Maluku Utara: Batu Angus

Keindahan pantai di Ternate dapat dinikmati dari beberapa tempat. Selain di pantai Sulamadaha yang terkenal menjadi tujuan wisata, anda dapat mengunjungi daerah Batu Angus.  Batu Angus itu adalah daerah dipinggir pantai dengan hamparan batuan hasil letusan gunung Gamalama yang terjadi pada masa lampau tepatnya di tahun 1673. Batuan tersebut sesungguhnya merupakan lava yang sudah mongering dan mengeras sepertihingga menjadi onggokan batuan berwarna hitam.

Batu Angus berada tepatnya berada di Kelurahan Tarau, Kecamatan Kota Ternate Utara, persis  di bawah kaki Gunung Gamalama. Disini pengunjung dapat menikmati onggokan bebatuan sambil melihat birunya terbentang , serta angin laut yang menyejukkan. Sementara itu, kalau menengok ke belakang, pengunjung dapat melihat sebuah pemandangan gunung Gamalama yang mempesona.

Cuaca yang panas di Batu Angus tidak mengalahkan kita untuk tetap bertahan di pinggir pantai di sekitar hamparan Batu Angus. Berfoto ria atau selfi dan tawa canda dapat melunturkan rasa panas yang terasa menjalari tubuh. Sungguh indah sekali pemandangan disini…Subhanallah, begitu sempurna ciptaanmu ya Allah…

(Ditulis oleh Upik Kesumawati Hadi, PS Parasitologi dan Entomologi Kesehatan IPB IPB Bogor 2016)

Tulisan Lengkap dalam PDF: Maluku Utara_Batu Angus

Bibir pantai di Batu Angus

Bibir pantai di Batu Angus

Mengabadikan keindahan pantai

Mengabadikan keindahan pantai

Satu di antara onggokan lava yang mengeras

Satu di antara onggokan lava yang mengeras

Monumen Batu Angus

Monumen Batu Angus

Birunya laut...nan tenang

Birunya laut…nan tenang

hamparan lava yang membatu

hamparan lava yang membatu

 

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , , | Leave a comment

Maluku Utara: Danau Tolire

Kalau anda ke Ternate jangan lewatkan momen yang penting yaitu mengunjungi Danau Tolire. Danau Tolire adalah sebuah danau indah di wilayah Ternate, Maluku Utara. Dari pusat kota Ternate jaraknya sekitar 10 km. Danau Tolire ini terletak di bawah kaki Gunung Gamalama, gunung api tertinggi di Maluku Utara. Danau tersebut terdiri atas Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil yang jaraknya kira=kira ±200 meter.

Danau Tolire Besar ini bentuknya seperti baskom raksasa. Dari atas hingga ke permukaan air danau memiliki jarak sekitar ±50 meter dan luas danau yakni sekitar ±5 hektar. Kedalaman danau tersebut secara pasti hingga kini tidak diketahui. Karena sampai dengan saat ini belum ada yang berani mengukur kedalaman danau ini. Namun menurut cerita leluhur, kedalamannya berkilo-kilometer dan berhubungan langsung dengan laut.

Keindahan Danau Tolire sangat mengagumkan, dan juga mempunyai sejarah unik dan mengandung banyak misteri. Menurut kepercayaan masyarakat Ternate, Danau Tolire Besar dan Tolire Kecil, dulunya adalah sebuah negeri (desa atau perkampungan) yang penduduknya hidup dengan damai dan sejahtera. Suatu ketika terjadilah peristiwa yang menggemparkan penduduk negeri, yaitu ada seorang penduduk menghamili anak gadis kandungnya sendiri.  Menurut kepercayaan mereka hal tersebut selain membuat aib bagi negeri tersebut juga akan mendatangkan musibah

Hal ini membuat seluruh penduduk negeri menjadi marah.  Amarah masyarakat tersebut ditujukan kepada ayahnya dan anak gadisnya. Keduanya dihukum dan diusir dari negeri. Keduanya kemudian keluar dari negeri tersebut. Namun, saat mereka melangkahkan kaki pergi dari negeri tersebut, terjadilah suatu peristiwa alam yang aneh (gempa bumi yang tiba-tiba), dan di tempat keduanya berpijak seketika terbelah menjadi dua danau. Keduanya tenggelam dalam danau besar dan kecil. Satu danau besar kemudian disebut Tolire Besar (Lamo) menggambarkan sang ayah. Satu lagi danau kecil disebut Tolire Kecil (Ici) yang mencerminkan sang anak gadis tersebut. kedua buah Danau Tolire tersebut terbentuk hingga sekarang ini.

