browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Konferensi lmiah Veteriner Nasional ke12

Posted by on October 21, 2012

Pada tanggal 10 sampai 13 Oktober 2012 di Hotel Saphir Yogyakarta berlangsung acara Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional ke 12 (KIVNAS) yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Konferensi ini menghadirkan pembicara baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dengan tema “Kepemimpinan Kedokteran Hewan menghadapi Penyakit Menular baru Mewujudkan Kesehatan Dunia”. Bapak Sri Paku Alam IX, Wakil Gubernur DI Yogyakarta berkenan memukul gong sebagai dibukanya acara konferensi ilmiah ini.

Drh. Wiwiek Bagja, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dalam sambutannya menyatakan bahwa banyaknya penyakit baru yang dapat menular pada manusia dan hewan sekaligus atau zoonosis yang muncul dewasa ini merupakan fenomena yang tidak dapat diselesaikan secara sektoral oleh kalangan kedokteran umum, namun dibutuhkan komitmen bersama yaitu dengan kedokteran hewan. “Kedokteran hewan sesuai konsep “one health” saatnya harus dilibatkan secara integral dalam mengharmoniskan kesehatan masyarakat, hewan, lingkungan, dan bahkan ekosistem,” demikian ungkapnya.

Konferensi ini adalah wahana pertemuan ilmiah bagi organisasi profesi dokter hewan dan menjadi suatu bentuk pendidikan berkelanjutan untuk meningkatkan keterampilan kompetensi dokter hewan Indonesia secara nasional dan terintegrasi. Peserta tercatat ada 1.300 dokter hewan dari seluruh Indonesia untuk membahas 213 makalah ilmiah, isu-isu strategis terkini, dan langkah langkah sumbangsih profesi kedokteran hewan bagi kemajuan bangsa dan negara

Ketua umum PDHI juga menjelaskan, Yogya dipilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan KIVNAS, mengingat Yogya mampu mempertahankan sebagai wilayah bebas rabies. “ Rabies merupakan salah satu zoonosis yang disoroti dewasa ini karena kejadian di Bali telah menewaskan penduduk, mengganggu ketenteraman batin masyarakat, dan bahkan mengancam dunia pariwisata perekonomian setempat,” tutur Wiwiek.

Saat ini lanjutnya, “Ada lebih dari 60% kasus penyakit menular pada manusia di dunia ditularkan melalui hewan. Dewasa ini terbukti munculnya zoonosis baru erat kaitannya dengan penangkapan ilegal satwa liar dan pembukaan hutan. 70% zoonosis tersebut berasal dari satwa liar. Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan keanekaragaman satwa ternyata menjadi kewaspadaan dunia  akan potensi Indonesia sebagai sumber penyakit hewan baru dan zoonosis bersumber satwa liar. Pengelolaan sumberdaya hutan dan hewan yang tidak terkendali, menyebabkan Indonesia mendapat sebutan Hot Spot Zoonosis dan menghadapi bom waktu wabah zoonosis,” jelas Ketua Umum PDHI.

Konferensi kali ini diwarnai dengan berbagai topik ilmiah bidang keilmuan sesuai keberadaan organisasi sekeahlian/seminat/sebidang kerja di bawah PDHI atau yang disebut Organisasi Non Teritorial (ONT) atau Special Group of Interest. ONT merupakan organisasi yang berorientasi pada peningkatan kualitas pengetahuan dan keterampilan khusus sesuai spesifikasi bidang masing-masing. Organisasi ini juga sangat bermanfaat bagi calon dokter hewan sehingga pada masa pendidikan mereka dapat memiliki perspektif dan orientasi bidang yang akan digeluti pada saatnya nanti. Saat ini organisasi non-teritorial aktif dalam konferensi ini adalah (1) Ikatan Dokter Hewan Karantina Indonesia (IDHKI), (2) Ikatan Dokter Hewan Sapi Perah Indonesia (IDHSPI), (3) Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia (ASKESMAVETI), (4) Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Aquatik dan Hewan Eksotik Indonesia (ASLIQEWAN), (5) Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Indonesia (ADHPHKI), (6) Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI), (7) Asosiasi Pathologi Veteriner Indonesia (APVI), (8) Asosiasi Epidemiologi Veteriner Indonesia (AEPVI). (9) Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Laboratorium Indonesia (ADHPHLI), (10) Asosiasi Farmakologi dan Farmasi Veteriner Indonesia (AFFAVETI), (11) Asosiasi Medik Reproduksi Veteriner Indonesia (AMERVI), (12) Asosiasi Dokter Bedah Veteriner Indonesia (ADBVI), dan (13) Asosiasi Dokter Hewan Akupunkturis Indonesia (ADHAI).

Pada penghujung kegiatan KIVNAS juga diselenggarakan Mukernas I periode 2010-2014 yang dihadiri oleh perwakilan PDHI Cabang se Indonesia, perwakilan ONT, majelis-najelis di bawah PB PDHI serta perwakilan FKH_FKH di Indonesia. Mukernas ini merupakan forum penting nasional untuk menetapkan langkah ke depan PB PDHI untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan dalam negeri maupun internasional serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan di bidang veteriner. (Disusun oleh Upik Kesumawati Hadi, anggota PDHI Cabang Jawa Barat II).

Tulisan dalam PDF:  Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional ke 12

 

Bapak Sri Paku Alam IX Wagub DI Yogyakarta dalam acara pembukaan KIVNAS

Foto bersama setelah peresmian acara KIVNAS

Ketua Umum PB PDHI, Wiwiek Bagdja memberikan kenang-kenangan kepada Wagub DIY Bapak Sri Paku Alam IX

Menjalin kerjasama internasional langkah maju PDHI

Asosiasi Dokter Hewan Praktis Hewan Labratorium Indonesia

Dua orang dokter hewan peserta KIVNAS

Leave a Reply