browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Renungan Jumát 14/11

Posted by on November 25, 2011

Bagaimanakah pribadi berkarakter itu?

Akhir-akhir ini sering terdengar berbagai istilah yang berkaitan dengan karakter, seperti pendidikan berkarakter, pribadi berkarakter dan lain-lain. Idealnya, pribadi yang berkarakter  adalah pribadi-pribadi yang rajin beribadah dan produktif dalam melakukan amal saleh lainnya, serta bisa menahan diri dari tindak-tanduk yang menyimpang karena rasa khauf (takut) kepada Allah. Ketakutan (khauf) adalah pelita hati, karena  dengan khauf akan tampak baik dan buruk hati seseorang.

Dalam QS Ali Imran 175:”Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKU, jika kamu benar-benar orang beriman”. Dalam ayat lain  Allah menjelaskan karakter orang mukmin dengan, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedangkan mereka menyeru kepada Rabb mereka dengan penuh rasa takut (khauf) dan harap (roja’).”(QS As Sajadah:16).

Dalam banyak ayat, Allah bukan hanya memerintahkan agar takut, tetapi juga sering melukiskan berbagai hal yang seharusnya membuahkan rasa takut kepada hamba. Misalnya, ketika menjelaskan huru hara kiamat atau musibah umat. Kaum salafus saleh dulu kala gampang terketuk, tergores bahkan terguncang hatinya dengan menyimak AlQurán.  Amirul mukminin Umar bin Khattab RA, contoh pribadi yang selalu menunjukkan ekspresi ketakutan pada Allah padahal ia seorang yang tegap dan gagah perkasa, seolah tak pantas dengan postur tubuhnya yang tinggi; konon di wajahnya ada dua garis hitam bekas aliran air mata (takut kepadaNYa).

Ketika Umar bin Khattab RA membaca surah At Takwir ayat 1 yang artinya Äpabila matahari digulung,”hingga ayat 10, “Dan apabila catatan-catatan amal perbuatan manusia dibuka”, beliau tersungkur, pingsan.

Getar kecemasan semacam ini sesungguhnya hanya serpihan kecil di antara contoh-contoh pesona akhlak dalam diri sahabat, tabiin, dan orang-orang saleh dahulu kala. Manusia sekarang mungkin perlu melihat secara nyata bagaimana kekuasaan Allah tampil di muka bumi ini sehingga berbagai musibah dan bencanapun datang silih berganti. (Disarikan dari berbagai sumber, Wallahu a’lam bisshawab).

Leave a Reply