browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

drh. WIRASMONO SOEKOTJO menambah informasi tentang PORDASI

Posted by on March 3, 2015

Apa yang dibicarakan ketika para pensiunan dokter hewan bertemu? Cerita sejarah masa lalu adalah topik pembicaraan yang mengalir saat pertemuan. Para pensiunan dokter hewan atau yang dikenal dengan istilah “Lansia Veteriner” mempunyai wadah yang bernama Paguyuban Keluarga Lansiavet, dan aktif mengadakan pertemuan berkala. Satu di antara pertemuan yang akhirnya menghasilkan tulisan berikut dan ditulis oleh Prof Koeswinarning Sigit (Bu Ning) ini masih terkait dengan sejarah PORDASI. Pertemuan saat itu di Bandung pada hari Rabu, 21 Mei 2014 di Café Kopi Luwak di Cikole, Lembang, milik seorang dokter hewan muda yang sangat energetik dan kreatif yaitu Mas drh. Sugeng.

Dalam pertemuan tersebut Bu Ning bertemu dengan Drh Wirasmono Soekotjo, pensiunan dosen di Bagian Klinik Hewan Besar FKH-IPB, yang juga teman akrab Drh Sjahfri Sikar (alm), yang kedua-duanya ahli kuda. Nah..dari obrolan ini Bu Ning menambahkan catatan sejarah awal terbentuknya PORDASI berikut ini…

 

“drh. WIRASMONO SOEKOTJO menambah informasi tentang PORDASI”

oleh  Koeswinarning Wirjomidjojo Sigit

Di dalam Café Kopi Luwak Cikole Lembang itu, saya ngobrol dengan Pak Wirasmono Soekotjo (Pak Mono), dosen saya di Bagian Klinik Hewan Besar FKH-IPB, yang juga teman akrab Pak Sjahfri Sikar (alm), yang kedua-duanya ahli kuda, baik dalam mengobati penyakit maupun melakukan bedah. Pak Mono merasa bahwa Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) kurang banyak dikenal, bahkan oleh para dokter hewan kita di Indonesia sekarang ini. Dari tulisan saya mengenai lambang PORDASI yang telah dimuat dalam No. 67 BDHLS Th. XII (edisi April 2014), menurut Pak Mono, masih dirasa perlu diterangkan tentang sejarah berdirinya PORDASI, yang melibatkan Pak Sjahfri Sikar (alm) dan  Pak Mono sendiri. Acara ngobrol dengan Pak Wirasmono ini akhirnya menghasilkan beberapa point penting bagi sejarah awal berdirinya PORDASI berikut ini.

PORDASI, yang didirikan pada tgl. 6 Juni 1966, telah diresmikan di Bandung. Tanggal ini dipilih, sebab mempunyai arti khusus yang mudah diingat, karena angkanya bernuansa angka 6: tanggal 6, bulan 6 dan tahun 66. Demikianlah kata Pak Mono.

Mengenai gambar lambang PORDASI dengan lima buah Olympic Rings, menurut Pak Mono, selain sebagai lambang olahraga, ternyata juga mengandung arti bahwa anggota PORDASI pada awalnya berjumlah lima komisariat, yaitu:

  1. Komisariat Sulawesi Utara, dengan Komisaris Bapak Drh. Sutiman (alm)
  2. Komisariat Jawa Barat, dengan Komisaris Bapak T. Supandji
  3. Komisariat Jawa Tengah, dengan Komisaris Bapak Sukardi (alm)
  4. Komisariat Jawa Timur, dengan Komisaris Bapak Kol. Purn. Sumarsono
  5. Komisariat Sumatra Barat, dengan Komisaris Bapak Sofyan Djuned

Pada waktu itu (tahun 1966) Jakarta sendiri belum masuk menjadi anggota PORDASI, karena belum mempunyai kuda. Lapangan Pacuan Kuda Pulomas sendiri baru dibangun tahun 1971. Sementara itu, daerah yang mempunyai paling banyak kuda pacu adalah Sumatra Barat. Di daerah Sumatra Barat pada waktu itu, banyak terdapat lapangan kuda pacu dan di sana ada lima tempat pacuan kuda yang dipelihara dengan baik.

Keberadaan PORDASI diakui, karena didaftarkan di Direktorat Olahraga, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (Kementerian PP&K) pada waktu itu, yang suratnya ditandatangani oleh Bapak Sukamto Sayidiman. Pak Mono mengatakan bahwa beliau sendirilah yang memperjuangkan dan mengurus surat pengakuan itu. Pengakuan itu sangat diperlukan bagi PORDASI sebagai perlindungan terhadap keberadaannya.

TULISAN LENGKAP DALAM PDF: Drh Wirasmono Soekotjo Menambah Informasi Tentang Sejarah PORDASI

 

Bu Ning Sigit

Bu Ning Sigit

Bu Ning dan Pak Mono 1

Bu Ning dan Pak Wirasmono

 

Bu Ning Sigit dan Pak Wirasmono

Bu Ning Sigit dan Pak Wirasmono

 

Leave a Reply