browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Omishoka

Posted by on December 29, 2011


Di Jepang hari terakhir dalam setiap tahun  atau tanggal  31 Desember disebut Omishoka. Jadi persiapan untuk menghadapi tahun baru  itu dilaksanakan pada saat omishoka. Keluarga-keluarga di  sini bersama-sama membersihkan rumah mereka  (osouji), membuang barang-barang yang tidak perlu, mempersiapkan makanan yang akan dimakan untuk besok harinya, membuat  mochi  dan lain-lain, dalam rangka untuk menyongsong  tahun baru dengan lebih semangat dan segar. Anak-anak di tengah liburan musim dingin biasanya juga meramaikan suasana  persiapan ini. Demikian juga orang-orang yang merantau di daerah lain pada hari ini semua pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Kantor-kantor dan sekolah semua libur.

Setelah pekerjaan bersih-bersih selesai, mereka memasang dekorasi tahun baru yang terbuat dari ranting  daun pinus dan potongan bambu (kadomatsu) yang dipasang di muka pintu masuk rumah atau gedung. Kadomatsu dipajang secara berpasangan, kadomatsu laki-laki  sebelah kiri dan kadomatsu perempuan  di sebelah kanan. Selain itu dipasang juga tali rami suci yang disebut Shimenawa. Tali dipasang bersama kertas shide digantung di atas pintu depan. Mereka juga menaruh kagami mochi pada  altar untuk sembahyang di rumah  (kamidama)  atau  ia diletakkan pada tempat khusus yang disebut Tokonoma di ruang utama. Secara tradisional, kagami mochi dibuat dengan cara menyusun dua buah mochi berukuran bundar, ditambah sebuah jeruk di atasnya sebagai hiasan.

Pada malamnya mereka menantikan dentangan suara bel  atau lonceng tahun baru (joya no kane) dari kuil-kuil yang bunyinya sebanyak 108 kali atau orang-orang mengunjungi  kuil  untuk berdoa. Mereka  berharap lepas dari segala penderitaan yang disebabkan oleh perbuatan  atau keinginan manusia, yang menurut ajaran Budha jumlahnya 108 kali.

Pada malam itu anggota keluarga yang lebih tua duduk mengelilingi kotatsu (meja yang dilengkapi dengan alat pemanas) dengan alas tatami dan saling toast tepat pada jam 12 malam pergantian tahun.  Makanan yang dimakan pada malam hari bervariasi tergantung daerah.  Biasanya makanan yang dimakan adalah soba khusus yang disebut Toshikoshi soba.  Dengan makan toshikoshi soba  mereka berharap bahwa kehidupan seseorang akan meregang atau memanjang seperti  mie soba.

Soba merupakan salah satu mie Jepang yang dibuat dari tepung buckwheat (sejenis gandum). Soba dimakan setelah dicelupkan ke dalam kuah yang disebut tsuyu. Soba bisa disajikan dalam keadaan dingin, maupun panas. Soba yang dimakan dalam keadaan dingin disebut dengan morisoba atau zarusoba dan soba yang disajikan dalam keadaan panas disebut dengan kakesoba atau shusoba.

Pada malam tahun Baru, kebanyakan keluarga berkumpul di sekitar televisi untuk menonton program-program khusus omisoka dan makan toshikoshi soba.  Acara televisi paling favorit pada malam pergantian tahun adalah Kohaku Uta Gassen, program kompetisi lagu yang ditayangkan NHK TV. Dentangan lonceng tahun baru  di beberapa kuil besar juga disiarkan langsung di televisi dan radio. Malam tahun baru adalah satu di antara hari saat  anak-anak mendapatkan keistimewaan untuk begadang, tidak seperti biasanya dimarahi karena begadang.  (Disusun oleh Upik Kesumawati Hadi, Alumni Persada Bogor, IPB)

Full Paper in PDF    Omishoka

Kadomatsu

Leave a Reply