browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Fenomena Tomcat atau Dermatitis Paederus

Posted by on March 20, 2012

Baru-baru ini di tanah air tercinta ini semua orang dihebohkan oleh adanya serangan Tomcat di Surabaya, dan semua dibuat olehnya menjadi resah. Apakah sesungguhnya Tomcat itu, bagaimana perilakunya dan bagaimana mengatasinya? Berikut ini penulis mencoba menguraikannya, semoga bermanfaat.

Siapakah Tomcat itu? Tomcat merupakan sebutan untuk nama serangga penyebab peradangan kulit atau Dermatitis Paederus. Di Malaysia dikenal dengan istilah bukan Tomcat tetapi Charlee, semut semai atau semut kayap. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Rove beetle, atau Kumbang jelajah atau kumbang pengembara. Dermatitis ini merupakan bentuk  reaksi alergi akibat kontak dengan kumbang atau ordo Coleoptera,  famili Staphylinidae, genus Paederus yang keberadaanya umum di seluruh dunia, khususnya banyak ditemukan di daerah tropis. Kumbang ini sesungguhnya tergolong serangga berguna karena berperan sebagai predator aktif pada beberapa serangga pengganggu tanaman padi, seperti wereng batang coklat, wereng punggung putih, wereng zigzag, wereng hijau dan hama kedelai yang banyak terdapat di iklim tropis.

Bagaimana kumbang ini bisa mencapai hunian manusia? Kumbang dewasa berpindah dari habitatnya dengan berjalan di permukaan tanah atau melalui tajuk tanaman. Pada malam hari ia tertarik pada lampu pijar dan neon, dan sebagai akibatnya, secara tidak sengaja bersentuhan dengan kehidupan manusia. Kumbang ini akan menjadi penggganggu utama ketika jendela atau pintu bangunan rumah dibiarkan terbuka. Kumbang ini tidak menggigit atau menyengat, tapi secara tidak disengaja tersapu atau tergaruk tangan sehingga bagian tubuhnya hancur di atas kulit. Ketika itu ia akan mengeluarkan cairan hemolimfe, yang berisi pederin (C25H45O9N), zat kimia iritan kuat, yang akan menimbulkan reaksi gatal-gatal, rasa terbakar, eritema dan mengalir keluar 12-48 jam kemudian. Lesi-lesi kulit biasanya linear, dan kulit melepuh (vesiko-vitiliginous), bisa juga terjadi konjungtivitis pada mata atau bungkul-bungkul kemerahan. Racun tersebut tidak mematikan meskipun konsentrasi yang dikeluarkan cukup tinggi.

Beberapa laporan penelitian menunjukkan bahwa biosintesis pederin terjadi hanya pada kumbang betina tertentu. Keberadaan bakteri endosymbiotic gram negatif tertentu pada betina (+) tampaknya berperan penting untuk sintesis pederin. DNA dari bakteri simbiotik tergolong dalam genus Pseudomonas, dan Pseudomonas aeruginosa. Oleh karenanya, serangga betina yang infektif membawa bakteri tersebut haemolymphnya mengandung paederin yang bersifat racun yang dapat menyebabkan gejala radang dan melepuh pada kulit manusia. Lepuh akan pecah dan mengering atau dapat bernanah, dalam waktu kurang lebih 2 minggu baru akan pulih kembali.

Bagaimana bentuk kumbang Tomcat?  Kumbang Paederus dewasa umumnya berukuran 7 sampai 10 mm panjang dan 0,5 sampai 1 mm lebar. Di Indonesia jenis yang paling banyak dijumpai adalah Paederus fuscipes (Kalshoven 1981) dan satu jenis lagi tetapi tidak sebanyak yang pertama yaitu Paederus tamulus.  Tubuh kumbang Paederus berbentuk memanjang, terbagi menjadi tiga yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Bagian kepala, perut bagian bawah, dan elitera (struktur sayap pelindung) berwarna hitam, dan bagian dada serta perut atas berwarna merah oranye. Kakinya terdiri atas tiga pasang dengan jumlah ruas tarsi kaki depan, tengah, dan belakang adalah 5-5-5, serta tidak berkuku. Sayapnya dua pasang, tetapi tidak menutupi seluruh abdomen, hanya menutupi ruas abdomen kesatu sampai dengan ketiga. Sayap depan mengeras disebut elitera, dan berfungsi sebagai perisai, sedangkan sayap yang kedua membranus atau bening digunakan untuk terbang.

Jenis Paederus fuscipes, terlihat pronotumnya berbentuk oval memanjang, kaki-kakinya berwarna kuning kecoklat-coklatan (oranye) kecuali bagian apeks femur ketiga. Terminal segmen pada palpi berwarna coklat. Bagian basal elitera berjarak sangat dekat dan terlihat seperti menempel pada pronotum.