Danau Tolire yang indah ini juga memiliki kisah mistis, katanya dihuni oleh Buaya Putih yang panjangnya sekitar 10 meter dengan jumlah ratusan dan makhluk halus lainnya. Buaya Putih ini diyakini sebagai penjaga Danau Tolire dan sering menampakan wujudnya bagi masyarakat setempat dan pengunjung tertentu. Tidak semua orang dapat melihat Buaya Putih ini karena menurut cerita masyarakat setempat Buaya Putih ini hanya menampakan wujudnya bagi masyarakat tertentu yang memiliki hati yang bersih dan tidak memiliki niat jahat.

Suasana mistik sangat terasa melihat posisi danau yang di bawah gunung, suasana alam yang sunyi, dan adanya larangan-larangan yang ada bagi pengunjung. Pengunjung yang datang ke sini dilarang untuk mandi, berendam, berenang, ataupun memancing di Danau Tolire karena masyarakat setempat meyakini bahwa siapapun yang mencoba beraktifitas ataupun mengganggu Danau Tolire ini akan menjadi mangsa Buaya Putih.

Cerita mistis tersebut, diperkuat dengan kenyataan yaitu jika kita mengunjungi Danau Tolire ini dan melemparkan batu ke arah danau, tidak akan ada batu yang dapat menyentuh permukaan danau ini. Sekuat apapun anda melempar batu tidak akan sampai menyentuh permukaan Danau Tolire. Ini sebuah fakta yang benar-benar terjadi. Telah ratusan bahkan ribuan batu yang dilempar oleh pengunjung, tetapi menghilang dengan sendirinya sebelum sampai atau menyentuh permukan Danau.

Saya pernah mencoba melemparnya sendiri dengan membeli batu yang banyak dijual di pinggir danau oleh anak-anak maupun orang dewasa yang berkisar Rp. 5000 – Rp. 20.000. Setelah itu menikmasi pisang goreng hangat, adalah sebuat sensasi tersendiri…..alhamdulillah…

(Ditulis dari berbagai sumber oleh Upik Kesumawati Hadi PS PEK IPB Bogor 2016)

Tulisan Lengkap dalam PDF: Maluku Utara_ Danau Tolire

Danau Tolire yang penuh misteri

Danau Tolire yang penuh misteri

Suasana sekitar danau di sore hari

Suasana sekitar danau di sore hari

Di pinggir danau yang tenang

Di pinggir danau yang tenang

 

 

 

 

Categories: Laporan Kegiatan, Laporan Perjalanan | Tags: , | Leave a comment

Renungan Jum’at 32/2016

Puasa Muharram

Tanggal 9 dan 10 Muharam disunahkan berpuasa dan dikenal dengan puasa Tasyua dan Assyura (Muharram). Puasa-puasa tersebut mempunyai banyak keberkahan di antaranya dosa kita pada tahun yang lalu di ampuni oleh Allah. Bulan Muharram merupakan bulan yang oleh Allah termasuk satu bulan yang diistimewakan dari empat bulan haram yang telah Allah muliakan. Secara khusus Allah melarang berbuat zalim pada bulan ini untuk menunjukkan kehormatannya.  Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. Al-Taubah: 36). Larangan berbuat dzalim pada bulan-bulan ini menunjukkan bahwa dosanya lebih besar daripada dikerjakan pada bulan-bulan selainnya. Sebaliknya, amal kebaikan yang dikerjakan di dalamnya juga dilebihkan pahalanya.

Berpuasa pada hari ke sepuluh (Puasa ‘Asyura) bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Disunnahkan juga berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu tanggal sembilan Muharram yang dikenal dengan Puasa Tasu’a. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’ Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah wafat.” (HR. Muslim).

Atas dasar hadis tersebut, Imam al-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya, berkata “Disunnahkan berpuasa pada hari ke sembilan dan ke sepuluh secara  keseluruhan, karena Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam telah berpuasa pada hari ke sepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”

Imam al-Nawawi rahimahullaah menjelaskan ada tiga hikmah dianjurkannya puasa  Tasu’a: Pertama, maksud disyariatkan puasa Tasu’a untuk menyelesihi orang Yahudi yang berpuasa hanya pada hari ke sepuluh. Kedua, maksudnya adalah untuk menyambung puasa hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja. Ketiga, untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari ke sembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari ke sepuluh.

