browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Hari Malaria Sedunia 2012

Posted by on April 19, 2012

Hari Malaria Sedunia yang diperingati setiap tanggal 25 April. Malaria adalah suatu penyakit tular vektor (nyamuk Anopheles) yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditandai dengan gejala demam berkala, menggigil dan sakit kepala yang sering disertai dengan anemia dan limfa yang membesar. Malaria merupakan penyakit yang masih mengancam kesehatan masyarakat dunia. The World Malaria Report (2011) melaporkan bahwa setengah dari penduduk dunia berisiko terkena malaria. Transmisi malaria di Indonesia juga masih terjadi, laporan riset kesehatan dasar menunjukkan  hingga tahun 2011, terdapat 374 Kabupaten endemis malaria. Pada 2011, jumlah kasus malaria di Indonesia 256.592 orang dari 1.322.451 kasus suspek malaria yang diperiksa sediaan darahnya, dengan Annual Parasite Insidence (API)  1,75 per seribu penduduk. Artinya, setiap 1000 penduduk di daerah endemis terdapat 2 orang terkena malaria. Dampaknya sangat nyata terhadap penurunan kualitas sumber daya manusia yang mengakibatkan berbagai masalah sosial, ekonomi bahkan berpengaruh terhadap ketahanan nasional. Oleh karena itu malaria adalah satu di antara penyakit yang menjadi target pemerintah untuk dieleminasi secara bertahap dan ditargetkan Indonesia bebas malaria pada 2030.

Tahun ini peringatan Hari Malaria Sedunia telah dibuka oleh Wakil Presiden RI Budiono di Jakarta pada tanggal 12 April 2012. Dalam rangkaian acara ini Wakil Presiden bersama Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti juga secara resmi mengukuhkan Forum Nasional Gebrak Malaria. Acara ini juga dihadiri oleh Duta Roll Back Malaria (RBM) yaitu Princess Astrid dari Kerajaan Belgia yang datang ke Indonesia untuk melihat program pengendalian malaria dari tingkat pusat hingga pelaksanaannya di lapangan. Princess Astrid dan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) dr. Tjandra Yoga Aditama akan melihat secara langsung pelaksanaan program pengendalian di Bandar Lampung bersama-sama dengan perwakilan dari WHO, UNICEF, dan Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria (GF-ATM).

Untuk mengeliminasi malaria, Indonesia telah melakukan berbagai upaya. Sejarah mencatat melalui Komando Pembasmian Malaria (KOPEM) pada tahun 1950an, telah berhasil yang berhasil menurunkan jumlah kasus malaria secara bermakna khususnya di Pulau Jawa. Selanjutnya karena pelaksanaan adanya keterbatasan dana, program ini terhenti pada 1969 dan diubah secara bertahap menjadi upaya pemberantasan yang diintegrasikan ke dalam sistim pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan lain-lain.

Namun demikian, upaya penanggulangan malaria tidak berhasil optimal karena hanya mengandalkan sektor kesehatan, padahal malaria adalah penyakit yang berkaitan dengan perilaku manusia dan lingkungan. Oleh karena perlu melibatkan sektor lain yang turut berperan di dalam epidemiologi malaria. Atas dasar inilah kemudian  WHO meluncurkan gerakan intensifikasi pengendalian malaria dengan kemitraan global, yang dikenal Roll Back Malaria Initiative (RBMI) pada Oktober 1998.

Bentuk operasional RBMI di Indonesia dikenal dengan nama Gerakan Berantas Kembali Malaria (Gebrak Malaria) yang telah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan pada 8 April 2000 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Jadi Gebrak malaria merupakan upaya pemberantasan malaria melalui kemitraan dengan seluruh komponen masyarakat. Lebih lanjut, Indonesia bertekad untuk melakukan eliminasi malaria pada 2030, sesuai dengan Keputusan Menkes No.293/Menkes/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi malaria di Indonesia.

“Untuk mengeliminasi malaria pelaksanaan Gebrak Malaria di berbagai daerah harus dilaksanakan secara intensif dan komprehensif dengan melibatkan berbagai sektor dalam masyarakat. Untuk itu di tingkat pusat dibentuk Forum Nasional Gebrak Malaria ini,” ujar Ali. Forum Nasional Gebrak Malaria (FNGM) merupakan forum koordinasi lintas program dan lintas sektor, para ahli, organisasi profesi dan organisasi kemasyarakatan terkait sebagai mitra. Tugas FNGM adalah membantu Menteri Kesehatan melalui Direktorat Jenderal PP dan PL untuk merumuskan berbagai kebijakan dan strategi dalam menggerakkan kegiatan pengendalian malaria, serta menggalang kemitraan dengan berbagai stakeholder terkait menuju tercapainya eliminasi malaria tahun 2030.

Secara umum, Forum Nasional Gebrak Malaria bertugas untuk melakukan kajian ilmiah tentang pelaksanaan diagnosis dan pengobatan malaria terkini guna merekomendasikan strategi dan pedoman penatalaksanaan kasus malaria yang efektif dan aman; melakukan kajian ilmiah tentang kualitas laboratorium dan pemeriksaan malaria serta merekomendasikan hasilnya; melakukan advokasi dan sosialisasi ditingkat pusat dan daerah untuk meningkatkan kemitraan dan komitmen; melakukan telaah terhadap hasil penilaian tim monitoring eliminasi di Kabupaten/Kota atau Provinsi dan mengusulkan kepada Menteri Kesehatan untuk memperoleh sertifikat bebas malaria tingkat wilayah dan kepada WHO untuk tingkat nasional apabila memenuhi persyaratan; melakukan telaah kebijakan pengendalian vektor malaria dan faktor risiko lainnya; serta merumuskan, memfasilitasi dan menggerakkan kerjasama lintas program dan lintas sektor.(Disusun oleh Upik Kesumawati Hadi, PS Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Sekolah Pascasarjana IPB Bogor).

MAKALAH DALAM PDF:

Hari Malaria Sedunia 2012

Princess Astrid of Belgium, Duta Roll Back Malaria

PIN Gebrak Malaria

Leave a Reply