browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Determinasi strain larva Aedes aegypti (Linn) rentan homozigot dengan metode seleksi indukan tunggal

Posted by on June 20, 2017

Determinasi strain larva Aedes aegypti (Linn) rentan homozigot dengan metode seleksi indukan tunggal

Isfanda, Upik Kesumawati Hadi, Susi soviana

PS Parasitologi dan Entomologi Kesehatan  SPS IPB Bogor

Jurnal Variasi, vol 8 no 1 hal 1-8 Desember 2016

 

Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan Ae. aegypti strain Laboratorium yang rentan homozigot dengan metode seleksi indukan tunggal. Penelitian ini bermanfaat sebagai informasi dasar status kerentanan Ae. aegypti koloni Laboratorium terhadap beberapa jenis insektisida. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor mulai dari bulan Desember 2013 sampai bulan April 2014.

Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Persamaan regresi antara waktu kontak dengan mortalitas dibuat untuk mengetahui status kerentanan populasi nyamuk yang diuji terhadap insektisida. Analisis kerentanan setiap sampel kandang akan ditentukan berdasarkan pada persentase kematian larva dan dewasa dengan menggunakan uji statistik regresi dan analisis probit.

Nyamuk Ae. aegypti F97 dewasa strain insektarium diambil secara acak. Setiap satu pasang indukan nyamuk dewasa dipisahkan ke dalam kandang yang berbeda dan diberi makan darah marmut untuk menghasilkan telur F0. Satu kertas saring telur Ae. aegypti yang berasal dari satu indukan nyamuk ditetaskan dalam nampan plastik yang berisi satu liter air. Telur yang telah menetas menjadi larva diberi makanan berupa tepung hati ayam dan cat food (1:1) yang telah dihaluskan. Suhu rata-rata ruangan berkisar antara 20oC-28oC dengan kelembaban 88%-90%. Insektisida yang digunakan untuk pengujian larva nyamuk yaitu Malation 97%, Propoksur 93.86% dosis 1 ppm, 0.001 ppm, 0.0005 ppm, dan Sipermetrin 98.84% dosis 0.001 ppm, 0.0005 ppm, 0.00025 ppm. Untuk pengujian nyamuk dewasa menggunakan kertas berinsektisida (impregnated paper) Malation 0.8%, Bendiokarb 0.1%, dan Deltametrin 0.025%.

Uji ini menggunakan masing-masing 25 larva instar III dimasukkan ke dalam campuran insektisida dengan tingkatan konsentrasi masing-masing dosis. Pengamatan mortalitas larva dimulai dari menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60 dan 24 jam setelah kontak. Pengujian terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan impregnated paper dan tabung WHO test kit. Pegujian masing-masing menggunakan 25 ekor nyamuk betina dewasa yang telah kenyang air gula. Pengamatan mortalita selama satu jam dan diamati mulai dari menit ke 10, 20, 30, 40, 50, dan 60. Setelah kontak selama 60 menit, nyamuk dipindahkan kembali ke dalam kandang dan beri air gula 10% untuk pengamatan mortalitas setelah 24 jam. Status kerentanan ditentukan berdasarkan presentase kematian. Apabila kematiannya dibawah 80% dinyatakan resisten, antara 80%-97 % dinyatakan toleran, dan antara 98%-100% dinyatakan rentan. Status resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida diukur dengan perhitungan analisis regresi probit yang dinyatakan dalam waktu kematian (LT) dan rasio resistensi (RR).

Hasil uji kerentanan larva Ae. aegypti terhadap Malation dosis 0.001 ppm dan 0.0005 ppm menunjukkan niai RR yang fluktuatif pada setiap generasi, tetapi pada dosis 1 ppm angka kematian stabil dengan angka RR 1.0. Generasi F4 dan F5 memiliki fenotip yang sama. Hasil uji kerentanan larva Ae. aegypti terhadap propksur dosis 1 ppm, 0.001 ppm dan 0.0005 ppm pada generasi F2 dan F3 belum terbentuk fenotip yang sama. Sedangkan generasi F4-F5 mulai terbentuk fenotip yang sama dengan nilai RR 1.0. Uji kerentanan larva Ae. aegypti terhadap sipermetrin berbeda dengan hasil uji yang dilakukan terhadap Malation dan propoksur. Keserentakan fenotipenya menunjukkan hasil yang baik pada setiap konsentrasi dengan terbentuknya nilai RRLT50 1.0 pada setiap dosis (F4-F5).

Berdasarkan hasil persentase mortalitas nyamuk Ae. aegypti yang diuji dengan Malation terhadap generasi F2-F5 menyatakan adanya perbedaan kenaikan angka kematian setelah 24 jam (31.07%) pada generasi F4 dengan nilai RRLT50 0.9 dan RRLT95 0.8 pada F4. Sedangkan untuk generasi F5 menjadi pembanding untuk nilai rasio resistensi. Persentase kematian nyamuk Ae. aegypti dewasa yang di paparkan dengan insektisida Bendiokarb setalah 24 jam mencapai 28% pada generasi F5. Nilai RRLT50 0.9 dan RRLT95 1.0. Hasil ini menyatakan bahwa sudah terbentuknya kerentanan yang hampir sama antar generasi. Nilai RR50,95 nyamuk Ae. aegypti yang dipaparkan Deltametrin 0.025% pada F2-F3 belum terbentuk fenotip yang sama. Sedangkan pada Generasi F4 telah mengalami kerentanan yang sama menunjukkan nilai RR 1.0 dengan angka mortalitas setelah 24 jam 94.13%.

Nilai rasio resistensi Larva Ae. aegypti menggunakan Malation, Propoksur dan Sipermetrin pada generasi F2 dan F3 lebih rendah daripada F4. Terbentuk Larva Ae. aegypti yang rentan terhadap ketiga jenis insektisida setelah generasi F4. Generasi F2-F4 Ae. aegypti dewasa belum terbentuk kerentanan terhadap Malation 0.8% dan Bendiokarb 0.1%. Kesamaan fenotip Ae. aegypti rentan terhadap Deltametrin 0.025% mulai terbentuk pada generasi F4. Untuk mendapatkan nyamuk Ae. aegypti yang rentan secara homozigot perlu dilakukan pemeliharaan  dan pengujian secara berkelanjutan.

Kata Kunci: Aedes aegypti, insektisida, seleksi indukan tunggal

FULL PAPER IN PDF: Determinasi Strain Larva Aedes aegypti (Linn) Rentan Homozigot Dengan Metode Seleksi Indukan Tunggal

Leave a Reply