browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Halau Nyamuk Aedes aegypti Penyebar Virus Zika

Posted by on September 15, 2016

https://cantik.tempo.co/read/news/2016/09/06/336802103/halau-nyamuk-aedes-aegypti-penyebar-virus-zika

Selasa, 06 September 2016 | 18:24 WIB

TEMPO.CO, Jakarta –  Virus zika ditularkan oleh nyamuk terutama Aedes aegypti yang juga dikenal sebagai vektor dengeu, yellow fever, dan chikungunya. Vektor definitif maupun potensial ini banyak terdapat di Afrika, Amerika, Asia, Eropa dan Kepulauan Pasifik.

Hasil penelitian menunjukkan Aedes aegypti adalah nyamuk yang tangguh, tidak hanya mampu bertelur di tempat yang jernih, tapi juga bisa bertelur di air yang berpolusi. Nyamuk ini mudah beradaptasi dengan lingkungan. Nyamuk jenis ini dianggap bisa hidup di siang maupun malam hari.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) Upik Kesumawati menambahkan, nyamuk mudah dikendalikan dengan mengubur, menguras dan menghilangkan wadah yang mengandung air serta menerapkan pola hidup sehat dan lingkungan yang bersih.

Dia menghimbau agar masyarakat membersihkan tempat penampungan air, minimal seminggu sekali dan gosok hingga bersih karena telur Aedes aegypti menempel di dinding wadah.

“Istimewanya telur Aedes aegypti bisa bertahan hidup walaupun tidak ada air. Telurnya tahan kering, begitu ada air hujan dia berkembang lagi. Beda dengan nyamuk lain kalau tidak ada air akan mati. Intinya adalah menutup wadah air,” katanya.

Upik mengingatkan bahwa penyebaran virus zika harus diwaspadai dengan cara mencegahnya mulai di sekitar lingkungan. Menurutnya, hampir di setiap lingkungan rumah penuh dengan wadah air yang bisa mengakibatkan aedes aegypti berkembang dan memunculkan virus zika.

“Hasil pengamatan jentik di beberapa daerah menunjukkan angka bebas jentik di Bogor masih jauh dari standar pemerintah. Rata-rata baru mencapai 17-18 persen,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.com, Jumat, 2 September 2016.

Sedangkan pakar virus FKH IPB Surachmi Setyaningsih mengatakan dengan terdeteksinya virus zika di Singapura, maka Indonesia harus waspada karena potensi penularannya sangat tinggi, yakni nyamuk aedes aegypti.

“Ini adalah faktor risiko yang kami anggap penting. Harus digarap serius dan tidak bisa parsial,” ujarnya.

Saat ini Singapura sudah melaporkan adanya serangan virus zika pada manusia. Karena ada isu bahwa virus ini kemungkinan ada hubungan dengan bayi yang akan dilahirkan, mereka mendeteksi walaupun gejalanya ringan seperti demam, mata merah, bercak merah (seperti demam berdarah).

“Singapura dengan kita kan dekat, saya kira nyamuknya tidak berbeda jauh spesiesnya dengan kita. Mereka yang sanitasinya bagus bisa tertular, maka kita harus siap dan tingkatkan kewaspadaan,” imbuhnya.

Seperti diketahui, penyebaran virus zika sudah diketahui sejak tahun 1947 dan pertama ditemukan pada monyet di Afrika.

Setelah itu, virus ini diketahui menyebar ke Asia. Selanjutnya, pada tahun 2007 mulai banyak menular dan menyebar ketika akhir 2014 hingga 2015 bahkan sampai sekarang masih ada.

Virus ini seakan-akan pernah menghilang dan muncul kembali. Sampai saat ini, virus zika menginfeksi primata, belum ada bukti menginveksi ternak dan belum ada vaksinnya.

 

 

 

Leave a Reply