browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Makna Acara Peusijuk

Posted by on August 7, 2014

Tenang, dingin, haru dan suasana hati yang menyejukkan, itulah yang saya rasakan ketika kami (saya dan suami) dipeusijuk oleh ibunda tercinta sesaat sebelum berangkat haji (pesijuk pertama), setelah kembali ke rumah usai menunaikan haji (pesijuk kedua), dan terakhir suasana itu saya rasakan kembali ketika ibundaku menyambut kegembiraannya karena surat keputusan guru besar saya keluar (pesijuk ketiga).  Semuanya berlangsung dalam tahun 2013. Subhanallah…

Peusijuk sesungguhnya merupakan ungkapan doa-doa dan puji pujian dari orang tercinta kita kepada sang Khalik dengan harapan sesuatu tersebut selalu diberkahi oleh Allah SWT. Tradisi Peusijuk di Aceh sudah berlangsung lama dari dahulu hingga kini masih menyatu dengan masyarakat Aceh.  Acara pesiujuk merupakan suatu tradisi penyambutan sesuatu yang baru dengan harapan dapat memperoleh keberkahan dan terhindar dari berbagai mara bahaya. Jadi, tidak hanya dilakukan ketika seseorang mau berangkat haji saja, tetapi ketika menduduki rumah baru, memiliki mobil atau motor baru, lepas dari mara bahaya, kenduri sunatan, acara pernikahan (tueng dara baro, intat linto baro),  dan sebagainya, biasanya dilakukan acara peusijuk (dipeusijuk).

Apa saja yang dipersiapkan dalam acara peusijuk dan seperti apa upacara tersebut? Kalau adat lengkap pastinya lebih rumit demikian pula persiapannya. Tetapi yang saya ingat adalah betapa ibunda menyiapkan bahan-bahan peusijuk dengan khusyuk ketika akan mempeusijuk saya, meskipun bahan-bahannya sederhana.  Rupanya ada makna doa dibalik semua itu. Bahan-bahan yang dipersiapkan umumnya memiliki makna yang cukup dalam. Sebagai contoh: (1). Tepung tawar yang dicampur dengan air mempunyai makna dan doa agar percikannya nanti memberikan ketenangan dan kesabaran bagi yang dipeusijuk, layaknya air campuran tersebut yang terus terasa dingin; (2). Beras padi yang bertujuan, bermakna agar dapat subur, makmur, semangat, seperti taburan beras padi yang begitu semarak berjatuhan;  (3). Dedaunan dan rerumputan yang diikat dan dipakai untuk peusijuk, ini melambangkan suatu ikatan yang terwujud dalam kesatuan hidup bermasyarakat, seperti beberapa jenis dedaunan yang berbeda yang bersatu dalam suatu ikatan; dan (4). Nasi ketan (pulut kuning) dengan inti kelapa yang bermakna sebagai lambang persaudaraan; seperti halnya ketan yang selalu melekat dengan bahan lainnya. Perlengkapan tersebut diletakkan dalam sebuah talam, jadi di atas talam ada piring besar berisi nasi ketan kuning dengan inti kelapa, mangkok berisi campuran air tepung, tempat cuci tangan, seikat dedaunan, satu mangkok berisi beras.

Bila sudah siap semua, barulah dilakukan acara pesijuk. Orang yang dipeusijuk duduk dengan tenang, dan yang melakukan peusijuk berdiri dan juga sudah siap dengan amplop berisi uang yang akan diberikan setelah acara selesai.Peusijuk ini biasa dilakukan oleh orang yang dituakan di dalam kalangan masyarakat tersebut, seperti Tengku (Ustadz) atau Umi Chik (Ustadzah). Kalau di kalangan keluarga sendiri biasanya dilakukan oleh ibunda, ayahanda, atau semua yang dituakan.

Urutan acara pesijuk diawali dengan doa, lalu menaburkan beras ke arah orang yang dipeusijuk. Lalu memercikan air tepung tawar dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri, serta sesekali disilang. Berikutnya, cuci tangan lalu menjumput nasi pulut dan disuapkan kepada yang dipeusijuk. Terakhir menyelipkan amplop berisi uang kepada yang dipeusijuk. Ini adalah urutan sederhana yang pernah dilakukan ibunda kepada kami. Tentunya cara ini tidak sama persis dengan tatacara yang dilakukan masyarakat Aceh pada umumnya. Pasti caranya bervariasi…tetapi pada intinya sama yaitu memohon doa kepada yang Maha Kuasa agar diberikan keberkahan, keselamatan dan ketentraman hidup.

Akhir-akhir ini acara peusijuk mendapat sorotan dari ulama-ulama reformis. Ada yang menganggap peusijuk adalah perbuatan bidáh, syirik dan tidak dicontohkan oleh rasul dan tidak ada dasarnya dalam Al Qurán. Namun acara ini masih tetap berjalan sebagai sebuah budaya masyarakat Aceh yang keberadaannya dilestarikan sebagai budaya Islam. Doa-doa yang digunakan semua dalam bahasa Arab yang bersumber dari Alqurán dan Hadist. Wallahu A’lam bisshawab…. (Disusun oleh Upik Kesumawati Hadi, dalam rangka terima kasih ketulusan hati ibunda tercinta yang selalu mendoakan ananda)

TULISAN DALAM PDF: Makna Acara Peusijuk

pesijuk2

pesijuk1

pesijuk3

pesijuk4

pesijuk5

pesijuk7

pesijuk8

pesijuk9

Leave a Reply