browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Renungan jumát 27/15

Posted by on March 6, 2015

Mengenali Aib Diri

QS an-Najm 32 Allah SWT berfirman “maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”. Ini mengingatkan kita bahwa kesempurnaan hanya milik Allah, kemaksuman milik Rasulullah SAW, dan manusia sering lupa akan aib yang melekat pada dirinya sendiri. Seringkali manusia menutup mata akan kekurangan-kekurangan yang ada dan menganggap dirinya lebih baik dari yang lain.

Kehidupan seorang muslim menurut Imam Ghazali tidak dapat dicapai dengan sempurna kecuali mengikuti jalan Allah SWT yang dilalui secara bertahap. Tobat, sabar, fakir, zuhud, tawakal, cinta, ma’rifat, dan ridha adalah tahapan-tahapan yang wajib diasah agar menjadi insan yang berakhlak mulia di jalan Allah.

Agar dapat mengenali aib diri sendiri, Imam Ghazali mengatakan ada lima jalan yang harus ditempuh yaiti:

  1. Duduk di hadapan seorang guru yang dapat mengenali keburukan hati dan berbagai bahaya yang tersembunyi di dalamnya. Lalu, memasrahkan dirinya kepada sang guru dan mengikuti petunjuknya dalam bermujahadah membersihkan aib itu.
  2. Mencari seorang teman yang jujur, memiliki mata bashiroh yang tajam, dan berpegangan pada agama. Lalu, menjadikan teman sebagai pengawas keadaan, perbuatan, serta semua aib batin dan zahirnya.
  3. Berusaha mengetahui aib dari ucapan orang yang membencinya, yang mengungkapakan keburukannya. Dengan demikian dapat memetik pelajaran dari berbagai keburukan diri yang disebutkan oleh musuhnya.
  4. Bergaul dengan masyarakat, dari sini setiap kali melihat perilaku tercela seseorang, akan segera juga menuduh dirinya mempunyai sifat tercela itu. Lalu, ia tuntut dirinya untuk tidak melakukannya. Setiap mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain, ia akan melihat aib-aib dirinya sendiri.
  5. Merenungkan bahwa umur itu pendek. Umur di dunia lebih pendek dari pada kehidupan abadi di akherat. Karenanya, lihatlah aib sendiri sebelum menilai aib orang lain.

Wallahu a’lam bishawwab.

Tulisan dalam PDF: Renungan Jumát 27 2015

Leave a Reply