 

(Ditulis ulang oleh Upik Kesumawati Hadi, dari berbagai sumber tulisan, untuk diri sendiri dan semoga bermanfaat untuk orang lain)

TULISAN DALAM PDF: Puasa Muharram

Categories: Artikel agama Islam | Tags: , , | Leave a comment

Keanekaragaman jenis dan karakteristik habitat nyamuk Anopheles spp. di Desa Datar Luas, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh

Keanekaragaman jenis dan karakteristik habitat nyamuk Anopheles spp. di Desa Datar Luas, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh

http://pei-pusat.org/jurnal/index.php/jei/article/view/225

Jurnal Entomologi Indonesia Vol 12, No 3 (2015)

 Riski Muhammad, Susi Soviana, Upik Kesumawati Hadi

 Abstract

Malaria is a mosquito borne disease which still holds an impact position in public health sector in Indonesia. The aims of this research are to study the diversity, density and behaviour of Anopheles, mapping its larvae habitat, and to measure the knowledge, attitudes and practices of the community in malaria endemic area at Datar Luas Village, Sub District Krueng Sabee, Aceh Jaya Regency. Mosquito trapping was done by landing collection inside and outside the house from 06:00 pm to 06:00 am WIB. In addition, larvae were collected and the coordinates of potential larva habitats were marked. There were eleven spesies of Anopheles, which were 45.9%, An. barbirostris and An. minimus 8.1%, An. maculatus, An. letifer, An. teselatus, An. sinensis, An. vagus, An. separatus 5.4%, An. sundaicus and An. subpictus 2.7%. The highest blood feed activity of An. kochi happened on 00:00–01:00 am WIB, An. minimus and An. barbiostris on 01:00–02:00 a.m WIB. There were four types of larvae i.e. pond, rain pudlles, marshes, and old well. An. letifer was found in pond, An. barumbrosus and An. kochi were in rain puddles, An. kochi, An. aconitus, An. vaguswere in them arshes, and An. separatuswas in old well.

Keywords: Anopheles, breeding place, density of mosquitoes, malaria

Full Paper dalam PDF: Keanekaragaman jenis dan karakteristik habitat nyamuk Anopheles spp. di Desa Datar Luas, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh

Categories: Abstrak dan Artikel ilmiah, Laporan Kegiatan | Tags: , , , | Leave a comment

Keragaman Jenis dan Prevalensi Lalat Pasar Tradisional di Kota Bogor

Keragaman Jenis dan Prevalensi Lalat Pasar Tradisional di Kota Bogor  (DIVERSITY AND PREVALENCE OF FLIES AT TRADITIONAL MARKETS IN BOGOR CITY)

Jurnal Veteriner Desember 2015, Vol 16 No 4: 474-482, DOI 10.19087/jveteriner.2015.16.4.474, http://ejournal.unud.ac.id/php.index/jvet

Puguh Wahyudi1, Susi Soviana2, Upik Kesumawati Hadi2

1 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian Republik Indonesia, Jln. Harsono RM No 3, Ragunan, Jakarta Selatan 12550

2 Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Jln Agathis, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat. 16680. Telp.0251-8421784, Email : puguhkesmavet@gmail.com

