Renungan Jumát 33/2016

Sholat Witir

Sholat Witir adalah sholat sunah yang berperan sebagai penutup segala solat yang dilakukan setelah solat Isyak hingga menjelang fajar (subuh). Sholat Witir juga merupakan pelengkap sholat Tahajud atau sholat Tarawih. Rasulullah SAW bersabda: “Akhirilah solat malammu itu dengan Sholat Witir.”   (H.R. Bukhari dan Muslim).

Sholat Witir merupakan sunah muakkad yang amat penting untuk istiqomah dikerjakan. Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan Sholat Witir walaupun sekali. “Sesungguhnya Allah SWT. menganugerahkan kepada kamu sholat yang lebih baik daripada bersedekah beberapa ekor unta yang sempurna dan baik yaitu Sholat Witir.”  (H.R. al Turmudzi dan al Hakim).

Sholat Witir adalah sholat sunnah ganjil, boleh dikerjakan 1 rakaat, 3, 5, 7, 9 atau paling banyak 11 rakaat. Rasulullah SAW bersabda:  “Wahai ahli Al-Quran, kerjakanlah Sholat Witir sebab Allah itu Witir (Ganjil / Maha Esa) dan suka sekali kepada ganjil.”   (H.R. Ahmad, al Turmudzi dan al Hakim).

Sekiranya dirasa tidak akan terbangun mengerjakan sholat Tahajud lagi, maka bolehlah terus mengerjakan sholat Witir sesudah mengerjakan sholat Isya. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa merasa dirinya tidak mampu untuk bangun pada penghujung malam, sebaiknya mengerjakan sholat witir pada awal malam, tetapi bagi siapa yang merasa dirinya mampu dan yakin akan dapat bangun pada penghujung malam, sebaiknya mengerjakan solat witir pada akhir malam, karena solat pada akhir malam itu akan dihadiri oleh para malaikat dan itulah yang lebih utama.”  (H.R. Ahmad, Muslim, Termizi dan Ibnu Majah).

Subhanallah betapa banyak anjuran untuk mengerjakan sholat Witir ini…yuk kita belajar istiqomah mengamalkannya mulai dari tahap pilihan yang ringan..kita raih ridho Allah dengan terus belajar dan belajar menjalankan apa yang diwajibkan dan disunnahkah oleh agama kita….

Tulisan dalam PDF: Renungan Jumát 31 2016

Categories: Artikel agama Islam | Tags: , | Leave a comment

Maluku Tenggara Barat: Saumlaki

Sebelum mengunjungi daerah Saumlaki saya mencari peta Indonesia tercinta. Ternyata daerah yang akan saya kunjungi adalah tergolong Daerah Pulau Terluar Indonesia yang lautnya berbatasan dengan wilayah Australia. Subhanallah Indonesia ini ternyata sangat luas sekali dan kaya sekali kalau semuanya dapat dikelola dengan baik.

Saumlaki adalah ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) Provinsi Maluku yang merupakan kabupaten baru yang berdiri tahun 2002. Wilayahnya mencakup seluruh Kepulauan Tanimbar. Kota Saumlaki terletak di Pulau Yamdena, yang tergolong pulau terbesar di kepulauan Tanimbar. Kabarnya dalam waktu dekat kabupaten ini akan berubah menjadi Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Kalau anda memasuki kota Saumlaki terasa sekali suasana pantai, laut, dengan potensi alam laut yang melimpah. Ikan bakar di sore hari di sepanjang jalan dekat pelabuhan, ramai menjadi santapan warga dan tamu pendatang. Penjualnya sebagian besar adalah pendatang seperti Buton, Makassar, dan Jawa. Oleh karena itu tidak heran ketika waktu subuh atau saat jam-jam solat terdengar alunan adzan dari satu-satunya masjid yang saya jumpai di kota ini.

Di jalan utama di kota ini berderet toko-toko yang dikuasai oleh Cina, demikian juga restoran dan hotel-hotelnya. Mau barang apa saja tersedia di kota ini, meskipun hingga saat ini kebanyakan barang-barang yang masuk ke kota ini berasal dari Surabaya. Semoga saja di masa datang berkembang industri yang dapat mempercepat perkembangan wilayah ini.

