browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Ikebana (Seni Merangkai Bunga) Ikenobo

Posted by on September 28, 2010

Ikebana adalah seni merangkai bunga gaya Jepang. Ikebana berasal dari kata ikeru yang artinya merangkau atau memberikan nyawa, dan hana artinya bunga. Dalam bahasa Jepang Ikebana dikenal juga dengan istilah kadō (ka, bunga; do, jalan kehidupan). Jadi intinya seni ikebana ini adalah meminfahkan keindahan bunga yang ada di alam ke dalam sebuah jembangan. Lebih jauh lagi orang Jepang mnerapkan filosofi ikebana dalam tiga titik yang mewakili langit, bumi, dan manusia. Oleh karena itu seni ikebana ini benar-benar dilakukan dengan penuh penghayatan.

Seni merangkai bunga gaya Jepang berbeda dengan rangkaian gaya Eropa (Barat). Ikebana sangat simple (sederhana), tidak banyak mempergunakan bunga dan daun. Rangkaian Ikebana juga banyak dipengaruhi unsur keagamaan, sehingga setiap rangkaian mempunyai arti dalam melambangkan kehidupan.

Di Jepang kita mengenal beberapa aliran Ikebana, dan yang terkenal antara lain adalah Ikenobo, Ichiyo, Mishoryu, Ohara, Koryu, Kozan, Chiko, Ryusei-Ha, Saga Goryu, Shinpa Seizan, Shofu Kadokai, Sogetsu. Aliran Ikebana yang sudah masuk ke Indonesia dan resmi terdaftar di The Japan Foundation ada 7 aliran yaitu : Ichiyo, Ikenobo, Koryu, Mishoryu, Ohara, Sogetsu dan Shofu Kadokai.

Ikebana Ikenobo diakui merupakan satu aliran tertua dari Ikebana, yang berkembang di Kyoto. Awal mulanya berkembang pada abad ke-6 dari kebiasaan para biksu di Vihara Rokkakudo yang menaruh rangkaian bunga di altar persembahan. Penamaan Ikenobo diambil dari adanya pondokan kecil (bo) di dekat kolam (ike) yang berada di Vihara. Jadi terjemahan bebasnya kira-kira adalah biksu yang merangkai di dekat kolam. Hingga saat ini baik keberadaan Vihara maupun kolamnya masih terpelihara dengan baik di Kyoto.

Dalam seni merangkai Ikenobo dikenal 3 gaya (style), yaitu : rikka, shoka dan jiyuka.

(1) Rikka (Standing Flower) adalah ikebana gaya tradisional yang banyak dipergunakan untuk perayaan keagamaan. Gaya ini menampilkan keindahan landscape tanaman. Gaya ini berkembang sekitar awal abad 16. Di dalam rangkaian gaya Rikka terdapat tujuh tangkai utama, yaitu : shin, shin-kakushi, soe, soe-uke, mikoshi, nagashi dan maeoki, semuanya mempunyai arti dan makna tersendiri.
(2) Shoka  adalah rangkaian ikebana yang tidak terlalu formal tapi masih tradisional. Gaya ini difokuskan pada bentuk asli tumbuhan. Di dalam gaya Shoka terdapat 3 unsur utama yaitu : shin, soe, dan tai. Pada masa Restorasi Meiji (1868) gaya ini mendapat pengaruh Eropa, sehingga berkembang pula rangkaian dengan nama Nageire yang terjemahan bebasnya adalah “dimasukan” (rangkaian dengan vas tinggi dengan rangkaian hampir bebas) dan Moribana (rangkaian menggunakan wadah rendah dan mulut lebar). Lalu pada tahun 1977 lahir pula gaya baru yaitu Shoka Shimputai, yang lebih modern, terdiri dari 2 unsur utama yaitu shu dan yo, dan unsur pelengkapnya, ashirai.

(3) Jiyuka adalah rangkaian Ikebana  bersifat bebas dimana rangkaiannya berdasarkan kreativitas serta imaginasi. Gaya ini berkembang setelah perang dunia ke-2. Dalam rangkaian ini perangkai dapat mempergunakan kawat, logam dan batu secara menonjol.

Peralatan Merangkai Bunga

Peralatan yang diperlukan dalam ikebana hampir sama dengan peralatan merangkai bunga gaya eropa. Dalam Ikebana perangkai memerlukan kawat dari berbagai ukuran (ketebalan kawat), gunting (gunting khusus ikebana), floral tape (warna hijau dan coklat), selotip, tang bunga (utk mematahkan), kenzan yaitu ( alas berduri tajam tempat mencucukkan bunga), juga semacam pipet besar untuk mengambil air yang lama di vas ketika hendak mengganti air, batu-batuan kecil juga bisa dipergunakan bila mempergunakan vas/wadah/suiban yang tinggi.

Dalam menaruh kenzan untuk vas yang ada kakinya kita pergunakan batu kecil sampai hampir ke mulut/leher vas, baru kita taruh kenzan lalu diberi air sampai sedikit melewati duri-duri kenzan. Kenzan yang asli beratnya bisa 0,5 kg dan tahan karat .

Dalam gaya Rikka batang bawah selalu berpusat pada satu titik atau rapat dan harus lurus terlebih dulu kira-kira 3-4 jari dari air, hal ini melambangkan batang, jadi ibaratnya seperti pohon, vas itu akarnya, tangkai yang lurus itu batangnya, baru ranting-ranting yang bercabang dan bunga.

Dalam gaya Rikka juga ada tehnik mematahkan tapi tidak patah, makanya disini kawat sebagai pedukung penting. Apabila batangnya lunak perangkai bisa memasukan kawat dalam batangnya, apabila keras maka bisa memasangkan kawat di kedua sisinya seperti patah tulang dan melilitkan kawat disekitar tempat yang akan dipatahkan, setelah itu baru dilapisi floral tape. Patahan ini tidak patah seluruhnya tapi masih bisa mengalirkan air sampai ke atas, sehingga batang tidak cepat mati.

Dalam belajar merangkai bunga Ikenobo, seorang murid biasanya akan dilatih pertama kali dengan merangkai bungan dengan gaya Ishhu-ike yaitu rangkaian mempergunakan hanya 1, setelah mahir baru belajar Nishu-ike dengan dua macam bunga atau tangkai/daun, dan setelah itu belajar San su –ike merangkai dengan menggunakan tiga macam bunga atau tangkai/daun . Setelah itu murid akan belajar dengan gaya yang lebih kompleks yaitu Rikka atau Jiyuka (disarikan oleh Upik Kesumawati Hadi, alumni Persada Bogor).

Leave a Reply