 ABSTRAK

Kota Bogor merupakan salah satu wilayah Jabodetabek yang memiliki pertumbuhan pasar modern yang tinggi. Hal ini seharusnya tidak menggeser peran pasar tradisional, apabila disertai dengan peningkatan jumlah dan mutu pasar tradisional, antara lain pengendalian infestasi lalat di pasar yang dapat menjadi vektor berbagai macam penyakit.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman jenis lalat dan mengukur prevalensi infestasi lalat di lima pasar tradisional besar di Kota Bogor. Pengambilan sampel lalat menggunakan tangguk serangga (sweeping net) di setiap lokasi pasar. Lalat yang tertangkap dimatikan dengan kloroform dan diidentifikasi menggunakan kunci identifikasi lalat. Pengukuran prevalensi infestasi lalat di setiap lokasi pasar menggunakan fly sticky paper yang dipasang di blok penjualan daging, blok penjualan ikan dan lingkungan luar. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat sepuluh spesies lalat dari empat famili utama yaitu Famili Calliphoridae (Chrysomya megacephala, C. saffranea, C. rufifacies, dan Lucilia sericata), Muscidae (Musca domestica, M. conducens, dan M. fasciata), Sarcophagidae (Sarcophaga haemorroidalis, dan S.fuscicauda),dan Drosophilidae (Drosophila repleta). Tiga famili lalat lainnya adalah Phoridae, Anthomyiidae, dan Syrphidae. Indeks keragaman jenis lalat pada masing-masing pasar adalah1,203 (Pasar Kota Bogor), 1,038 (Pasar Sukasari), 2,678 (Pasar Anyar), 1,017 (Pasar Jambu Dua), dan 1,618 (Pasar Gunung Batu). Pengukuran prevalensi infestasi lalat Calliphoridae sebagai indikator keberadaan sampah pembusukan bahan organik menunjukkan angka yang tinggi pada lingkungan pasar. Hasil ini menggambarkan pada umumnya sanitasi lingkungan pasar tradisional yang buruk.

Kata-kata kunci : Calliphoridae, Kota Bogor, lalat, Muscidae, pasar tradisional.

 

ABSTRACT

Bogor city is one of the greater Jabodetabek area which has a fairly high growth of the modern market.This should not shift the role of traditional market, if accompanied with an increase in the number and quality of traditional markets, among others by controlling infestations of flies on the market that can be a vector of various diseases.This research was conducted to identify the diversity and infestation of flies species in five old Bogor traditional markets. The flies were collected using insect nets and then killed with chloroform to count and identification purposes. Measuring the prevalence of flies infestation in each market were using sticky fly paper on block sale of meat, fish and outside market environment. There were ten fly species belong to four main families that Calliphoridae (C. megacephala, C. saffranea, C. rufifacies, and Lucilia sericata), Muscidae (M. domestica, M. conducens, and M. fasciata), Sarcophagidae (S. haemorroidalis, and S. fuscicauda), and Drosophilidae (Drosophila repleta). The others three families were Phoridae, Anthomyiidae, and Syrphidae. Fly diversity index on each markets were 1.203 (Bogor Market),1.038 (Sukasari Market), 2.678 (Anyar Market), 1.017 (Jambu Dua Market), and 1.618 (Gunung Batu Market). Measurement of Calliphorid flies infestations as an indicator of the presence of litter decomposition of organic material showed a high concentration in the market environment.These results illustrate the general environmental sanitation of traditional markets are bad.

Keywords: Bogor; Calliphoridae; fly; Muscidae; tradisional market

FULL PAPER  DALAM PDF: Keragaman jenis dan prevalensi lalat pasar tradisional di Kota Bogor

Categories: Abstrak dan Artikel ilmiah | Tags: , , , , | Leave a comment

Halau Nyamuk Aedes aegypti Penyebar Virus Zika

https://cantik.tempo.co/read/news/2016/09/06/336802103/halau-nyamuk-aedes-aegypti-penyebar-virus-zika

Selasa, 06 September 2016 | 18:24 WIB

TEMPO.CO, Jakarta –  Virus zika ditularkan oleh nyamuk terutama Aedes aegypti yang juga dikenal sebagai vektor dengeu, yellow fever, dan chikungunya. Vektor definitif maupun potensial ini banyak terdapat di Afrika, Amerika, Asia, Eropa dan Kepulauan Pasifik.

Hasil penelitian menunjukkan Aedes aegypti adalah nyamuk yang tangguh, tidak hanya mampu bertelur di tempat yang jernih, tapi juga bisa bertelur di air yang berpolusi. Nyamuk ini mudah beradaptasi dengan lingkungan. Nyamuk jenis ini dianggap bisa hidup di siang maupun malam hari.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) Upik Kesumawati menambahkan, nyamuk mudah dikendalikan dengan mengubur, menguras dan menghilangkan wadah yang mengandung air serta menerapkan pola hidup sehat dan lingkungan yang bersih.

Dia menghimbau agar masyarakat membersihkan tempat penampungan air, minimal seminggu sekali dan gosok hingga bersih karena telur Aedes aegypti menempel di dinding wadah.

