browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Bulan Muharam, Awal Tahun Baru Islam

Posted by on December 14, 2010

Bulan Muharam bagi umat Islam mempunyai nilai yang besar dalam penyelamatan akidah umat karena bulan ini mengawali Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Peristiwa ini terjadi tahun 622 Masehi dan menjadikan awal ditetapkannya kalender Hijriah yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Sejak ini setiap tanggal 1 Muharan ditetapkan sebagai awal tahun baru Islam.

 Bulan Muharam juga memiliki arti istimewa bagi umat Islam karena selain ditetapkannya kalender Islam, banyak peristiwa terjadi dalam bulan ini. Satu di antaranya adalah hari Asyura atau hari ke sepuluh di bulan Muharam.  Ketika

Nabi SAW. datang ke Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyura Beliau bertanya, “Apa ini?”  Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini hari baik. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Itu sebabnya (Nabi) Musa berpuasa pada hari itu.”  Dalam riwayat lain ada tambahan, “…maka Musa berpuasa pada hari itu, sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Kami pun berpuasa di hari itu guna menghormati hari tersebut.”  Dalam riwayat lain lagi ada tambahan  “Dan itulah hari ketika perahu Nuh berlabuh di atas bukit Judi, maka Nuh berpuasa di hari itu, sebagai ungkapan syukur.”  Menanggapi kata-kata Yahudi ini, Nabi SAW. bersabda, “Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian.” Setelah itu, beliau berpuasa dan memerintahkan (orang) untuk berpuasa di hari itu.

 ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram) adalah hari yang agung. Inilah hari, seperti disebut dalam hadis di atas, Nabi Musa AS. dan kaumnya, Bani Israil, diselamatkan oleh Allah, sementara Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan ke dalam lautan. Di hari itu Allah memerintahkan Nabi Musa, yang bersama kaumnya dikejar Fir’aun dan kawan-kawan, untuk memukulkan tongkat beliau ke air laut. Tiba-tiba, dengan izin Allah, laut itu terbelah sehingga beliau bersama kaum beliau dapat melewatinya. Begitu mereka tiba di seberang, air laut itu kembali seperti semula, menyergap Fir’aun dan kawan-kawan yang masih berada di tengah.

 Di hari itu pula kapal Nabi Nuh AS berhasil berlabuh di Bukit Judi yang terletak di Armenia bagian selatan, berbatasan dengan Mesopotamia, setelah perahu itu terombang ambing di tengah banjir bandang yang menenggelamkan semua orang kafir.

Peristiwa lain disebutkan bahwa  Nabi Ibrahim AS juga lahir dan selamat dari kobaran api Raja Namrud di hari ‘Asyura’, juga Nabi Idris AS. diangkat ke langit, dan Nabi Yunus AS dikeluarkan dari ikan yang menelannya, juga di hari ‘Asyura’. Peristiwa lainnya yang juga dikaitkan dengan tanggal 10 Muharram adalah hari wafatnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah di Karbala. Saat itu bertepatan dengan tahu 680 M, Husein yang diyakini sebagai imam ke-3 oleh Muslim Syiah, terbunuh dalam pertempuran di Karbala. Peristiwa ini membawa dampak yang besar dalam sejarah perkembangan Islam. Wafatnya Husein yang tragis di hari Asyura dianggap sebagai penderitaan dan penebusan dosa terbesar dalam sejarah Islam. Oleh karena itu peristiwa ini secara khusus diperingati oleh orang-orang Syiah sebagi hari berkabung atas kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib. Hari ini mereka menangis dan berteriak-teriak histeris guna mengenang kematian sang imam.

 Puasa ‘Asyura’ bahkan, menurut satu pendapat, mula-mula diwajibkan. “Orang-orang Jahiliyah biasa berpuasa di hari ‘Asyura’, dan Rasulullah SAW sudah berpuasa di zaman Jahiliyah (maksudnya sebelum hijrah). Ketika beliau tiba di Madinah, beliau berpuasa dan menyuruh sahabat berpuasa di hari ‘Asyura’.

 Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, beliau membatalkan kewajiban puasa pada hari ‘Asyura’. Jadi, barangsiapa mau berpuasa, silakan, dan barangsiapa mau meninggalkannya, ya boleh. Rasulullah SAW. bersabda:  “Ini adalah hari ‘Asyura’, dan tidak diwajibkan atas kalian memuasainya. Aku sendiri berpuasa. Barangsiapa mau, silakan berpuasa, dan siapa mau tidak berpuasa, ya silakan tidak berpuasa.”  Karena puasa bulan Ramadhan disyariatkan pada tahun kedua, sementara ‘Asyura’ itu jatuh di awal tahun (yaitu pada bulan Muharam), maka pensyaratan puasa ‘Asyura’ itu bisa dipastikan pada tahun kedua pula dari hijrah beliau.

 Derajat Keutamaan Puasa Asyura

 Meskipun Rasulullah SAW telah menghapuskan kewajiban puasa ‘Asyura’ dan menggantinya dengan puasa Ramadhan, kesunnahannya masih tetap dipertahankan, dan memiliki derajat keutamaan bagi yang menjalankannya.  Rasulullah SAW  bersbada : “Puasa pada hari Asyura (10 Muharam), aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu “(HR Muslim).  Malah di akhir hayatnya, beliau bermaksud menambah satu hari lagi, yaitu sehari sebelum ‘Asyura’, yang disebut hari Tasu’a’ (tanggal 9 Muharam). Beliau bersabda: “Kalau aku masih hidup hingga tahun depan, aku pasti akan berpuasa pada hari kesembilan dan hari kesepuluh (dari bulan Muharam).”

 Karena beliau wafat pada tahun itu, maka beliau tidak sempat melaksanakan niat beliau tersebut. Beliau hendak menambah satu hari puasa supaya tidak sama dengan Yahudi. “Puasalah kalian pada hari ‘Asyura’, dan berbedalah dengan Yahudi. Berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya,” demikian sabda beliau. Jadi, kalau pada awal kedatangan beliau, beliau cenderung menyamai Yahudi (tentu saja atas petunjuk Allah), termasuk dalam hal ‘Asyura’ dan kiblat, belakangan beliau (dengan petunjuk Allah) cenderung untuk berbeda dengan mereka.

Ungkapan Syukur

Peringatan hari Asyura juga sering dirayakan sebagai ungkapan syukur dengan berbagi kasih sayang kepada keluarga, orang miskin dan anak yatim piatu. Kita di hari Asyura dianjurkan untuk mengungkapkan kasih sayang kepada orang-orang miskin, terutama di lingkungan kita, serta kepada para peminta-minta, dengan memberi mereka sadaqah. Kepada anak-anak yatim piatu, kita dianjurkan untuk memberi santunan serta mengungkapkan kasih sayang dengan mengusap kepala mereka atau tindakan-tindakan lain yang membuat mereka nyaman.

Islam adalah agama yang penuh dengan ajaran tentang kasih dan cinta. Kalau cinta itu dipuji dan dianjurkan, rasa benci dicela habis. Cinta bisa membawa orang masuk ke surga, dan benci bisa menjorokkan orang ke neraka.  Nabi SAW. adalah seorang pecinta dan penyayang. Beliau mencintai keluarga beliau. Beliau mencintai sahabat beliau. Beliau mencintai orang-orang miskin dan anak-anak yatim. Beliau mencintai dan menyayangi anak-anak kecil, tak peduli dia anak siapa. Kalau melihat beliau datang, anak-anak kecil bakal merubung, lalu beliau mengambil dua dari mereka untuk beliau gendong di kanan dan kiri pundak beliau. Kita sebagai umatnya harus meneladani beliau. Kita hendaknya meniru cinta beliau. Dan ungkapan cinta serta kasih sayang itu tidak mengenal waktu, sepanjang zaman. Tetapi khusus di hari ‘Asyura cinta dan kasih itu hendaknya diungkapkan secara lebih hebat.

Adalah hal yang menggembirakan bahwa kini di mana-mana ada gerakan untuk memberi santunan kepada anak-anak yatim piatu pada malam dan hari ‘Asyura”, apakah itu di masjid, di musalla ataupun di panti-panti asuhan. Suatu hal yang terpuji dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah s.a.w. (Disarikan dari berbagai sumber oleh Upik Kesumawati Hadi sebagai renungan di bulan Muharam 1432 H)

Leave a Reply