Hotel yang anda dapat pilih disini ada Hotel Beringin Dua dengan gaya arsitektur Cina yang cantik dan unik, tetapi saya lebih memilih Hotel Harapan Indah, yang letaknya di jalan utama, di sekitar pertokoan, dan kamar-kamarnya menjorok ke laut, sehingga dapat menikmati segarnya angin laut dan pemandangan pantai dan pelabuhan. Kabarnya setiap tahun pelabuhan Saumlaki menjadi ajang kegiatan Sail Darwin – Saumlaki.

Saat ini Saumlaki sedang banyak melakukan pembangunan yang kelak menjadi kota kabupaten yang maju. Kota ini memiliki posisi yang strategis sebagai kawasan perbatasan antar negara, yaitu dengan Australia.  Semoga kelak menjadi pintu gerbang internasional yang dapat dibanggakan oleh Indonesia tercinta.

Saat ini kota Saumlaki sedang membangun, banyak sarana dan prasarana untuk kemajuan kota ini mulai dibangun. Demikian pula pembangunan sumber daya manusianya, di kota ini ada beberapa sekolah unggulan yang lulusannya bisa menembus perguruan tinggi di luar wilayah Maluku.

Semoga suatu ketika dapat menginjak lagi kota ini…terima kasih ya Allah atas karuniamu selama ini…

Ditulis oleh Upik Kesumawati Hadi, Program Studi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Institut Pertanian Bogor (IPB).

TULISAN LENGKAP DALAM PDF: Maluku Tenggara Barat_Saumlaki..

Suasana kota Saumlaki

Suasana kota Saumlaki

Deretan toko

Deretan toko

Satu toko penjual minyak kayu putih

Satu toko penjual minyak kayu putih

Satu Masjid di kota ini

Satu Masjid di kota ini

Menanti ikan bakar ...

Menanti ikan bakar …

Dabu-dabu...teman ikan bakar

Dabu-dabu…teman ikan bakar

ketupat buton

ketupat buton

Tanda mata dari ibu Chandra selendang khas saumlaki

Tanda mata dari ibu Chandra selendang khas saumlaki

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , , | Leave a comment

Maluku Tenggara Barat: Pulau Yamdena

Pulau Yamdena adalah pulau terluar Indonesia yang pertama kali saya kunjungi, oleh karena itu sangat mengesaankan.  Subhanallah saya sangat bersyukur dapat melihat betapa indahnya negeriku, Indonesia tercinta ini. Pulau Yamdena, yang tergolong pulau terbesar di kepulauan Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Kabupaten Maluku Tenggara Barat merupakan satu di antara sembilan  kabupaten  yang ada di Provinsi Maluku. Kabupaten ini memiliki posisi yang strategis sebagai kawasan perbatasan antar negara, yaitu dengan Australia.  Saat ini daerah kepulauan ini sedang dipersiapkan sebagai pintu gerbang internasional, dan waktu tidk lama lagi akan banyak peluang investasi yang bisa dikembangkan di daerah ini. Potensi yang dapat dikembangkan adalah sektor perikanan dengan ikannya yang melimpah, kehutanan dan perkebunan, tanaman  pangan  dan peternakan. Selain itu, alamnya  yang menyimpan sangat banyak keindahan, kelak akan menjadi  salah  satu  tujuan wisata terkemuka di Indonesia.

Destinasi wisata yang dapat dipromosikan di Pulau Yamdena antara lain adalah Pantai Sifnana, Pantai Weluan, Pantai Eliasa, Komplek Kristus Raja, Pantai Kelyar, dan Air Bomaki.  Monumen Kristus Raja dibangun di Desa Olilit, untuk mengenang sekitar seratus tahun yang lalu, ketika misionaris Katolik dari Belanda pertama kali datang ke Tanimbar. Mereka berlabuh di sana dan menyebarkan agama di sepanjang pantai timur Pulau Yamdena. Oleh karena itu hingga kini, mayoritas masyarakat Desa Olilit Raya beragama Katolik.

Ketika mengunjungi komplek Kristus raja, saya menikmati deburan ombak laut, angin segar laut dan melihat pantai serta lautan Indonesia tercinta yang sungguh mempesona. Tidak heran banyak turis Australia yang sangat menyukai pulau Yamdena.

 

Ditulis oleh Upik Kesumawati Hadi, Program Studi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan IPB, Bogor 2016.