“Istimewanya telur Aedes aegypti bisa bertahan hidup walaupun tidak ada air. Telurnya tahan kering, begitu ada air hujan dia berkembang lagi. Beda dengan nyamuk lain kalau tidak ada air akan mati. Intinya adalah menutup wadah air,” katanya.

Upik mengingatkan bahwa penyebaran virus zika harus diwaspadai dengan cara mencegahnya mulai di sekitar lingkungan. Menurutnya, hampir di setiap lingkungan rumah penuh dengan wadah air yang bisa mengakibatkan aedes aegypti berkembang dan memunculkan virus zika.

“Hasil pengamatan jentik di beberapa daerah menunjukkan angka bebas jentik di Bogor masih jauh dari standar pemerintah. Rata-rata baru mencapai 17-18 persen,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.com, Jumat, 2 September 2016.

Sedangkan pakar virus FKH IPB Surachmi Setyaningsih mengatakan dengan terdeteksinya virus zika di Singapura, maka Indonesia harus waspada karena potensi penularannya sangat tinggi, yakni nyamuk aedes aegypti.

“Ini adalah faktor risiko yang kami anggap penting. Harus digarap serius dan tidak bisa parsial,” ujarnya.

Saat ini Singapura sudah melaporkan adanya serangan virus zika pada manusia. Karena ada isu bahwa virus ini kemungkinan ada hubungan dengan bayi yang akan dilahirkan, mereka mendeteksi walaupun gejalanya ringan seperti demam, mata merah, bercak merah (seperti demam berdarah).

“Singapura dengan kita kan dekat, saya kira nyamuknya tidak berbeda jauh spesiesnya dengan kita. Mereka yang sanitasinya bagus bisa tertular, maka kita harus siap dan tingkatkan kewaspadaan,” imbuhnya.

Seperti diketahui, penyebaran virus zika sudah diketahui sejak tahun 1947 dan pertama ditemukan pada monyet di Afrika.

Setelah itu, virus ini diketahui menyebar ke Asia. Selanjutnya, pada tahun 2007 mulai banyak menular dan menyebar ketika akhir 2014 hingga 2015 bahkan sampai sekarang masih ada.

Virus ini seakan-akan pernah menghilang dan muncul kembali. Sampai saat ini, virus zika menginfeksi primata, belum ada bukti menginveksi ternak dan belum ada vaksinnya.

 

 

 

Categories: Berita Media Masa | Tags: , | Leave a comment

Waspada Virus Zika

Guru Besar IPB: Waspada Virus Zika

Minggu, 4 September 2016

http://news.ipb.ac.id/news/id/1d7969c00b02d7fad5e70b7852f70e9a/Guru-Besar-IPB-Waspada-Virus-Zika.html

Penyebaran virus zika sudah diketahui sejak tahun 1947 dan pertama ditemukan pada monyet di Afrika. Setelah itu, virus ini diketahui menyebar ke Asia. Selanjutnya, pada tahun 2007 mulai banyak menular dan meletus ketika akhir 2014 hingga 2015 bahkan sampai sekarang masih ada.

Virus ini seakan-akan pernah menghilang dan muncul kembali. Sampai saat ini, virus zika menginfeksi primata, belum ada bukti menginveksi ternak dan belum ada vaksinnya. Virus ini ditularkan oleh nyamuk terutama Aedes aegypti (vektor dengue, yellow fever, chikungunya). Vektor definitif maupun potensial banyak terdapat di Afrika, Amerika, Asia, Eropa dan Kepulauan Pasifik.

Menurut pakar di bidang virus Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Surachmi Setyaningsih, dengan terdeteksinya virus zika di Singapura, Indonesia harus waspada karena potensi penularannya sangat tinggi, yakni nyamuk Aedes aegypti-nya ada, lingkungan mendukung dan kepedulian masyarakatnya kurang. “Ini adalah faktor risiko yang kami anggap penting. Harus digarap serius dan tidak bisa parsial,” ujarnya.

Dikatakannya, saat ini Singapura sudah melaporkan adanya serangan virus zika pada manusia. Karena ada isu bahwa virus ini kemungkinan ada hubungan dengan bayi yang akan dilahirkan, mereka mendeteksi walaupun gejalanya ringan seperti  demam, mata merah, bercak merah (seperti demam berdarah). “Singapura dengan kita kan dekat, saya kira nyamuknya tidak berbeda jauh spesiesnya dengan kita. Mereka yang sanitasinya bagus bisa tertular, maka kita harus siap dan tingkatkan kewaspadaan,” imbuhnya.

