browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Renungan Jumát 8/11

Posted by on June 10, 2011

Sholat

Sudahkah solat kita menjadi sarana mi’raj kita ke hadirat Allah SWT? Ingatkah kita bahwa shalat adalah satu di antara kunci surga?

Dalam bahasa arab sholat berasal dari kata washola, artinya tiba dan bersatu, secara makna artinya doa. Dalam ilmu tasawuf ada  mazhab cinta. Mereka adalah orang-orang yang mendekati Allah dari unsur cinta. Ibnu Arabi membagi 3 jenis cinta yaitu natural, supranatural dan cinta nabi Muhammad SAW sebagai kekasih Allah (waliyullah) kepada Allah.

Cinta natural adalah cinta ayah kepada anaknya atau cinta kepada orang yang berbuat baik untuk kita. Cirinya mementingkan diri dan sangat subjektif. Hewan memiliki cinta ini. Oleh karena itu menurut Ibnu Arabi, jika cinta kita pamrih, maka artinya tidak lebih dari cinta hewan.

Cinta supranatural adalah cinta yang tidak dimiliki hewan, melainkan manusia. Contohnya, cinta seorang ibu kepada anaknya yang tanpa pamrih, semata-mata karena keikhlasan merawat anaknya. Cinta kepada Allah harus kita kembangkan cinta yang demikian.

Cinta Nabi Muhammad SAW kepada Allah, merupakan cinta yang tidak bisa dibayangkan dan tidak ada tandingannya. Bentuk cinta ini misalnya kita tidak melihat dan menjalankan sholat semata-mata hanya kewajiban, tetapi sebagai medium untuk bertemu Allah. Rasulullah bersabda sholat adalah lahan nyawa dan cahaya matanya. Maka ketika datang waktu sholat, Rasulullah berkata qurrata áini al sholat ( cahaya mataku adalah sholat).

Ciri-ciri orang yang seperti nabi ini dia selalu merindukan sholat, menunggu datangnya sholat, seperti merindukan kedatangan kekasihnya. Sholat menjadi ajang pertemuan dengan kekasihnya (qolbun ísyqi atau hati yang rindu). Rasulullah selalu berdoa “Ya Allah berilah aku kesungguhan dalam ibadahku”. Selain itu, ciri rindu kepada Allah lainnya yaitu suka menyendiri berkhalwat, solat tahajud, bertemu dengan Allah.

Abu Said al Kharraj dalam kitabnya Al Luma’ menjelaskan, sholat secara syariat adalah pengabdian, secara tarekat adalah keakraban, dan secara hakekat adalah penyatuan ke haribaan Tuhan. Sholat dikatakan sah apabila mampu membentuk pribadi seseorang dengan perilaku yang positif dan terhindar dari perbuatan negatif.

Sudahkah sholat kita berhasil menjadikan kita merasa intim dan berbahagia dengan Allah? (Disarikan oleh Upik Kesumawati Hadi, FKH IPB Bogor).

Sudah Solat?

Leave a Reply