Tulisan lengkap dalam PDF: Maluku Tenggara Barat_Pulau Yamdena

Kepulauan Tanimbar (merah) , pulau-pulau terluar

Kepulauan Tanimbar (merah) , pulau-pulau terluar (Google)

Yamdena, pulau terbesar di kepulauan Tanimbar (Google)

Yamdena, pulau terbesar di kepulauan Tanimbar (Google)

Pantai pasir putih, langit biru bersih, laut nan biru penuh pesona

Pantai pasir putih, langit biru bersih, laut nan biru penuh pesona

Menikmati pesona pantai Kelyar bersama drh Indrawati

Menikmati pesona pantai Kelyar bersama drh Indrawati

Komplek Kristus Raja

Komplek Kristus Raja

Air Bomaki bersama ibu Chandra dan bu Indrawati

Air Bomaki bersama ibu Chandra dan bu Indrawati

melihat proses pembuatan kapal di pantai desa Olilit

Melihat proses pembuatan kapal di pantai desa Olilit

 

Categories: Laporan Perjalanan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Maluku Tenggara Barat: Bandara Mathilda Batlayeri

Bandara Mathilda Batlayeri adalah bandara baru di kota Saumlaki, ibu kota kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku. Bandara ini mulai beroperasi menggantikan bandara lama di Olilit pada tanggal 9 Mei 2014.

Mathilda Batlayeri adalah nama pahlawan perempuan asal Tanimbar yang gugur dalam pertempuran melawan para pemberontak ketika mempertahankan Markas Kepolisian Kurau Kalimantan Selatan pada 28 September 1953.

Kami sempat berfoto-foto di sekitar bandara yang bagi saya sangat spesial. Bandaranya tidak terlalu besar (panjang 1.640 meter dan lebar 30 meter) sehingga bisa didarati pesawat jenis ATR-72. Sejak terbang dari Bandara Pattimura Ambon dengan pesawat Garuda, perasaanku berbunga-bunga karena akan mengunjungi pulau terluar Indonesia.

Sebelum mendarat saya dapat menikmati keindahan pulau-pulau kecil yang tampak dari jendela pesawat, dan sesampai di bandara Saumlaki, rasanya tenang dan nyaman, tidak terlalu banyak hiruk pikuk orang sebagaimana bandara pada umumnya.

Di bandara kami sudah dijemput oleh ibu Chandra, wanita Tanimbar yang cantik, gesit dan ramah. Banyak sekali cerita tentang Tanimbar dan tak terasa kami sudah mengelilingi kota Saumlaki. Sampai ahirnya kamipun bisa mengunjungi anak-anak yang sedang bertugas meneliti vektor dan reservoar penyakit di lapangan.

Ditulis oleh Upik Kesumawati Hadi, Program Studi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan IPB Bogor 2016.

Tulisan lengkap dalam PDF: Maluku Tenggara Barat_Bandara Mathilda Betlayeri

Bandara Mathilda Batlayeri...sepi dan tenang

Bandara Mathilda Batlayeri…sepi dan tenang

Pesawat Garuda ATR yang membawa kami

Pesawat Garuda ATR yang membawa kami

Ibu Chandra yang menjemput kami

Ibu Chandra yang menjemput kami

Tiba di hotel yang menjorok ke pantai

Tiba di hotel yang menjorok ke pantai

Bersama enumerator Rikhus Vektora di Saumlaki

Bersama enumerator Rikhus Vektora di Saumlaki

Pantai yang indah

Pantai yang indah

Semangat para peneliti Rikhus Vektora

Semangat para peneliti Rikhus Vektora

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , , , , | Leave a comment

Manajemen Hama Pengganggu dan Vektor Penyakit di Kawasan Pariwisata

Abstrak Seminar Nasional ke 4 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana, Kupang 25 Oktober 2016

Upik Kesumawati Hadi

Laboratorium Entomologi, Divisi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Bogor.

