungsi pertahanan tubuh.

Demikianlah sekelumit uraian tentang kegiatan terapi lumba-lumba yang pernah kami lakukan sebagai satu di antara berbagai cara demi memaksimalkan potensi anak penyandang autis agar mampu menolong dirinya sendiri di masa datang (Disusun oleh Upik Kesumawati Hadi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB).

Full Cerita silakan baca BUKU “Persembahan untuk anakku. Perjuangan Penyembuhan Autisme Melalui Terapi Lumba-Lumba” Penulis: Upik Kesumawati Hadi,  Ikatan Keluarga Istimewa” Penerbit Arga Publisher, Jakarta 2008

Terapis lumba-lumba dari Australia, Carla Henco sedang melatih Tohiro di Lovina Bali 2007

Tohiro sedang asyik mengejar si jack, sang lumba-lumba di Lovina Bali 2007

Leave a Reply