Penyebaran virus zika harus diwaspadai karena manusia menyediakan habitatnya. Lingkungan rumah dan sekeliling kita penuh dengan wadah air yang bisa mengakibatkan Aedes aegypti berkembang. Ada kaleng bekas, ada sisa barang yang menumpuk di dalam rumah kita dan menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Selama ini masyarakat sudah tahu bahwa mereka menyediakan air yang bisa menjadi tempat berkembang biak Aedes aegypti. Namun kepedulian terhadap lingkungannya sangat rendah sekali. “Hasil pengamatan jentik di beberapa daerah menunjukkan angka bebas jentik di Bogor masih jauh dari standar pemerintah. Rata-rata baru mencapai 17-18 persen,” imbuh Prof.Dr. Upik Kesumawati, pakar di bidang nyamuk FKH IPB.

Hasil penelitian menunjukkan Aedes aegypti adalah nyamuk yang tangguh, tidak hanya mampu bertelur di tempat yang jernih, tapi juga bisa bertelur di air yang berpolusi. Nyamuk ini mudah beradaptasi dengan lingkungan. Perilaku nyamuk Aedes aegypti yang dianggap nyamuk siang hari ternyata hasil riset menemukan nyamuk ini ditemukan pada malam hari. Ini adalah perubahan perilaku adaptif dari Aedes aegypti.

Menurut Prof Upik, nyamuk mudah dikendalikan asal kitanya mau. Kendalikan vektor Aedes aegypti dengan 3 M plus yakni mengubur, menguras dan menghilangkan wadah yang mengandung air. Pola hidup sehat dan lingkungan yang bersih. Bersihkan tempat penampungan air, minimal seminggu sekali dan gosok hingga bersih karena telur Aedes aegypti menempel di dinding wadah.

“Istimewanya telur Aedes aegypti bisa bertahan hidup walaupun tidak ada air. Telurnya tahan kering, begitu ada air hujan dia berkembang lagi. Beda dengan nyamuk lain kalau tidak ada air akan mati. Intinya adalah menutup wadah air,” pungkasnya.(Zul)

 

 

Categories: Berita Media Masa | Tags: , | Leave a comment

Nasi Kuning Saroja

Di Menado kita dapat menikmati lezatnya nasi kuning yang dikenal dengan nama Nasi Kuning Saroja. Rasa nasi kuningnya tidak jauh berbeda dengan nasi kuning yang biasa kita temui di Jawa atau di tempat lain, tetapi yang membedakannya adalah lauk-pauk pendampingnya.  Nasi kuning khas manado ini dilengkapi dengan suwiran daging sapi yang manis, abon ikan cakalang, “semur” kentang, kentang kering dan telur rebus sebagai pilihannya. Ini semua disempurnakan dengan sambal pedas yang tersedia di tiap meja. Anda bisa menikmatinya dengan harga satu porsinya sekitar Rp10.000,- sd Rp18.000,- di warung-warung. Tetapi anda juga dapat membelinya untuk dibawa pulang dan dalam “packaging” yang cantik. Nasi kuning ini dibungkus dengan menggunakan daun woka (lontar) yang memiliki bentuk unik (Upik Kesumawati Hadi, September 2016).

Tulisan dalam PDF: Nasi Kuning Saroja

Nasi kuning dalam daun woka

Nasi kuning dalam daun woka

Nasi kuning bungkus daun woka

Nasi kuning bungkus daun woka

 

 

 

Categories: Laporan Perjalanan | Tags: , | Leave a comment

Ikan Cakalang Fufu

Ikan cakalang adalah ikan air laut yang terkenal disukai masyarakat Manado karena dagingnya yang padat serta memiliki rasa yang khas. Ikan cakalang selain rasanya lezat, juga memiliki banyak manfaat terlebih kandungan proteinnya sangat tinggi serta mengandung omega 3 yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Oleh karena itu, ikan cakalang bernilai komersial tinggi, dan dijual dalam bentuk segar, beku, atau diproses sebagai ikan kaleng, ikan kering, atau ikan asap. Baik di Manado maupun di Maluku, ikan cakalang umumnya diawetkan dengan cara pengasapan, sehingga disebut ikan cakalang fufu (cakalang asap).