 

ABSTRAK. Pariwisata di berbagai belahan dunia ini telah melahirkan dampak bagi kehidupan manusia, yaitu sosial ekonomi, budaya dan lingkungan fisik. Di sisi lain lingkungan fisik bersifat rapuh (fragile) dan tak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Dampak negatif seperti pembuangan sampah atau limbah yang dilakukan manusia, mengundang hama pengganggu dan vektor penyakit hadir di lingkungan manusia. Hama Pengganggu adalah makhluk yang dalam pelaksanaan hajat hidupnya bertabrakan dengan hajat hidup dan kepentingan manusia, seperti lalat, kecoa, tikus, sedangkan vektor penyakit adalah kelompok artropoda seperti nyamuk yang dapat memindahkan agen/penyebab penyakit pada manusia atau hewan. Managemen pengendalian yang dapat dilakukan adalah bagaimana menjaga agar populasi hama dan vektor mencapai tingkat yang tidak membahayakan, tidak merugikan atau tidak mengganggu. Hal ini dapat terlaksana apabila berbagai sifat hama/vektor dan faktor-faktor yang mempengaruhi populasinya dipahami dengan seksama. Pengendalian hama dan vektor harus dilakukan secara bijaksana, sejauh yang diperlukan, penuh perhitungan dan kehati-hatian. Pengendalian tidak dilakukan ‘Spray by schedule’ tetapi ‘Spray by  necessity’, juga dipilih cara-cara yang memuaskan dari segi ekonomi, ekologi, sosial.

Kata kunci:  Hama Pengganggu, Vektor, managemen, pariwisata

Abstrak dalam PDF: Manajemen Hama Pengganggu dan Vektor Penyakit di kawasan Pariwisata

Categories: Abstrak dalam Seminar Ilmiah | Tags: , , , | Leave a comment

Keanekaragaman Spesies Lalat Tabanidae Sebagai Vektor Trypanosoma Pada Badak Jawa Di Dua Desa Penyangga Taman Nasional Ujung Kulon

Abstrak Seminar Nasional ke-4 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana, Kupang 25 Oktober 2016

 

Zaenal Gesit Kalbuadi1, Dedy Surya Pahlawan1, Gita Alvernita2, Dyah Lukitaningsih3, Kurnia Oktavia Khairani4, Supriyono5, Upik Kesumawati Hadi5

1 Program Sarjana Fakultas Kedokteran Hewan IPB

2 Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT)

3 Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pandeglang

4 Cornell University

5 Laboratorium Entomologi Divisi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan IPB

 

Abstrak

Badak jawa saat ini sedang terancam kepunahan. Populasi badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang ada saat ini sangat sedikit yaitu 60 ekor. Hasil survey penyakit pada daerah penyangga Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) adalah SE (14%) dan trypanosomiasis dengan prevalensi 90 %. Lalat Tabanidae merupakan salah satu vektor potensial penyebaran trypanosomiasis pada badak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman spesies Tabanidae yang terdapat di desa penyangga kawasan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai dasar pengendalian trypanosomiasis pada badak. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 6 kali pada bulan Januari – Juli 2016 di Desa Rancapinang dan Desa Ujung Jaya menggunakan NZI trap pada 3 titik di setiap desa selama 5-10 hari koleksi. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan mikroskop stereo dengan panduan kunci taksonomi dari Schuuman dan Stekhoven (1926). Lalat tabanidae yang terkoleksi selama penelitian sebanyak 32 spesies. Terdapat 5 spesies dominan selama periode penangkapan yaitu Tabanus megalops, T.  striatus, T. tristis, T. rubidus dan Haematopota truncata. Sampel terbanyak diperoleh pada penangkapan ke-3 yang diikuti dengan tingginya curah hujan pada periode ini. T. megalops merupakan spesies terbanyak yang mendominasi populasi lalat Tabanidae di kedua desa. Pola jumlah populasi berdasarkan curah hujan dapat dijadikan acuan dalam pengendalian lalat sebagai vektor trypanosomiasis.

Kata kunci: Keanekaragaman, Pengendalian, Tabanidae, trypanosoma, Badak Jawa, Ujung Kulon

 

Categories: Abstrak dalam Seminar Ilmiah | Tags: , , , | Leave a comment

Transmisi transovarial virus dengue (DENV) pada Aedes aegypti di daerah Endemis Demam Berdarah Dengue di Jawa Barat

Abstrak Seminar Nasional ke-4 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana, Kupang 25 Oktober 2016

 

Upik Kesumawati Hadi1, Susi Soviana1 dan Sugiarto2

1 Divisi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Jalan Agatis Kampus Darmaga Bogor 16880

2 Subdit Pengendalian Vektor, Direktorat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis, Kementrian Kesehatan, Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta

 

