browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Suasana di Universidade Nacional Timor Lorosae

Posted by on September 25, 2012

Tiba-tiba saya mendapat tugas dari Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet, FKH IPB untuk mengajar di Universidade National Timor Lorosae (UNTL). Dengan seribu perasaan akhirnya saya berangkat dengan meninggalkan anakku si bungsu yang sedang demam gejala tifus. Jam tiga malam saya sudah dijemput oleh supir (Pak Juanda) yang mengantar kami berdua rekan sekerja Dr Sri Murtini berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta. Perjalanan menuju Timor Leste diawali dengan perasaan kecewa. Karena petugas di bagian chek in mengatakan bahwa pesawat kami yang seharusnya berangkat jam 6.00 pagi, delay tiga jam, maka kami harus menunggu cukup lama di bandara. Tapi hikmahnya kami bisa solat subuh tanpa buru-buru dan dapat melakukan solat dhuha dengan leluasa.

Tepat jam 9.00 akhirnya pesawat Batavia yang kami naiki berjalan menuju Denpasar, kami transit keluar menuju ruang imigrasi dan bergerak menuju  Gate 9 Bandara Internasional Ngurah Rai yang hiruk pikuk ramainya, untung dipandu oleh petugas Batavia hingga sampai ke ruang tunggu. Akhirnya penerbangan berlanjut ke Dili, tampak banyak orang bule, orang china, orang berkulit hitam dan juga orang Indonesia. Saya tidak tahu apakah mereka itu turis ataupun orang-orang yang mendapatkan pekerjaan dan penghasilan dari negara yang dulu termasuk wilayah negaraku, Indonesia tercinta.

Yang jelas, begitu keluar bandara Presiden Nicolau Labato dan memasuki kota  kota Dili, dengan mudah saya menemukan kendaraan operasional lembaga internasional, bertanda UN, FAO, mobil militer yang dikendarai tentara berbaju loreng berwajah bule, demikian pula tanda-tanda atau papan nama yang bertuliskan produk-produk internasional dalam bahasa Portugal.

Saya selalu bertanya dalam hati, bagaimana keaadaan masyarakat awam Timor Leste yang sesungguhnya tetapi bukan yang menjadi pejabat atau pegawai negeri, atau bukan pula orang-orang yang berkedudukan di partai?  Banyak pertanyaan muncul dalam benak hati ini apalagi setelah saya mencari makanan dan minuman serta kebutuhan lainnya, yang semuanya menggunakan mata uang dolar amerika. Dan ketika saya kurs dalam uang rupiah terasa serba mahal, bagaimana rakyat Timor Leste dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari?  Banyak supermarket tetapi pengunjungnya adalah kebanyakan orang asing dan orang bule.

Karena tugas saya mengajar, maka saya banyak berinteraksi dengan mahasiswa terutama dari Departementu Saude Animal Universitas Nasional Timor  Lorosae (UNTL), yaitu kelompok mahasiswa Jurusan Kesehatan Hewan. Mereka mengatakana senang sekali diajar oleh orang Indonesia karena mudah dimengerti. Mereka sebenarnya sudah belajar dari dosen-dosen asal Portugal, hanya pemberiannya dalam bahasa Portugal dan cara mengajarnya tidak memperhatikan kesulitan mereka dan interaksinya di dalam kelas kurang banyak. Itulah yang dialami para mahasiswa. Belum lagi tidak ditunjang oleh fasilitas laboratorium yang memadai. Saya senang mereka mau banyak bertanya di dalam kelas, padahal awal perjumpaan dengan mereka serasa ada jarak. Mungkin curiga dan sebagainya tetapi saya tidak peduli. Saya katakan kepada mereka bahwa saya akan memberikan ilmu agar kalian bisa membangun dunia peternakan di negara anda menjadi jauh lebih baik. Silakan tanya apa saja sepanjang saya bisa menjawab dan membantu kalian, demikian saya berkali-kali dengan perlahan dan berulang-ulang meyakinkan kepada mereka. Jadilah hingga akhir perpisahan mereka memberikan kesan yang sangat baik, makin semangat, dan menyatakan ingin terus berkomunikasi dengan saya via email, facebook atau surat.

Persoalan utama yang dihadapi mahasiswa dan juga dosen adalah kurikulum yang diterapkan mewajibkan mereka menggunakan bahasa Portugal. Padahal belajar bahasa perlu waktu lama, tidak cukup satu dua tahun tapi bertahun-tahun. Masih ada lagi beberapa persoalan yang dihadapi mahasiswa dan juga dosen di UNTL.  Saat terakhir selama saya satu minggu disana, saya tidak tahu persis kapan mulainya. Kondisi dosen-dosen lokal sedang mogok mengajar, menuntut pemerintah menaikkan kesejahteraan mereka. Jadi hanya dosen-dosen asing termasuk saya saja yang boleh memberikan perkuliahan. Dosen-dosen lokal hanya datang ke kampus tetapi tidak bersedia mengajar di dalam kelas.

Begitulah kira-kira kondisi nyata yang ada di perguruan tinggi terbesar di negara Timor Leste. Sungguh menarik berada di sini, di negara yang dulunya wilayah NKRI, tetapi sudah berbeda. Sekarang kelihatan negara ini banyak meniru gaya Eropa, baik bahasa, gaya berpakaian atau gaya hidup lainnya, model gedung bangunan, fasilitas taman dan sebagainya. Namun demikian sikap, perilaku dan etos kerja orang Eropa, masih belum banyak kelihatan. Semoga beberapa tahun ke depan mereka sadar dan dapat bersikap meniru etos kerja dari bangsa yang menjadi kebanggaan mereka. (Upik Kesumawati Hadi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor Indonesia, 17-25 September 2012)

Paper in PDF:  Suasana di Universidade Nacionale Timor Lorosae

Di depan kampus UNTL

 

Di dalam ruang kuliah (Sale 7)

Di lorong tempat mahasiswa istirahat

Mahasiswa UNTL mengamati parasit darah

Dosen-dosen lokal UNTL

Bersama dosen asing asal Portugal

Susana setelah perkuliahan

Sejenak duduk di luar kampus UNTL bersama mahasiswa

 

Leave a Reply