Bila anda ingin mencari ikan cakalang fufu, cukup datang ke pasar khusus ikan cakalang fufu yang letaknya di kota Menado. Lokasinya di jalan Achmad Yani, Sario Manado, cukup bersih dan mudah dijangkau, serta memiliki area parkir yang luas. Di sini ada sekitar 10 toko yang menjual ikan cakalang fufu, ikan roa kering, bakasang sambal ikan roa dan lain-lain.

Pasar ikan tersebut ramai dikunjungi turis domestik maupun mancanegara. Barang yang telah dibelipun oleh penjual akan dipak dengan rapi sehingga aman ketika masuk bagasi pesawat terbang. Nah…jangan lupa bawa oleh-oleh ikan cakalang fufu, dan sampai rumah langsung digoreng dan makan dengan sambal roa, atau dibuat masakan khas Manado Ikan Cakalang Fufu bumbu pedas. Resepnya silakan anda coba berikut ini:

Bahan-bahan: Ikan Cakalang Fufu Bumbu Pedas

~ 3 sendok makan minyak untuk menumis
~ 500 gram daging ikan cakalang asap
~ 2 batang serai, di memarkan
~ 1 buah jeruk limau, ambil airnya saja
~ 1 ikat daun kemangi, ambil daun nya
~ 5 lembar daun jeruk, di iris2 halus
~ 2 cm lengkuas, di memarkan
~ 3 cm jahe, di memarkan

Bahan bumbu-bumbu halus:

~ 1 sendok teh terasi bakar(harus di bakar)
~ 8 buah cabai merah
~ 1 sendok teh garam
~ 7 buah cabai rawit merah
~ ½ sendok teh gula pasir
~ 8 buah bawang merah

Cara membuat :

Tahap 1. Suwir-suwir daging ikan cakalang, goreng sebentar kemudian sisihkan
Tahap 2. Tumis bumbu halus, jahe, serai, daun jeruk, lengkuas sambil diaduk-aduk sampai harum
Tahap 3. Masukkan suwiran ikan cakalang, aduk-aduk rata. Masak sambil diaduk sampai bumbu2nya meresap
Tahap 4. Tambahkan kemangi dan air jeruk limau, aduk rata. Kemudian di masak sampai matang

Semoga Bermanfaat…(Upik Kesumawati Hadi, September 2016)

TULISAN DALAM PDF: Ikan Cakalang Fufu

Tumpukan ikan Cakalang Fufu

Tumpukan ikan Cakalang Fufu

Penjual di pasar ikan

Penjual di pasar ikan

Ikan Roa

Ikan Roa

Sambal Roa ...

Sambal Roa …

Bekasang atau terasi manado

Bekasang atau terasi manado

Categories: Laporan Perjalanan | Tags: , , , | Leave a comment

Perubahan iklim ubah perilaku nyamuk Aedes aegypti

Sabtu, 19 Maret 2016 10:49 WIB | 12.220 Views

Pewarta: Laily Rahmawati.

Pengasapan Nyamuk (Antara Foto Syahrul Manda tikupadang)

Pengasapan Nyamuk (Antara Foto Syahrul Manda tikupadang)

http://www.antaranews.com/berita/550862/pakar-perubahan-iklim-ubah-perilaku-nyamuk-aedes-aegypti.

Bogor (ANTARA News) – Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Upik Kesumawati Hadi mengungkapkan bahwa perubahan iklim telah mengubah perilaku nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD).

“Kehidupan Aedes aegypti dipengaruhi oleh perubahan iklim, jika suhu meningkat nyamuk dapat hidup lebih aktif dan menularkan virus DBD dengan lebih cepat,” kata Prof Upik dalam orasi Ilmiah Guru Besar IPB di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

Ia mengatakan Aedes aegypti adalah nyamuk yang mudah beradaptasi dengan baik. Larvanya yang semula hanya menempati habitat domestik, terutama penampungan air bersih di dalam rumah, kini mampu berkembang di wadah-wadah air yang mengandung berbagai macam polutan.