Abstrak

Transmisi transovarial virus dengue (DENV) pada Aedes aegypti dilaporkan sebagai satu mekanisme lain yang turut berperan di dalam penularan demam berdarah dengue (DBD). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi transmisi vertikal pada Ae. aegypti dari daerah endemis DBD di Bogor, Sukabumi dan Tasikmalaya. Sampel nyamuk dikumpulkan dengan menggunakan  dua ovitrap yang dipasang di lima rumah di daerah sekitar kasus. Telur yang diperoleh ditetaskan di laboratorium sampai menjadi dewasa. Deteksi virus dilakukan terhadap nyamuk dewasa dengan menggunakan RT-PCR. Hasil penelitian menunjukkan transmisi transovarial DENV pada Ae. aegypti di tiga wilayah endemik DBD yaitu Bogor, Sukabumi, dan Tasikmalaya memberikan hasil negatif. Tidak terdeteksinya transmisi transovarial DENV pda Ae. aegypti tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor, dan dibahas dalam makalah ini.

Kata Kunci: Aedes aegypti, daerah endemik, demam berdarah dengue,  transmisi transovarial,

Categories: Abstrak dalam Seminar Ilmiah | Tags: , , | Leave a comment

Maluku Utara: Pulau Maitara dan Pulau Tidore

Pulau Maitara dan Pulau Tidore adalah dua pulau indah di Ternate yang gambarnya tertera di dalam uang kertas seribu rupiah. Coba perhatikan ya..dibalik gambar Pahlawan Pattimura ada gambar pemandangan dua gunung dan perahu nelayan. Dan saya dapat melihat gambar pemandangan aslinya dari Pulau Ternate….

Subhanallah …jauh lebih indah melihat aslinya dari pada gambar di uang kertas seribuan. Pantaslah juga kalau kedua pulau tersebut terpampang di mata uang kita

Pemandangan tersebut saya dapatkan dari satu spot di Restoran & Cafe Floridas, yang lokasinya di pinggir laut di Ternate. Sambil duduk menikmati suguhan kuliner Ternate, pemandangan indah dua gunung yang tidak lain merupakan dua pulau yaitu P Maitara dan P Tidore.

Mengapa dua pulau tersebut diabadikan dalam uang kertas? Hal ini tidak lain karena dua pulau tersebut memegang peranan penting pada sejarah Indonesia. Sejarah bermula dari jenis tumbuhan yang sering disebut sebagai rempah-rempah yang terdapat di dua pulau tersebut dan menjadi incaran bangsa penjajah Portugis di abad 16. Bangsa penjajah Portugis pertama kali masuk ke wilayah Kepulauan Nusantara lepas menaklukkan Malaka pada tahun 1512, kemudian beralih ke ke Kepulauan Maluku.

Di Pulau Maitara inilah penjajah Portugis pertama kali menginjakkan kaki di wilayah Maluku. Selanjutnya melalui penaklukan militer dan persekutuan dengan penguasa setempat, mereka mendirikan pos, benteng, dan misi perdagangan di Indonesia Timur dengan rempah-rempah berupa cengkih dan pala sebagai komoditas utamanya.

Bunga cengkih adalah rempah-rempah tertua yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohon cengkih merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dikenal sebagai ‘The Spice Islands’. Sementara itu, pala merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli Indonesia berasal dari wilayah Banda dan Maluku.

Ketika sore hari, pemandangan di Pulau Maitara tampak semakin cantik dengan langit yang kemerahan. Dari rumah makan di pinggir pantai ini, saya juga bisa melihat Gunung Gamalama  yang berselimut rimba hijau, dari areal parkiran.

Ditulis oleh Upik Kesumawati Hadi, Program Studi Parastologi dan Entomologi Kesehatan IPB Bogor 2016

Tulisan Lengkap dalam PDF: Maluku Utara_Pulau Maitara dan P Tidore

P Maitara dan P Tidore, foto terindahku..

P Maitara dan P Tidore, foto terindahku..

Spot pengambilan foto terindahku

Spot pengambilan foto terindahku

Hidangan khas Ternate

Hidangan khas Ternate

Pisang goreng sambal khas Ternate

Pisang goreng sambal khas Ternate

P Maitara dan Tidore diabadikan dalam uang kertas seribuan

P Maitara dan Tidore diabadikan dalam uang kertas seribuan

 

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , , | Leave a comment

Maluku Utara: Benteng Tolukko

Kota Ternate menyimpan banyak benteng-benteng peninggalan zaman penjajahan bangsa asing ketika memasuki Nusantara tercinta ini. Satu di antara benteng-benteng itu adalah Benteng Tolukko yang sempat saya kunjungi ketika ke ternate. Benteng ini sekarang terletak di antara rumah-rumah penduduk, namun masih cukup terawat dengan baik.

