browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Renungan Jum’at 32/2016

Posted by on October 14, 2016

Puasa Muharram

Tanggal 9 dan 10 Muharam disunahkan berpuasa dan dikenal dengan puasa Tasyua dan Assyura (Muharram). Puasa-puasa tersebut mempunyai banyak keberkahan di antaranya dosa kita pada tahun yang lalu di ampuni oleh Allah. Bulan Muharram merupakan bulan yang oleh Allah termasuk satu bulan yang diistimewakan dari empat bulan haram yang telah Allah muliakan. Secara khusus Allah melarang berbuat zalim pada bulan ini untuk menunjukkan kehormatannya.  Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. Al-Taubah: 36). Larangan berbuat dzalim pada bulan-bulan ini menunjukkan bahwa dosanya lebih besar daripada dikerjakan pada bulan-bulan selainnya. Sebaliknya, amal kebaikan yang dikerjakan di dalamnya juga dilebihkan pahalanya.

Berpuasa pada hari ke sepuluh (Puasa ‘Asyura) bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Disunnahkan juga berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu tanggal sembilan Muharram yang dikenal dengan Puasa Tasu’a. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’ Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah wafat.” (HR. Muslim).

Atas dasar hadis tersebut, Imam al-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya, berkata “Disunnahkan berpuasa pada hari ke sembilan dan ke sepuluh secara  keseluruhan, karena Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam telah berpuasa pada hari ke sepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”

Imam al-Nawawi rahimahullaah menjelaskan ada tiga hikmah dianjurkannya puasa  Tasu’a: Pertama, maksud disyariatkan puasa Tasu’a untuk menyelesihi orang Yahudi yang berpuasa hanya pada hari ke sepuluh. Kedua, maksudnya adalah untuk menyambung puasa hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja. Ketiga, untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari ke sembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari ke sepuluh.

 

(Ditulis ulang oleh Upik Kesumawati Hadi, dari berbagai sumber tulisan, untuk diri sendiri dan semoga bermanfaat untuk orang lain)

TULISAN DALAM PDF: Puasa Muharram

Leave a Reply