Berbeda dengan P. fuscipes, jenis P. tamulus memiliki pronotum berbentuk agak membulat tidak memanjang seperti pada P. fuscipes semua kaki-kakinya berwarna coklat kehitam-hitaman, terminal segmen pada palpi juga berwarna coklat kehitam-hitaman, bagian basal elitera berjarak tidak terlalu dekat sehingga terlihat tidak menempel pada pronotum.

Habitat dan Perilaku Tomcat seperti apa? Kumbang ini berkembang biak di habitat yang lembab seperti  daun busuk basah dan tanah. Menurut FAO (1994) serangga ini efektif memangsa wereng coklat hama padi di Bogor dengan daur hidup dari telur sampai menjadi imago selama 18 hari. Stadium telur = 4 hari, larva = 9,2 hari, prepupa = 1 hari, dan pupa = 3,8 hari. Lama hidup serangga betina adalah 113,8 hari dan serangga jantan adalah 109,2 hari. Kemampuan bertelur 106 butir per betina. Masa inkubasi telur selama 4 hari. Persentase penetasan 90,20 persen. Persentase menjadi dewasa adalah 77,60 persen. Kemampuan memangsa wereng coklat hama adalah 7,3; 7,5; 4,2; 3,2; dan 2,3 masing-masing instar 1, 2, 3, 4, dan 5.

Menurut Kalshoven (1981) P. fuscipes yang ada di Indonesia tidak efektif sebagai predator wereng coklat hama padi karena sifatnya yang polifagus, tetapi beberapa petani dan praktisi di lapangan serta FAO (1994) menyatakan bahwa serangga ini cukup potensial sebagai musuh alami hama pada tanaman padi. Oleh karena itu meskipun genus Paederus ini dimanfaatkan sebagai musuh alami hama tanaman, semua harus waspada dan hati-hati. Paederus akan berbahaya bagi manusia apabila tergenjet dan hemolimfe atau darahnya bersinggungan dengan kulit manusia.

Populasi kumbang meningkat pesat pada akhir bulan musim hujan (bulan Maret dan April) dan kemudian dengan cepat berkurang dengan timbulnya cuaca kering pada bulan-bulan berikutnya. Beberapa laporan penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pesat dalam populasi mereka telah dikaitkan dengan peningkatan hujan terkait dengan fenomena el Nino di beberapa negara beberapa waktu yang lalu.

Bagaimana pencegahan dan penanganannya? Upaya mencegah kontak dengan kumbang ini merupakan metode utama untuk menghindari dermatitis Paederus. Oleh karena itu perlu belajar mengenali bentuk kumbang Paederus, agar sedapat mungkin bila kenal maka tidak akan menggencet atau menghancurkan serangga ini, dan infeksi dapat dicegah. Jika kumbang hinggap pada kulit anda, tiuplah dengan mulut agar dia terbang atau upayakan agar kumbang  berjalan ke secarik kertas dan setelah itu singkirkan jauh-jauh. Daerah kulit bekas kontak dengan kumbang harus segera dicuci dengan sabun dan air, dan setiap pakaian yang berkontak dengan kumbang harus dicuci juga. Pintu harus tetap tertutup dan skrining jendela harus tetap dalam keadaan baik untuk membantu mengurangi masuknya serangga ke dalam bangunan. Karena kumbang tertarik pada cahaya, lampu harus dimatikan ketika orang tidur. Serangga yang ada di sekitar dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida rumah tangga atau bila populasi menyebar ke wilayah yang luas maka dapat dilakukan penyemprotan insektisida. Lingkungan yang menjadi tempat perkembangbiakan pradewasa serangga seperti timbunan sampah vegetasi yang busuk, serasah dan sejenisnya dibakar,dibersihkan dan disingkirkan dari sekitar permukiman.

Lalu untuk penanganan luka-luka dermatitis dapat diberikan berbagai jenis salep yang mengandung hidrokortison atau antibiotik, langsung ke atas permukaan kulit, atau kalau sangat parah maka perlu konsultasi dengan dokter kulit. Tidak perlu panik, karena luka tersebut dalam waktu kurang lebih dua minggu akan sembuh. (Upik Kesumawati Hadi, PS Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Sekolah Pascasarjana IPB Bogor, Kampus IPB Darmaga, Jl Agatis, Bogor 16880)
 

Reference

 Mullen G, Durden L. 2009. Medical and Veterinary Entomology. 2nd ed. London, UK: Academic Press;  Beetles (Coleoptera) p. 102.

Uslular C, Kavukcu H. 2002. An epidemicity of Paederus species in the Cukurova region. Cutis ; 69:277–279.

Armstrong RK, Winfield JL .1969. Paederus fuscipes dermatitis: an epidemic on Okinawa. The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. 18:147–150.

Rahman S. 2006. Paederus dermatitis In Sierra Leone. Dermatol Online J. 12:9.

 

 Paper in PDF : Fenomena Dermatitis Paederus tomcat.

Kumbang Paederus Staphylinidae

Paederus fuscipes

 

Dermatitis Paederus Mirror Lession

 

Leave a Reply