browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Bermalam di Desa Wonokitri Kawasan Bromo Tengger

Posted by on August 5, 2013

Suasana pagi Desa Wonokitri

Suasana pagi Desa Wonokitri

Juni tanggal 19-22 yang lalu kami bertiga, saya bersama ibu Susi dan Pak Koesharto melakukan perjalanan koleksi lalat Simulium di kawasan Bromo Tengger. Harapan kami, di kawasan pegunungan ini banyak ditemukan aliran sungai jernih dan belum terpolusi, sehingga kami dapat menemukan larva Simulium. Aliran sungai pegunungan nan jernih merupakan habitat potensial bagi larva lalat Simulium. Begitu pentingkah lalat ini yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan black fly atau no see um. Secara akademik lalat ini penting, namun belum banyak menjadi perhatian para ahli di Indonesia. Ahli serangga dari Belanda pernah melaporkan keberadaan Simulium tosariense di kawasan Tosari Bromo yang sampai saat ini menurut ahli Simulium dari Jepang, spesimen spesies tersebut masih tersimpan dengan baik di sebuah museum terkenah di Inggris. Berikutnya  ahli dari Jepang juga telah memastikan kedudukan dalam sistematik taksonomi jenis tersebut lebih lanjut, namun kepastian ini masih harus terus diteliti kembali. Inilah yang mendasari pentingnya dilakukan koleksi lalat ini lagi, sambil mengamati keberadaannya apakah masih tetap bertahan ataukan sudah punah.

Dalam rangka perjalanan tersebut, dari Bogor kami bertiga menuju bandara Soekarno Hatta dengan bus Damri, kemudian terbang dengan pesawat Sriwijaya Air menuju Malang, lalu menuju Desa Wonokitri dengan mobil Avanza dan bermalam langsung di kawasan masyarakat Bromo Tengger. Kami menginap di Bromo Tengger Saputra Home stay, sebuah rumah penginapan yang cukup nyaman, dua kamar tidur, satu kamar mandi air panas, ada dapur lengkap dengan peralatannya dan ruang tamu dengan televisi. Beaya permalam 450 ribu rupiah. Bermalam di kawasan pegunungan yang suasana sunyi dan dingin sekali, membuat kami sulit memejamkan mata, tapi akhirnya kami tertidur juga hingga waktu subuh. Tak terdengan suara azan karena memang kami bermalam di desa yang masyarakatnya semua beragama Hindu, tak ada suara kokok ayam, tak ada gonggongan anjing sekalipun, mungkin karena semua kedinginan. Pagi hari berkabut, tetapi kami melihat masyarakat Tengger sudah beraktivitas, ada yang ke ladang atau kebun, ke tempat pemujaan, dan ada yang ke pasar. Anak-anak terlihat dengan ceria dan seragam merah putihnya pergi ke sekolah dengan jalan kaki, dan ada juga yang dibonceng motor oleh orang tuanya. Nah yang menarik perhatian kami adalah aktifitas di pasar Wonokitri.

Pasar pagi masyarakat Tengger

Pasar pagi masyarakat Tengger

Ayam-ayam jago

Ayam-ayam jago

 

Home stay di Wonokitri

Home stay di Wonokitri

Belanja pisang dan singkong

Belanja pisang dan singkong

Makanan tradisional

Makanan tradisional

 Suasana pagi yang berkabut saat itu kami gunakan untuk berkeliling menikmati seputaran desa Wonokitri, melihat puskesmas dan sarana ibadat mereka. Dari ketinggian pura, kami melihat kerumunan orang di bawah yang cukup ramai oleh penjual dan pembeli. Kamipun akhirnya masuk ke dalam pasar mereka melihat suasana pasar pagi di sana dan juga sedikit belanja pisang, singkong rebus dan makanan kampung yang ada dijual di sana. Kebanyakan masyarakat penjual dan pembeli menggunakan sarung dengan aneka motif yang diikatkan di leher mereka. Sarung tampaknya digunakan sebagai layangnya syal di bagian punggung untuk menahan hawa dingin. Orang yang berjalan dan menaiki motor semuanya memakai sarung dengan cara seperti itu, sehingga tampak motif sarung dari belakang dengan jelas dan bagi orang yang mengerti motif batik bisa menebak, motif-motif tersebut. Ada motif madura, motif pekalongan, motif lasem, motif yogya, motif surakarta, motif songket bali dan lain-lainnya.

Barang-barang yang dijual di pasar pagi tersebut layaknya pasar di daerah lainnya. Yang sedikit berbeda adalah penjualan ayam hidup semuanya ayam jago yang gagah gagah. Rupanya ayam jantan ini memang kelak digunakan untuk sesajen masyarakat. Adat istiadat di Desa Wonokitri sangat unik, penduduknya semua beragama Hindu. Mereka menghabiskan hidup hanya dengan bertani dan menggantungkan harapan dari pariwisata. Tidak ada satu orangpun yang mau merantau, boleh dikatakan tidak ada dalam kamus perjalanan hidup mereka untuk merantau. Mereka lahit disini, belajar disini dan mereka kembali kepada Sang Hyang Widi. Pak Suroto, demikian tokoh masyarakat ini yang pekerjaannya mengantar tamu-tamu dengan Jeep untuk wisata Bromo mengatakan  meskipun ada yang pernah kuliah di Malang, lulus sarjana hukum, tapi tetap tidak mau kerja di luar, mereka akan kembali ke desa, bekerja sebagai layaknya orang desa lainnya. Lalu bagaimana dengan guru-guru sekolah, pekerja puskesmas, kepala desa dan lainnya semua dikelola oleh masyarakat Tengger asli desa Wonokitri. Demikian sekilas laporan pandangan mata kami tentang kehidupan masyarakat suku Tengger di desa Wonokitri. (Disusun oleh Upik Kesumawati Hadi, PS Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Sekolah Pascasarjana IPB Bogor, Juni 2013)

Tulisan dalam PDF: Bermalam di Desa Wonokitri Kawasan Bromo Tengger

Pura masyarakat Hindu Wonokitri

Pura masyarakat Hindu Wonokitri

Leave a Reply