browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Tugu Kilometer 0 Indonesia Bagian Barat

Posted by on June 10, 2017

Perjalanan ke Aceh pada bulan Juli- Agustus 2014 membawa penulis dan keluarga ke titik 0 wilayah Negara Kesatuan Indonesia di Bagian Barat. Kami berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheu di Banda Aceh pukul 9.45 menuju Sabang di Pulau Weh menggunakan Kapal Roro yang dikemudikan sendiri oleh Paman kami, Om Surya Buana dan mendarat di Pelabuhan Balohan, Sabang pukul 10.30. Pasti orang-orang sudah tahu bahwa Sabang berada di Pulau Weh, yang merupakan pulau di bagian ujung Indonesia di sebelah barat.

Dari pelabuhan kami menggunakan mobil sewaan menuju tempat penginapan yang terletak di pinggir pantai. Kami menginap semalam di Tuna Paradise Resort House untuk menikmati pantai dan suasana Kota Sabang. Sabang merupakan kota yang sangat unik, karena disini kita dapat melihat mobil-mobil mewah eks Singapura di jalan dan digunakan sehari-hari oleh masyarakat sekitar untuk beraktivitas.  Mobil-mobil tersebut diperjual belikan hanya di kota ini, dan digunakan di sini saja, serta tidak boleh keluar dari Sabang.

Setelah check in di tempat kami menginap, kami berjalan menuju lokasi Tugu Nol Kilometer. Tugu ini merupakan penanda letak Indonesia dari ujung sebelah Barat. Perjalanan menuju tugu ini cukup jauh, seakan kita mengelilingi Pulau Weh, melalui jalan-jalan yang sepi, melewati bukit dan tepi laut dengan pemandangan yang indah. Di tepian jalan kita dapat berhenti sejenak melihat teluk Sabang yang cantik dengan Pulau Klah di tengahnya. Selain itu di jalan ini yang terletak di perbukitan dengan hutan alam kita dapat berhenti mengambil foto-foto dan dapat pula menyaksikan banyak monyet yang bebas berkeliaran. Suasana alam yang masih asri dan asli, suara -suara burung, dan sepinya kendaraan membuat perjalanan menuju ke Titik Nol Indonesia, menimbulkan sensasi cinta tanah air yang luar biasa.

Dan akhirnya sampailah kami di titik nol terbarat Indonesia. Disini terlihat adanya Tugu Nol Kilometer. Tugu ini berdiri di kawasan hutan dan pinggir lautan Hindia nan luas. Di kawasan Wisata Tugu Nol Kilometer, terdapat sebuah papan petunjuk dengan latar belakang berwarna biru terlihat oleh siapapun yang telah mencapai wilayah ini. Di depan tugu juga terdapat tulisan KILOMETER O INDONESIA yang terbuat dari beton cor dengan cat berwarna merah muda, lalu di bagian bawahnya juga terdapat lantai beton sehingga memudahkan pengunjung untuk naik dan berfoto disini.

Monumen Tugu Nol kilometer merupakan bangunan menara berbentuk silinder dengan tnggi 22,5 meter, dan puncaknya terdapat Garuda Panca Sila.  Pengunjung dapat menaiki tangga keramik putih dengan penyangga bewarna biru muda menuju ke lantai atas dan bisa melihat laut lepas, serta menyaksikan kawanan monyet yang menghuni hutan di sini. Anda juga dapat melihat sebuah prasasti yang berisi informasi mengenai lokasi geografis tempat ini (05”Lintang Utara dan 95 “ Bujur Timur) dan ditandatangani oleh Menristek B. J. Habibie di Sabang pada 24 September 1997. Selain itu, di bagian bawah tugu, terdapat lagi sebuah prasasti yang ditempelkan di dinding yang bertuliskan peresmian tugu ini oleh Wakil Presiden Try Sutrisno, dan ditandatangani di Banda Aceh pada tanggal 9 September 1997.

Kawasan ini hanya ramai dikunjungi orang saat hari libur. Disini kita dapat menikmati kelapa muda yang segar sambil sebentar beristirahat dan memandang lautan lepas Hindia. Suasana damai karena sekelilingnya tidak ada permukiman, hanya hutan lebat dan laut yang ada. Saat ini cukup banyak kedai-kedai kecil menjual yang menjual cenderamata khas Sabang seperti  T-Shirt, tas, gantungan kunci dan lain-lain.

Saat ini pengunjung tugu kilometer 0 dapat mengurus sertifikat bukti dan kenang-kenangan bahwa telah tiba di Nol Kilometer Wilayah NKRI. Sertifikat ini ditandantangani oleh Walikota Sabang dan disebutkan di dalamnya bahwa anda adalah pengunjung yang ke sekian. Menarik bukan?

Setelah selesai mengunjungi monumen, kami berfoto-foto, menikmati kelapa muda dan pemandangan laut lepas, belanja souvenir, perjalanan selanjutnya menuju Pantai Iboih dan Pulau Rubia. (Upik Kesumawati Hadi, kelahiran Banda Aceh, bermukim di Bogor dan bekerja di Fakultas Kedokteran Hewan IPB).

Tulisan dalam PDF: Tugu Kilometer O Indonesia Bagian Barat

Titik 0 Sabang

Titik 0 Sabang

Bersama keluarga...

Bersama keluarga…

 

Leave a Reply