browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Epidemiologi Japanese Encephalitis

Posted by on February 28, 2011

            Virus JE (Flavivirus, Togaviridae) adalah penyebab radang otak pada manusia yang ditularkan dari babi melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini telah menyebar luas di Asia bagian Timur seperti Jepang, Korea, Siberia, China, Taiwan,Thailand, laos, Kamboja, Vietnam. Philipina, Malaysia, Indonesia, Myanmar, Banglades, India, Srilangka, dan Nepal (Harwood dan James, 1979).

            Di Indonesia kasus JE pertama kali dilaporkan oleh Kho et al. (1972) berdasarkan gejala klinis dan terdapatnya antibodi penghambat aglutinin (HI) terdapat virus Nakayama Japanese encephalitis dalam darah orang penderita. Van Peenen et al. (1974a) berhasil mengisolasi virus JE pertama kali dari pool nyamuk Culex tritaeniorhynchus yang dikoleksi dari sekitar kandang babi di Kapuk, Tanggerang. Penelitian-penelitian lebih lanjut (Koesharyono et al., 1973; Van Peenen et al., 1974b, 1975) tentang ekologi JE dengan fokus babi sebagai inang amplifier, dan berakhir dengan kesimpulan Cx. tritaeniorhynchus sebagai vektor utama JE. Olson et al., (1985) melaporkan selain dari nyamuk Cx. tritaeniorhynchus, virus JE juga dapat diisolasi dari jenis nyamuk Cx. gelidus, Cx. fuscocephalus dan Cx. vishnui yang dikoleksi dari Kapuk, Indonesia.

            Menurut Kanamitsu et al., (1979) vektor JE terdapat di seluruh Indonesia, tetapi di sebelah timur garis Wallace kecuali Lombaok, antibody terhadap JE pada orang sangat jarang teradapat. Berdasarkan fakta ini garis Wallace merupakan batas penyebaran virus JE ke sebelah timur Indonesia. Tetapi perkembangan terakhir menunjukan bahwa ada kemungkinan virus JE ini telah menyebar ke bagian timur Indonesia (Poerwosoedarmo et al.,(1996).

            Di daerah tropis, virus JE senantiasa beredar di antara nyamuk, burung dan babi (Harwood dan James, 1979; Blaha, 1989). Berbagai jenis burung air seperti  burung Heron (burung cangak atau kowak) dan Egret (burung kuntul) merupakan resevoar utama atau inang pemelihara (maintenance host) di alam bagi virus JE. Adapun babi merupakan inang amplifier (amplifier host) yang dapat menunjukan gejala klinis terutama pada babi-babi bunting. Infeksi pada manusia dan kuda dapat menyebabkan gejala encephalitis yang hebat dan fatal, meskipun sebenarnya manusia dan kuda hanya sebagai inang insidental (incidental host). Infeksi yang tidak menampakkan gejala klinis juga terjadi pada sapi, domba, dan kambing, serta hewan lain seperti anjing, kucing, rodensia, kelelawar, ular dan katak.

            Mekanisme penularan virus JE pada manusia terjadi karena nyamuk Cx. tritaeniorhynchus yang seharusnya bersifat zoofilik populasinya menjadi banyak sekali atau terjadi kenaikan yang mendadak dari populasi nyamuk dan sehingga dengan terpaksa nyamuk inipun menggigit manusia yang ada di sekitarnya. Selain itu, dapat juga terjadi karena jumlah babi yang menderita viraemia (mengandung virus JE) menjadi banyak sehingga cadangan virus di alam meningkat dan mudah ditularkan pada manusia.

            Studi FAT pada nyamuk Cx. tritaeniorhynchus menyimpulkan bahwa perbanyakan virus JE terutama terjadi pada sel-sel epitel usus tengah bagian posterior, sel-sel lemak jaringan lainnya merupakan penunjang sehingga sel-sel kelenjar ludah menjadi terinfeksi virus secara berat dan permanent (Doi, 1970). Virus juga berkembang biak dalam sel-sel ovaria nyamuk ini (Hsu et al., 1975). Secara eksperimental terbukti bahwa virus JE dapat ditularkan secara transovarial pada nyamuk Aedes aegypti dan Ae togoi (Rosen et al., 1979).

            Fluktuasi musiman dari populasi nyamuk baik yang pradewasa maupun yang dewasa erat kaitannya dengan fluktuasi epidemi JE. Oleh karena itu penguasaan bionomik suatu vektor merupakan kunci penting dalam mempelajari epidemiologi penyakit yang ditularkan vektor dan membuat perencanaan pengendaliannya.

            Menurut Edelman et al., (1975) di daerah tropis yang virus denguenya endemis, penyakit yang disebabkan oleh arbovirosis grup B yang lain, tidak banyak terdapat, tetapi di daerah beriklim sedang penyakit yang disebabkan oleh arbovirosis grup B selain dengue, lebih banyak terdapat. Ada kecenderungan pula bahwa daerah tropis yang kadar antibodinya terhadap dengue rendah, kadar antibodi terhadap JE tinggi, demikian sebaliknya. Virus JE juga akan kurang berpengaruh terhadap orang yang pernah mendapat infeksi virus dengue.

Bagaimana langkah-langkah antisipatif yang dapat dilakukan?

Full paper disajikan dalam bentuk PDF : Penanganan japanese encephalitis dan hendra-like encephalitis ditinjau dari segi epidemiologi

Leave a Reply