Benteng tersebut merupakan tempat pertahanan yang dibangun sejak zaman penjajahan Portugis. Bangunannya sangat kokoh, meskipun dibangun sudah sangat lama sekali atau ratusan tahun yang lampau. Ada parit, tempat perlindungan, bahkan konon ada terowongan bawah laut. Bangunan yang tersisa ini sudah mengalami pemugaran berkali-kali.

Dari atas benteng kita dapat melihat pemandangan rumah penduduk sekitar, pemandangan hamparan laut, dan pulau-pulau yang mengelilingi pulau Ternate. Seperti trend masa kini, berfoto ria, berselfi ria, adalah sesuatu yang lazim dilakukan oleh para pengunjung. Begitupun saya…Alhamdulillah berfoto-foto juga di sini bersama teman-teman…

Ditulis oleh Upik Kesumawati Hadi, PS PEK IPB Bogor 2016.

Tulisan Lengkap dalam PDF: Maluku Utara_Benteng Tolukko.

Gerbang masuk Benteng Tolukko

Gerbang masuk Benteng Tolukko

Pemandangan setelah melewati gerbang

Pemandangan setelah melewati gerbang

Terawat rapi

Terawat rapi

Berpose di atas benteng bersama ibu Sumi

Berpose di atas benteng bersama ibu Sumi

Tampak perumahan pendudu sekitar benteng dan laut biru

Tampak perumahan pendudu sekitar benteng dan laut biru

 

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , | Leave a comment

Maluku Utara: Gunung Gamalama

Gunung Gamalama merupakan satu gunung api terkenal di Provinsi Maluku Utara. Gunung Gamalama memiliki ketinggian sekitar 1.715 m di atas permukaan laut. Kalau anda keluar dari pesawat di Bndara Sultan Baabulah, anda dapat melihat dengan jelas kehadiran gunung tersebut.

Gunung Gamalama ini sejak tahun 1538 M hingga saat ini, telah menyemburkan laharnya lebih dari 70 kali. Terakhir kali, gunung ini memuntahkan isi perutnya pada tahun 2003 namun tidak memakan korban. Kabarnya masyarakat di sana mempunyai ritual mengelilingi Gunung Gamalama setahun sekali dalam bulan April, yang dikenal dengan nama Kololi Kie. Masyarakat mengelilingi Gunung Gamalama, sambil memanjatkan doa untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan rakyat Ternate. Masyarakat setempat meyakini bahwa Gunung Gamalama memiliki banyak nilai-nilai keramat.

Tak heran jika banyak mitos yang beredar, dan semakin memperkuat kekeramatan gunung ini. Misalnya, masyarakat setempat selalu menyarankan pada sebuah tim yang berencana mendaki Gunung Gamalama agar memiliki jumlah anggota yang genap. Lalu sebelum mendaki pun, sebisa mungkin untuk berdoa, agar tidak mengalami halangan dalam perjalanan.

Para pencinta alam umumnya sangat tertarik untuk mendaki gunung ini. Karena disini mereka dapat mendaki sambil menikmati hamparan kebun cengkeh dan pala. Dan ketika sampai di puncak gunung, mereka dapat melihat bentangan Pulau Ternate, dan beberapa pulau lainnya, seperti Pulau Tidore, Pulau Halmahera, dan Pulau Maitara. Sungguh inilah yang menjadi incaran para pendaki gunung. Anda pencinta alam? Bergegaslah..datang, kalau saya cukup puas melihat dari bawah saja….

(Ditulis oleh Upik Kesumawati Hadi, PS Parasitologi dan Entomologi Kesehatan IPB IPB Bogor 2016)

Tulisa lengkap dalam PDF: Maluku Utara_Gunung Gamalama..

Gunung Api Gamalama

Gunung Api Gamalama

Bndara Sultan Baabullah

Bndara Sultan Baabullah

Gamalama tampak dari pelataran bandara

Gamalama tampak dari pelataran bandara

 

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , | Leave a comment