“Seperti yang terjadi di Komplek IPB Dramaga, pada tahun 1990 masih dihuni Aedes albopictus, tetapi sejak 2002 hingga sekarang sudah didominasi oleh Aedes aegypti. Keduanya kini berperan sebagai vektor primer dan sekunder DBD,” katanya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, nyamuk Aedes aegypti juga mengalami perubahan perilaku mengisap darah yang semua hanya aktif di siang hari (diurnal), kini juga aktif di malam hari (nokturnal).

“Kondisi ini menuntut kita untuk lebih waspada terhadap nyamuk ini yang juga mempunyai sifat mudah terusik, mampu berpindah-pindah dari satu orang ke orang lain, dan menjadi vektor yang efisien dalam meningkatkan risiko penularan DBD,” katanya.

Ia menjelaskan, pengendalian vektor DBD saat ini masih mengutamakan cara kimiawi seperti melalui penyemprotan insektisida (ULV dan fogging), larvasidasi, serta penggunaan insektisida rumah tangga.

Menurutnya, penggunaan insektisida yang sama secara terus menerus dapat menimbulkan resistensi populasi melalui seleksi, yakni menghilangkan individu nyamuk yang rentan dan menyisakan individu-individu yang tahan.

“Belum lagi kemungkinan mutasi gen yang dapat terjadi akibat pemaparan terhadap insektisida. Ini dapat menjadi faktor yang menyebabkan gagalnya upaya pengendalian vektor,” katanya.

Hasil penelitian dari tahun 2014 hingga 2015, jelasnya, menunjukkan Aedes aegypti dari 35 kelurahan (35 galur) di Kota Bogor telah resisten terhadap tiga golongan insektisida yang umum dipakai dengan status berbeda yakni 74 persen galur nyamuk berstatus resisten terhadap melation (golongan organofosfat), 63 persen galur resisten terhadap bendiokarb (golong organokarbamat), 86 persen galur resisten terhadap deltametrin (golongan piretroid sintetik) dan 80 persen galur resisten ganda atau lebih dari satu golongan insektisida.

“Dinas Kesehatan Kota Bogor harus berhati-hati dalam menentukan insektisida yang akan digunakan untuk pengendalian vektor di daerah yang sudah toleran dan resisten,” katanya.

Manajemen resistensi yang dapat diterapkan, lanjutnya, adalah rotasi penggunaan insektisida serta hanya digunakan saat diperlukan. Telah tersedia peta resistensi di satu daerah yang dapat membantu dinas terkait untuk melakukan pengendalian vektor demam berdarah.

Menurut Prof Upik, penting untuk memahami bioekologi nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor DBD agar masyarakat maupun dinas terkait waspada terhadap penularan penyakit yang tergolong berbahaya tersebut.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Pentingnya Pemahaman Bioekologi Vektor Demam Berdarah Dengue dan Tantangan Dalam Upaya Pengendelian” ia memaparkan, peranan nyamuk sebagai vektor penyakit berkaitan erat dengan hubungan segitiga antara nyamuk, agen penyakit, dan inangnya (orang).

“Kondisi bioekologi vektor amat berperan menentukan pola kejadian penyakit DBD di satu wilayah tertentu, seperti menimpa segmen populasi mana, dan bagaimana pola penularannya,” katanya.

Gaya hidup manusia modern, lanjutnya, banyak menciptakan habitat baru bagi nyamuk Aedes untuk berkembang biak di lingkungan permukiman. Data hasil penelitian di delapan lokasi menunjukkan angka bebas jentik 17,8-88,5 persen, yang artinya ada peluang terjadinya transmisi penyakit.

“Untuk bebas transmisi DBD di suatu daerah diperlukan angka bebas jentik di atas 95 persen,” katanya.

Prof Upik menambahkan, rendahnya kepedulian dan tingginya mobilitas masyarakat mengakibatkan pengendalian vektor DBD tidak berjalan optimal. Sehingga perlu pendidikan dan pelatihan, mengingat kompleksnya permasalahan vektor.

“Pengendalian vektor menjadi pilihan utama untuk menekan DBD sepanjang pendekatan dengan vaksinasi belum berhasil. Upaya pencegahan nyamuk dengan 3M plus tidak cukup tetapi 4M yakni menguras, menutup, mengubur dan memantau,” katanya.

http://www.antaranews.com/berita/550862/pakar-perubahan-iklim-ubah-perilaku-nyamuk-aedes-aegypti.

Categories: Berita Media Masa | Tags: , | Leave a comment